Suara.com - Pengalaman negatif selalu berdampak buruk bagi anak, apalagi bila hal tersebut terjadi di sekolah dan diterima anak dengan autisme.
Dikatakan, pengalaman negatif yang mereka dapatkan di lembaga pendidikan dapat meningkatkan risiko pengembangan masalah harga diri dan kesehatan mental yang rendah di kemudian hari.
Autisme merupakan gangguan perkembangan yang mengganggu kemampuan berkomunikasi dan berinteraksi. Ini sebabnya, anak dengan autisme sering dikucilkan secara sosial dan emosional di sekolah. Secara negatif, hal tersebut dapat memengaruhi bagaimana siswa dengan autisme melihat dirinya sendiri.
"Pengaturan pendidikan umum yang inklusif mungkin secara tidak sengaja menonjolkan rasa 'berbeda' dengan cara yang negatif terhadap teman sekelas mereka yang dengan autisme," kata pemimpin penulis penelitian, Emma Williams, seorang profesor di Universitas Surrey, Inggris.
Temuan tersebut berdasarkan hasil analisis dari 17 penelitian sebelumnya. Hasilnya, siswa dengan autisme melihat dirinya sendiri lewat persepsi mereka melihat bagaimana orang lain memperlakukan dan berinteraksi dengannya.
Anak-anak dengan autisme juga memiliki kecenderungan untuk menginternalisasi sikap negatif dan reaksi orang lain terhadap mereka.
Persepsi diri yang negatif pada akhirnya dapat menyebabkan keinginan untuk mengisolasi diri dan turunnya harga diri, sehingga membuat murid dengan autisme rentan terhadap masalah kesehatan mental.
"Kami tidak mengatakan bahwa sekolah arus utama (umum) 'buruk' bagi siswa autisme, karena bukti lain menunjukkan bahwa mereka memiliki sejumlah efek positif, termasuk meningkatkan kinerja akademis dan keterampilan sosial," kata Williams.
Di sisi lain, anak-anak dengan autisme yang memiliki persahabatan yang baik dan saling mendukung, serta diterima oleh teman sekelas, berhasil mengurangi kesulitan sosial mereka dan merasa nyaman dengan diri mereka sendiri.
Baca Juga: Autisme Lebih Rentan pada Anak Lelaki Ketimbang Perempuan
"Sebaliknya, kami menyarankan bahwa dengan menumbuhkan budaya penerimaan dan melakukan perubahan kecil, seperti menciptakan tempat yang tidak mengganggu untuk bersosialisasi, dan mendengarkan kebutuhan murid, sekolah dapat membantu murid-murid ini berpikir dan merasa lebih positif tentang diri mereka sendiri," tandasnya.
Penelitian ini sendiri telah dipublikasikan dalam jurnal Autism. (Zeenews)
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Uban Sachet Bikin Rambut Hitam Praktis dan Harga Terjangkau
- 5 HP Helio G99 Termurah di Awal Tahun 2026, Anti Lemot
- 6 Rekomendasi HP OPPO Murah dengan Performa Cepat, RAM 8 GB Mulai Rp2 Jutaan
- 5 Rekomendasi Sepatu Adidas untuk Lari selain Adizero, Harga Lebih Terjangkau!
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
Pilihan
-
QRIS Jadi 'Alat Bantu' Judi Online: Mengapa Sistem Pembayaran BI Ini Rentan Disalahgunakan?
-
Klaim Pakai Teknologi Canggih, Properti PIK2 Milik Aguan Banjir
-
6 HP Murah dengan Kamera Terbaik Januari 2026, Harga Mulai 2 Jutaan
-
Cek Fakta: Yaqut Cholil Qoumas Minta KPK Periksa Jokowi karena Uang Kuota Haji, Ini Faktanya
-
Kontroversi Grok AI dan Ancaman Kekerasan Berbasis Gender di Ruang Digital
Terkini
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya