Suara.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma'ruf Amin membeberkan alasan MUI baru mengeluarkan fatwa Nomor 33 Tahun 2018 yang membolehkan (mubah) penggunaan vaksin MR untuk imunisasi campak dan rubella.
Dalam fatwa tersebut, MUI menyebutkan bahwa penggunaan vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII) pada saat ini dibolehkan (mubah). Fatwa mubah tersebut dikeluarkan mengingat adanya pro-kontra di masyarakat terkait program vaksin MR ini.
"Baru 2018 kemarin kita keluarkan kehalalannya, bukan halal sebenarnya, kebolehannya karena darurat karena belum ada vaksin yang halal. Sesuatu yang darurat itu menimbulkan kebolehan. Jadi yang tidak halal pun menjadi boleh. Agama ini enak. Kalau sempit menjadi longgar. Ketika itu tidak ada yang halal maka yang tidak halal menjadi boleh," kata Ma'ruf saat menghadiri diskusi Forum Merdeka Barat 9 di gedung Kementerian Komunikasi dan Informatika, Jakarta Pusat, Selasa (18/9/2018).
Ma'ruf menuturkan pihaknya baru mengeluarkan fatwa tersebut karena Menteri Kesehatan Nila F Moeloek baru meminta fatwa perihal vaksin Rubella tahun ini. Ia menyayangkan mengapa tidak meminta fatwa sebelum melakukan program nasional vaksin MR di seluruh Indonesia.
"Sayangnya, maaf nih, Ibu Menteri Kesehatan tidak langsung meminta fatwa tentang vaksinnya. Baru proses (imunisasi) dilakukan pada 2018. Baru lahir fatwa nomor 33 tentang penggunaan vaksin Rubella MR itu," ujarnya lagi.
Ma'ruf mengakui sejak keluarnya Fatwa MUI Nomor 4 tahun 2016 dua tahun lalu tentang imunisasi, pihaknya tidak lagi mengeluarkan fatwa kehalalan vaksin. Hal inilah yang akhirnya memicu kebingungan di masyarakat soal status vaksin MR.
"Dua tahun memang itu tidak ada fatwa yang menyangkut kehalalan sehingga muncul di masyarakat apakah vaksinnya itu halal atau tidak. MUI tidak memberi karena belum ada proses," tambah Ma'ruf.
Karena itu pihaknya mengeluarkan fatwa soal penggunaan vaksin MR. Sebab berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Indonesia sudah darurat rubella dan campak.
Lebih lanjut, Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu menambahkan capaian imunisasi MR di Indonesia baru terealisasi sekitar 48 persen. Ia pun meminta semua pihak yang terlibat ikut menyukseskan program vaksin MR ini termasuk MUI.
Baca Juga: Ketua MUI : Vaksin MR Bukan Hanya Boleh Tapi Wajib
"Karena itu kita menjadi yakin capaian imunisasi vaksin MR ini yang tadi dilaporkan baru mencapai 48 persen. Menurut saya harus ada upaya-upaya maksimal melibatkan semua pihak, dan tentu, kami Majelis Ulama sudah mengeluarkan dua fatwa, sekarang MUI siap ikut terjun mensukseskan imunisasi rubella," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil 7 Seater yang Jarang Rewel untuk Jangka Panjang, Solusi Cerdas Keluarga
- Appi Sambangi Satu Per Satu Kediaman Tiga Mantan Wali Kota Makassar
- Ibu-Ibu Baku Hantam di Tengah Khotbah Idulfitri, Diduga Dipicu Masa Lalu
- Pakai Paspor Belanda saat Perpanjang Kontrak 2025, Status WNI Dean James Bisa Gugur?
- Pajaknya Nggak Bikin Sengsara: Cek 5 Mobil Bekas Bandel di Bawah 70 Juta untuk Pemula
Pilihan
-
Yaqut Kembali Ditahan di Rutan KPK
-
Dean James Masih Terdaftar sebagai Warga Negara Belanda
-
Diskon Tarif Tol 30 Persen Arus Balik: Jadwal, Tanggal dan Rute Lengkap
-
Ironi Hari Air Sedunia: Ketika Air yang Melimpah Justru Menjadi Kemewahan
-
Rudal Iran Hantam Dekat Fasilitas Nuklir Israel, 100 Orang Jadi Korban
Terkini
-
Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini
-
Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi
-
Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!
-
Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?
-
Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung
-
Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman
-
Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi
-
Cedera Lutut hingga Bahu Paling Banyak Dialami Atlet dan Penggemar Olahraga
-
Jelang Lebaran, Korban Banjir Aceh Tamiang Dibayangi ISPA hingga Diare: Imunitas Harus Diperhatikan
-
Deteksi Dini dan Kebijakan Ramah Lingkungan: Solusi Terpadu untuk Menangani Penyakit Ginjal