Suara.com - ernahkah kamu memiliki keinginan yang kuat dan tak terkendali untuk menggerak-gerakkan kaki? Rasanya, seperti ada perasaan yang tak nyaman di kaki, yang membuat kamu harus menggerak-gerakkannya.
Ini dinamakan Restless Legs Syndrome atau RLS. Gejalanya digambarkan sebagai sensasi yang tidak nyaman dan menyakitkan, seperti rasa sakit, merayap, merangkak, atau menusuk.
Gejala RLS diperkirakan memengaruhi sekitar 7- 8 persen orang dewasa di Amerika Serikat. Menurut Klinik Cleveland, orang dewasa yang lebih tua merupakan kelompok usia dengan risiko tertinggi. Perempuan juga lebih mungkin mengalami RLS daripada lelaki.
Karena tidak ada cara untuk memeriksa gangguan ini, dokter hanya dapat mengidentifikasinya dengan mendengarkan gejala yang dialami pasien. Mereka akan mencari sejumlah kriteria penting yang diperlukan untuk mendiagnosis RLS.
Pada orang dengan gangguan RLS, dorongan untuk menggerak-gerakkan kaki cenderung menyerang dalam keadaan istirahat seperti ketika sedang duduk di sofa atau berbaring di tempat tidur. Gejala ini biasanya akan memburuk di malam hari dibandingkan siang hari.
Menurut Suzanne Bertisch, seorang dokter spesialis gangguan tidur di Beth Israel Deaconess Medical Center, gangguan RLS ada kaitannya dengan kekurangan nutrisi, termasuk zat besi. Meski demikian, jangan semabarang mengonsumsi suplemen zat besi, ya. Ada baiknya kamu mengonsultasikannya terlebih dahulu ke dokter, karena kadar zat besi yang berlebihan juga dapat menyebabkan masalah lain.
"Dokter harus memastikan Anda tidak mengalami kerusakan saraf, arthritis, atau kondisi lain yang menyebabkan gejala mirip dengan RLS. Satu dari lima ibu hamil akan mengalami gelisah dan menggerak-gerakkan kaki, tetapi keinginan ini akan hilang setelah dia melahirkan," ujar Bertisch.
Jika gejala dapat ditangani dan tidak mengganggu fungsi dan kehidupan sehari-hari, penderita RLS tidak memerlukan perawatan. Dalam kebanyakan kasus RLS, gejalanya tergolong ringan dan pasien hanya mengguncangkan kaki karena kualitas tidur yang buruk.
Obat-obatan yang disetujui oleh Food and Drug Administration tersedia bagi penderita yang gejalanya cukup parah. Mereka mungkin memiliki beberapa efek samping ringan seperti mual, sakit kepala, dan kelelahan. Selain perubahan gaya hidup, kamu juga dapat mencoba latihan peregangan, mandi air hangat, atau pijat untuk memberikan beberapa bantuan.
Baca Juga: Ayu Ting Ting Dekat dengan Fransen Demi Dongkrak Film?
"Obat-obatan cenderung berhenti bekerja setelah 2 atau 3 tahun, meskipun obat yang baru dapat membantu selama 8 hingga 10 tahun. Tetapi semakin tua usia Anda, semakin buruk gejala Anda, jadi ada baiknya mencari cara lain untuk mengelolanya," kata Norma Cuellar, seorang profesor keperawatan di Capstone College of Nursing, Alabama.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
- Kronologi Pernikahan Aurelie Moeremans dan Roby Tremonti Tak Direstui Orang Tua
- Bukan Sekadar Estetika, Revitalisasi Bundaran Air Mancur Palembang Dinilai Keliru Makna
Pilihan
-
Nama Orang Meninggal Dicatut, Warga Bongkar Kejanggalan Izin Tanah Uruk di Sambeng Magelang
-
Di Reshuffle Prabowo, Orang Terkaya Dunia Ini Justru Pinang Sri Mulyani untuk Jabatan Strategis
-
Akun RHB Sekuritas Milik Wadirut Dijebol, Ada Transaksi Janggal 3,6 Juta Saham BOBA
-
Danantara Janji Bangkitkan Saham Blue Chip BUMN Tahun Ini
-
Gurita Bisnis Adik Prabowo, Kini Kuasai Blok Gas di Natuna
Terkini
-
Hati-hati saat Banjir! Jangan Biarkan 6 Penyakit Ini Menyerang Keluarga Anda
-
Pankreas, Organ yang Jarang Disapa Tapi Selalu Bekerja Diam-Diam
-
Perawatan Kulit Personal Berbasis Medis, Solusi Praktis di Tengah Rutinitas
-
Implan Gigi Jadi Solusi Modern Atasi Masalah Gigi Hilang, Ini Penjelasan Ahli
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?