- Indonesia.md mendorong transformasi layanan jantung Indonesia melalui AI, medical cloud, dan teknologi artificial heart assist device terbaru.
- Pelatihan dokter meningkat pesat, dan perangkat buatan Tiongkok dinilai Dr. Yan lebih sesuai untuk anatomi Asia dan lebih terjangkau.
- Heartspan dan kolaborasi global memperkuat perawatan jantung preventif dan pasca-implantasi di Indonesia.
Suara.com - Penyakit jantung masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar di Indonesia, dengan lebih dari 10 juta kasus gagal jantung yang terus meningkat setiap tahunnya.
Tantangan terbesar muncul dari program implantasi artificial heart assist device yang belum optimal, sehingga tingkat kematian masih melampaui 34%. Transplantasi jantung pun masih jarang dilakukan karena keterbatasan donasi organ dalam populasi mayoritas Muslim.
Di tengah kondisi tersebut, Indonesia.md divisi Borderless Healthcare Group yang berfokus pada Indonesia, mengambil langkah besar dengan menghadirkan ekosistem layanan jantung terintegrasi berbasis teknologi medis mutakhir, kecerdasan buatan, dan infrastruktur medical cloud lintas negara.
Langkah ini menjadi fondasi menuju layanan jantung yang lebih prediktif, preventif, dan presisi bagi masyarakat Indonesia. Kesiapan klinis nasional pun mulai meningkat pesat.
Lebih dari 80% ahli bedah toraks kardiovaskular Indonesia telah mengikuti webinar teknologi artificial heart assist device yang diinisiasi Indonesia.md bekerja sama dengan Himpunan Bedah Toraks Kardiovaskular Indonesia (HBTKVI).
Untuk mempercepat penguasaan teknologi, Dr. Yan Efrata Sembiring, Wakil Ketua HBTKVI, bersama Dr. Lim Chong Hee, ahli bedah yang pertama kali melakukan implantasi artificial heart assist device buatan Amerika Serikat di Asia, telah menjalani pelatihan intensif di Fuwai Hospital Beijing serta Wuhan Asia Heart Hospital, dua pusat jantung terkemuka di Tiongkok.
Seperti disampaikan Dr. Yan, “Kami sangat antusias menyelamatkan lebih banyak nyawa di Indonesia dengan artificial heart assist device terkecil dan teringan di dunia yang dibuat di Tiongkok. Perangkat ini lebih sesuai untuk anatomi dada orang Asia, lebih terjangkau, dan memiliki daya tahan baterai lebih lama.”
Perangkat generasi baru ini diperkirakan memperoleh persetujuan regulasi nasional pada awal tahun depan, menjadi momentum penting bagi akselerasi layanan gagal jantung akut dan kronis di Indonesia.
AI, Medical Cloud, dan Komunitas Heartspan: Masa Depan Layanan Jantung Indonesia
Baca Juga: Rujukan BPJS Kesehatan Tidak Berjenjang Mulai 2026, Akses Faskes Jadi Lebih Mudah?
Tak hanya fokus pada implantasi perangkat, Indonesia.md juga mengembangkan agen AI untuk mendukung perawatan pasien pasca-implantasi.
Teknologi ini akan membantu pemantauan kondisi secara berkelanjutan sekaligus memperkuat konektivitas antara rumah sakit Indonesia dan pusat jantung terkemuka dunia melalui Borderless Medical Cloud.
Kekuatan kolaborasi lintas negara menjadi unsur penting dalam transformasi ini, sebagaimana ditegaskan Dr. Wei Siang Yu, Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group pihaknya bangga mendapatkan dukungan glokal dari para dokter terkemuka di Indonesia, Tiongkok, Singapura, dan berbagai negara lainnya.
"Inisiatif ini kini berkembang menjadi sebuah gerakan di mana para inovator, ilmuwan, klinisi, kardiolog, ahli bedah, dan tenaga kesehatan berkumpul untuk membangun program seleksi pasien pra-implantasi dan ekosistem perawatan pasca-implantasi yang belum pernah ada sebelumnya,” kata dia.
Sebagai bagian dari misinya, Indonesia.md meluncurkan “Heartspan,” sebuah platform edukasi publik omnichannel untuk meningkatkan kesadaran dan keberlanjutan kesehatan jantung.
Melalui inisiatif ini, para kardiolog, ahli bedah jantung, peneliti, inovator medtech, serta health & wellness influencers bersatu membangun komunitas besar yang peduli pada pencegahan penyakit jantung sejak dini.
Dengan penyatuan teknologi medis tingkat lanjut, AI, medical cloud, dan jejaring spesialis internasional, Indonesia kini sedang memasuki fase baru dalam penanganan penyakit jantung.
Upaya ini tidak hanya menjawab beban sick-care saat ini, tetapi juga membuka masa depan layanan kardiovaskular yang lebih modern dan menyeluruh bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Terbaru 2026 Harga Rp2 Jutaan, Kamera Bagus dan Baterai Besar hingga 7000 mAh
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- Silsilah Keluarga Lim Xin Rui yang Resmi Jadi Menantu Hasto Kristiyanto
- 5 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp200 Ribuan
- 5 Sunscreen Wardah Terlaris di Shopee Mulai Rp30 Ribuan, Ini Kandungan dan Manfaatnya
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien
-
Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi