Suara.com - Kanker payudara merupakan penyakit yang menakutkan bagi perempuan. Namun, ada secercah harapan untuk mencegah penyakit ini.
Dan, tahukah Anda bahwa tingkat kematian akibat kanker payudara menurun sebesar 38 persen sejak 1989?
“Berkat kemajuan dalam deteksi dan pengobatan, perempuan tidak hanya hidup lebih lama, mereka juga memerlukan operasi dan terapi yang kurang invasif,” kata Theresa Bevers, MD, direktur medis dari Pusat Pencegahan Kanker di MD Anderson Cancer Center di Houston, Amerika Serikat.
Dilansir dari laman Health, inilah beberapa hal yang perlu Anda ketahui tentang kabar terbaru dari kanker payudara.
Diet berperan dalam pencegahan kanker payudara
Kesadaran perempuan untuk hidup lebih sehat, sepertinya menjadi faktor penting dalam pencegahan kanker payudara. Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan pada Maret tahun ini, perempuan postmenopause yang pola makannya mendekati diet Mediterania, 40 persen lebih kecil kemungkinannya untuk mengembangkan kanker payudara reseptor estrogen negatif.
Tak hanya itu, perempuan yang paling mengikuti pola makan nabati, memiliki risiko 15 persen lebih rendah terkena kanker payudara, dibandingkan dengan perempuan yang paling sedikit mengikutinya, demikian kata sebuah studi pada tahun 2013 di The American Journal of Clinical Nutrition.
“Ini mungkin sebagian disebabkan oleh fakta bahwa pola makan nabati kaya akan fitonutrien dan antioksidan yang dapat melindungi tubuh dari kanker,” kata Dr. Bevers dikutip dari Meet Doctor.
Jadi, tidak ada alasan lagi untuk mengabaikan sayuran segar, buah-buahan, kacang polong, dan biji-bijian.
Tidak semua orang memerlukan operasi
Setiap tahun, lebih dari 50.000 perempuan Amerika didiagnosis dengan karsinoma duktal in situ (DCIS) di mana sel abnormal ditemukan di dalam saluran susu di payudara. Bisa dibilang DCIS adalah jenis yang paling umum dari kanker payudara non-invasif (belum menyebar).
Biasanya mereka yang didiagnosis DCIS, ditangani dengan melakukan mastektomi atau lumpektomi (seringkali, tapi tidak selalu, terapi ini dipasangkan dengan radiasi).
Namun, sebuah studi pada 2015 di JAMA Surgery menemukan bahwa perempuan dengan DCIS kelas rendah yang tidak menjalani operasi, memiliki tingkat ketahanan hidup yang sebanding dengan mereka yang melakukannya. Dan percobaan baru di beberapa pusat kanker di AS, akan membandingkan hasil pada perempuan dengan DCIS yang menjalani operasi, dengan mereka yang akan diawasi dengan cermat, dengan kunjungan dokter reguler dan mammogram.
“Perempuan perlu tahu bahwa DCIS memiliki tingkatan, dari yang rendah ke potensi yang lebih tinggi untuk maju ke penyakit kanker invasif,” jelas Grace Smith, MD, seorang ahli onkologi radiasi di MD Anderson Cancer Center.
Sementara ini kebanyakan ahli bedah masih merekomendasikan mastektomi atau lumpektomi untuk DCIS kelas menengah atau tinggi, beberapa praktisi mungkin mengizinkan pengawasan aktif untuk DCIS kelas rendah.
Jadi intinya, “Mastektomi atau lumpektomi masih dianggap sebagai standar perawatan,” kata Dr. Smith. Tapi bila pasien khawatir, mereka dapat mempertimbangkan untuk berbicara lebih jauh pada dokter tentang opsi pengawasan aktif nonsurgical yang sedang diselidiki.
Diagnosa lebih dini
Seiring semakin dikenalnya mammografi, DCIS lebih sering ditemukan dibandingkan di masa lalu. Semakin jarang perempuan yang didiagnosis DCIS setelah mereka menemukan benjolan atau pun perubahan lain pada payudara, seperti keluarnya cairan dari puting.
DCIS sering terlihat sebagai satu pola kalsifikasi (penumpukan kalsium) mikro dalam hasil mammogram. Meski bentuk dan ukuran kalsifikasi yang ada diduga sebagai DCIS oleh ahli radiologi, pemeriksaan lebih lanjut masih diperlukan.
Biasanya dokter akan menyarankan pasien melakukan core needle biopsy, dengan mengambil sedikit jaringan dengan jarum, dibawah pengaruh bius lokal. Contoh jaringan tersebut kemudian dikirim ke ahli patologi. Diagnosis juga dapat dilakukan dengan biopsy operasi terbuka.
Mamogram masih penting
Mammograms telah ada selama hampir setengah abad, namun tetap ada kontroversi, walaupun secara konsisten telah terbukti dapat mengurangi kematian akibat kanker payudara.
Sementara kelompok seperti American Cancer Society, US Preventive Services Task Force, dan American College of Obstetricians and Gynecologists sepakat bahwa perempuan harus menjalani sinar-X payudara yang menyelamatkan nyawa ini. Mereka terbagi dalam kapan perempuan harus mulai melakukan mamogram, dan seberapa sering mereka harus melakukannya.
Jadi intinya, tidak ada pedoman yang pasti selain rekomendasi dari dokter Anda. Untuk mengetahui kapan melakukan mamogram dan perlukah melakukannya setiap tahun, bicarakan pada dokter- setidaknya ketika usia Anda 40 tahun, atau lebih awal, jika Anda memiliki riwayat kanker keluarga.
Penelitian tentang kanker mengalami kemajuan
Penelitian kanker terbaru adalah imunoterapi, sejenis pengobatan yang memanfaatkan respons kekebalan tubuh sendiri untuk meledakkan sel kanker. Ini sangat menjanjikan untuk mengobati kanker payudara triple-negative, tipe yang sangat agresif.
Tapi terobosan lainnya sudah membantu memangkas angka kematian, termasuk terapi tertarget untuk kanker payudara positif HER2 (sekitar 20 persen perempuan dengan kanker payudara memiliki tipe agresif ini) dan kelas obat yang disebut penghambat CDK4/6, yang membantu menghilangkan satu jenis kanker payudara pada stadium lanjut dengan cara memblokir protein sel yang memungkinkan tumor tumbuh.Kemajuan ini kemungkinan akan meningkatkan tingkat ketahanan hidup untuk tahun-tahun mendatang.
Tes genetik
Hampir 10 persen dari semua kanker payudara disebabkan oleh mutasi pada dua gen, BRCA1 dan BRCA2, yang juga dikaitkan dengan kanker ovarium, pankreas, dan prostat. Tes genetik juga bisa mencari mutasi gen lain yang meningkatkan risiko kanker payudara, seperti PALB2. Dokter tidak merekomendasikan untuk skrining pada semua perempuan, tapi menurut Mary Freivogel, presiden Society of Genetic Counselor, bila Anda memiliki kondisi di bawah ini, sebaiknya melakukan tes genetik:
1. Anda didiagnosis menderita kanker payudara sebelum usia 45, atau dengan kanker payudara triple-negatif sebelum usia 60, atau dengan kanker ovarium pada usia berapapun.
2. Anda memiliki anggota keluarga dengan mutasi BRCA1 / 2.
3. Anda memiliki riwayat keluarga berikut ini: dua atau lebih saudara dengan payudara atau pankreas, satu kerabat dengan kanker ovarium, yang didiagnosis relatif lebih muda dari usia 50 tahun, atau kasus kanker payudara laki-laki.
Hal-hal yang tidak akan memicu risiko kanker payudara
Anda tidak perlu khawatir. Hal ini tidak akan membuat risiko kanker payudara Anda.
1. IVF
Sebuah penelitian tahun 2016 terhadap lebih dari 25.000 perempuan tidak menemukan peningkatan risiko pada mereka yang telah menjalani fertilisasi in vitro atau bayi tabung.
2. Minum kopi
Jika ada, hal itu bisa menurunkan risiko pascamenopause Anda, kata sebuah studi pada 2015.
3. Stres
Penelitian pada 2016 di Inggris mengungkap bahwa perempuan yang terus menerus stres selama lima tahun sebelumnya, tidak memiliki risiko lebih tinggi daripada mereka yang tidak pernah atau kadang-kadang mengalami stres.
3. Bra
Tidak masalah ukuran, jenis, atau seberapa sering Anda memakainya: Studi pada 2014 meneliti 1.044 perempuan pascamenopause yang telah didiagnosis menderita kanker payudara dan menyimpulkan bahwa kebiasaan mengenakan bra tidak berpengaruh.
Berita Terkait
Terpopuler
- Catat Tanggalnya! Ribuan Warga Badui Bakal Turun Gunung Temui Gubernur Banten Bulan April
- 5 Rekomendasi Smartwatch yang Bisa Balas WhatsApp, Mulai Rp400 Ribuan
- 7 Sepatu Lari Tahan Air Selevel Nike Vomero 18 GTX, Kualitas Top
- Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
- 5 HP Xiaomi dengan Snapdragon 8 Elite Gen 5, Terkencang di 2026!
Pilihan
-
Harga Pertamax Naik Nyaris Rp18.000 di April Besok? Ini Kata Pertamina
-
Petir Bikin Duel Kepulauan Solomon vs Saint Kitts and Nevis di Stadion GBK Ditunda
-
Sesaat Lagi! Ini Link Live Streaming Timnas Indonesia vs Bulgaria
-
Melihat 3 Pemain yang Bakal Jadi Senjata Utama Timnas Indonesia Hadapi Bulgaria
-
Profil Sertu Farizal Rhomadhon, Prajurit TNI asal Kulon Progo yang Gugur di Lebanon
Terkini
-
Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat
-
Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem
-
Ketahui Manfaat Tak Terduga Bermain Busa Lembut Saat Mandi untuk Perkembangan Otak Si Kecil
-
Campak pada Orang Dewasa Apakah Menular? Ketahui Gejala, Pencegahan, dan Pengobatannya
-
2 Anak Harimau Mati karena Panleukopenia, Dokter Hewan: Lebih Mematikan dari Kucing Domestik
-
Transformasi Digital di Rumah Sakit: Bagaimana AI dan Sistem Integrasi Digunakan untuk Pasien
-
Standar Internasional Teruji, JEC Kembali Berjaya di Healthcare Asia Awards
-
Dokter Muda di Cianjur Meninggal Akibat Campak, Kemenkes Lakukan Penyelidikan Epidemiologi
-
Madu Herbal untuk Daya Tahan Tubuh: Kenali Manfaat dan Perannya bagi Kesehatan
-
Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit