Suara.com - Pemerintah melalui Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), pada 19 Oktober 2017 mengeluarkan izin edar obat Hepatitis C yang diajukan oleh perusahaan obat Kimia Farma dengan merek dagang MYDEKLA.
Ini adalah obat generik yang menjadi pasangan kombinasi dari obat hepatitis C yang sebelumnya juga telah mendapatkan izin edar dari BPOM, yaitu Sofosbuvir yang didaftarkan dengan merk dagang MYHEP.
LSM Indonesia AIDS Coalition (IAC) menyambut gembira langkah maju pemerintah yang telah menjadi buah manis dari perjuangan kelompok pasien tanpa kenal lelah selama 3 tahun terakhir ini.
Kombinasi obat Sofosbuvir dan Daclastavir dikenal merupakan sebuah kombinasi obat blockbuster dalam pengobatan Hepatitis C, karena pasangan obat kombinasi ini memiliki tingkat efektifitas kesembuhan lebih dari 95 persen, minim efek samping, dan harga lebih terjangkau ketimbang obat Hepatitis C generasi sebelumnya.
Hepatitis C selama ini masih menjadi silent killer di Indonesia. Pengidapnya, berdasarkan data permodelan, diperkirakan ada 2 juta penduduk. Dan, diestimasikan pula bahwa 10-15 persen dari pengidap Hepatitis C ini atau sekitar 200 ribu – 300 ribu orang, sudah memerlukan pengobatan. Sebab, kata Direktur LSM Indonesia AIDS Coalition Aditya Wardhana, jika tidak diobati maka infeksi Hepatitis C bisa menyebabkan kematian.
“Dengan menerbitkan ijin edar bagi obat Daclastavir ini, mimpi kita semua untuk mengeliminasi penyakit Hepatitis C di tahun 2030 akan bisa menjadi kenyataan.” ungkapnya dalam seiaran pers yang diterima suara.com, Selasa (31/10/2017).
Dahulu, obat Hepatitis C harus dibeli dengan harga di atas Rp100 juta untuk satu paket pengobatan, tapi dengan pengobatan baru ini, maka biaya yang dikeluarkan hanya akan berkisar 15-25 persen dari semula.
Adapun jenis obat Daclastavir yang mendapatkan izin edar ini ada dua sediaan, yaitu dalam sediaan 60mg dan 30mg. Dua sediaan ini diperlukan, karena bagi para pasien dengan ko-infeksi Hepatitis C dan HIV yang sedang terapi obat Antiretroviral akan membutuhkan Daclastavir dalam dosis 90mg. Sementara bagi pasien yang terinfeksi Hepatitis C tanpa HIV cukup menggunakannya dengan dosisi 60mg.
Nomer izin edar bagi Daclastavir sediaan 30mg adalah DKI1740400417A1, sementara nomor izin edar bagi Daclastavir sediaan 60mg adalah DKI1740400417B1. Izin edar bagi kedua jenis obat ini akan berlaku sampai 2022.
“Ini merupakan saat yang kita tunggu-tunggu. Buah dari perjuangan kelompok pasien tanpa kenal lelah sejak tiga tahun lalu," terang Sindi Putri, Kordinator Advokasi dari IAC, bersemangat.
Obat ini, lanjut dia, menjadi harapan bagi ratusan ribu pengidap Hepatitis C yang membutuhkan pengobatan yang terjangkau untuk bisa sembuh. Lebih lanjut Sindi mengatakan bahwa dengan hadirnya izin edar obat ini diharapkan diikuti dengan meningkatnya subsidi pemerintah untuk pembelian Daclastavur.
Dengan demikian, kata dia, semakin banyak pengidap Hepatitis C yang bisa mendapatkan pengobatan secara bersubsidi.
Harga jual obat ini di pasaran, menurut Sindi, oleh perusahaan Kimia Farma belum didapatkan keterangannya. Namun LSM IAC berharap bahwa Kimia Farma sebagai BUMN juga mengemban misi sosial dengan tidak menjual obat ini terlalu mahal, sebab obat ini dibutuhkan oleh banyak rakyat Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Promo Alfamart Hari Ini 7 Mei 2026, Body Care Fair Diskon hingga 40 Persen
- 5 Pilihan HP Android Kamera Stabil untuk Hasil Video Minim Jitter Mei 2026, Terbaik di Kelasnya
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Dokter Penyakit Dalam Ingatkan Wabah Seperti Hantavirus Rentan pada Diabetes: Makanannya Gula!
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?