Suara.com - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Aceh dan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh sepakat untuk saling mendukung demi tercapainya target imunisasi campak dan rubella (imunisasi MR).
Realisasi imunisasi MR untuk sasaran anak usia sembilan bulan sampai 15 tahun untuk Provinsi Aceh sangat rendah, menjadikannya provinsi dengan pencapaian target imunisasi MR terendah di Indonesia.
Data dari Dinas Kesehatan Aceh menyebut baru ada 76.461 anak atau hanya 4,94 persen populasi yang sudah mendapatkan imunisasi MR. Padahal, pemerintah menargetkan kampanye MR di Aceh adalah mencakup 1,5 juta anak.
Dalam pertemuan koordinasi lintas kementerian, Rabu (26/9/2018) di Banda Aceh kemarin, Kepala Dinas Kesehatan Aceh dr. Hanif meminta dukungan dan bantuan semua pihak untuk bersama menyosialisasikan imunisasi MR. Koordinasi ini juga diikuti oleh testimoni dari enam orang tua anak dengan kelainan bawaan akibat rubella dari berbagai daerah di Aceh. Mereka menceritakan bagaimana membesarkan anak dengan kelainan bawaan rubella dan berharap tidak ada lagi anak yang lahir dengan kecacatan akibat rubella.
Di sisi lain, penyakit campak tetap diwaspadai. Gejala penyakit campak adalah demam tinggi yang disertai batuk dan pilek, serta mata memerah. Selanjutnya diikuti dengan munculnya ruam kemerahan mulai dari leher dan wajah dan kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Gejala penyakit rubella hampir sama dengan campak, akan tetapi jauh lebih ringan.
"Apabila virus rubella ini menyerang ibu hamil, maka efeknya sangat berat. Si Ibu bisa mengalami keguguran ataupun bayi yang dilahirkan bisa mengalami kecacatan. Imunisasi efektif memberikan kekebalan pada anak dan jika tercapai 95 persen maka akan tercapai kekebalan kelompok (herd immunity). Ini sangat penting Karena penularan campak dan rubella sangat mudah yaitu melalui udara," tutur Hanif, dalam rilis yang diterima Suara.com.
Kecacatan yang timbul akibat campak dan rubella ini bisa berupa penyakit jantung bawaan (bocor jantung), kerusakan jaringan otak yang bisa menyebabkan kelumpuhan ataupun keterbelakangan mental, katarak kongenital (terdapat selaput putih di lensa mata), dan gangguan pendengaran atau tuli.
Imunisasi MR menggunakan vaksin yang baru digunakan di Indonesia dan disubsidi oleh pemerintah, yang berarti diberikan secara gratis kepada masyarakat.
Tujuan imunisasi MR ini adalah meningkatkan kekebalan masyarakat terhadap penyakit campak dan rubella secara cepat; memutuskan transmisi (penularan) virus campak dan rubella; menurunkan angka kesakitan akibat penyakit campak dan rubella; serta menurunkan angka kejadian sindrom rubella kongenital.
Baca Juga: Ketua MUI Terus Diskusi Pentingnya Vaksin MR dengan MPU Aceh
Dukungan terhadap kampanye imunisasi MR juga diberikan penuh oleh Majelis Ulama Indonesia. Turut hadir dalam koordinasi tersebut, perwakilan dari MUI seluruh kabupaten dan kota di Aceh yang sepakat mendukung imunisasi MR.
"Imunisasi memiliki manfaat yang sangat besar dan bisa menyelamatkan jiwa. MUI memiliki kewajiban untuk membantu semua program yang memiliki tujuan mulia, apalagi imunisasi adalah salah satu kunci kesehatan masyarakat. MUI telah mengeluarkan fatwa No.33 Tahun 2018 yang menyebutkan bahwa penggunaan vaksin MR untuk saat ini boleh atau mubah," ujar pengurus MUI Aceh DR. Abdul Rahman.
Ia juga menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan darurat ada dua kondisi, yaitu darurat saat ini dan darurat yang terjadi di masa yang akan datang berdasarkan prediksi dari para ahli yang kompeten.
"Saya melihat langsung Ibu muda yang bayinya terkena cacat empat-empatnya; tuli, buta Karena katarak, jantung bocor, dan otak mengecil, dan saya tidak berani bertanggung jawab di hadapan Allah apabila saya masih mengatakan belum darurat dan tidak melakukan apapun untuk mencegahnya," tambahnya lagi.
Pemerintah pusat telah memperpanjang masa layanan program imunisasi MR hingga tanggal 31 Oktober. Imunisasi MR tahap kedua di seluruh wilayah di luar pulau Jawa berlangsung dari 1 Agustus hingga 30 September 2018. Secara nasional, cakupan imunisasi masih jauh dari target 95 persen, yaitu di angka 50,09 persen, atau sekitar 16 juta anak dari target 31,9 juta anak.
Selain provinsi Aceh, provinsi lain yang hingga kini realisasi imunisasi MR masih jauh di bawah target adalah Riau (26,7 persen), Sumatera Barat (27,3 persen) dan Nusa Tenggara Barat (37,4 persen).
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat