Suara.com - Diet sehat selama ini identik dengan konsumsi makanan yang tinggi buah dan sayur, tapi tidak demikian dengan diet yang dijalani Travis Statham (29) di New York yang mengklaim berhasil menurunkan berat badan hanya dengan mengonsumsi makanan berlemak seperti steak dan burger.
Semua bermula ketika Travis memutuskan untuk menurunkan berat badannya sebanyak tujuh kilogram dari berat semula 80 kilogram. Ia pun menjalani pola hidup sehat dengan mengonsumsi makanan tinggi sayur dan buah selama enam tahun.
Namun setelah menjalaninya ia berpikir mengapa manusia pada zaman purba bisa hidup dengan melahap binatang liar atau tanaman yang ditemuinya. Akhirnya sejak Januari lalu Travis memutuskan berhenti makan sayur dan hanya mengonsumsi daging. Dia juga melewatkan waktu sarapan.
Untuk makan siang, Travis memilih konsumsi burger patty dari McDonald's atau Schnipper's Quality Kitchen. Di malam hari ia melahap 500 gram steak.
Satu-satunya sumber nabati yang Travis konsumsi adalah kopi. Setelah menjalani pola diet daging ini, Travis mengklaim dirinya mengalami penurunan berat badan menjadi 70 kilogram.
Dier karnivora yang dijalani Travis ternyata memang sedang tren belakangan. Di laman Facebook, Kelompok World Carnivore Tribe memiliki lebih dari 14.000 anggota.
Dr Drew Pinsky, dokter selebriti dan pembawa acara podcast yang dikenal sebagai Dr Drew, baru-baru ini mengaku lebih langsing setelah menjalani diet karnivora.
"Meski sulit dipercaya tapi lekukan di pinggang mulai mengecil," ujar dr Drew.
Pada diet ini, pelakunya tidak mengonsumsi karbohidrat sama sekali dan hanya melahap daging merah, atau kadang-kadang juga daging ayam, babi, atau ikan. Sumber protein ini dimasak sederhana, tanpa minyak goreng. Mereka juga memastikan bahwa daging yang mereka konsumsi berasal dari hewan ternak yang hanya mengonsumsi rumput sehingga tinggi asam lemak omega 3.
"Gaya hidup ini terkesan mahal, tetapi Anda bisa melakukannya dengan murah yakni menyelinginya dengan makanan cepat saji," tambah Travis.
Dr. Jennifer Haythe, seorang ahli jantung di New York-Presbyterian/Columbia, mengatakan bahwa diet ini bisa berbahaya dalam jangka panjang meski banyak orang merasakan manfaatnya dalam menurunkan berat badan.
“Ketika tubuh mulai membakar lemak dan protein untuk membuat glukosa, saya tidak berpikir itu adalah solusi yang bagus untuk kesehatan,” kata dia.
Menurut Jennifer, orang-orang dengan riwayat kolesterol tinggi, terutama kolesterol LDL, berisiko tinggi mengidap penyakit arteri koroner, dan penyakit jantung jika menjalani diet karnivora ini.
“Kita tahu bahwa kolesterol menyebabkan perkembangan plak tidak hanya di jantung tetapi juga arteri yang menuju ke otak dan di kaki Anda," jelasnya dilansir Nypost.com.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apakah Jateng Tak Punya Gubernur? Ketua TPPD: Buktinya Pertumbuhan Ekonomi Jateng Nomor Dua di Jawa
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- HP yang Awet Merek Apa? Ini 6 Rekomendasi Terbaik dengan Performa Kencang
Pilihan
-
Iran Akui Ayatollah Ali Khamenei Meninggal Dunia, Umumkan Masa Berkabung 40 Hari
-
Iran Bantah Klaim AS dan Israel: Ali Khamenei Masih Hidup!
-
Ayatollah Ali Khamenei Diklaim Tewas, Foto Jasadnya Ditunjukkan ke Benjamin Netanyahu
-
Iran Klaim 200 Tentara Musuh Tewas, Ali Khamenei Masih Hidup
-
Israel Klaim Ali Khamenei Tewas, Menlu Iran: Ayatollah Masih Hidup
Terkini
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia