Suara.com - Salah satu kesulitan pasien saat berobat ke dokter adalah menceritakan soal rasa nyeri yang dialami. Nah, sebentar lagi akan ada aplikasi khusus bernama pain o meter yang bisa membantu dokter mengetahui rasa nyeri yang dialami pasien.
Dari skala 1 sampai 10 berapa tingkat rasa nyeri yang Anda alami? Biasanya dokter akan menanyakan hal tersebut ketika Anda mengeluh rasa nyeri di bagian tubuh tertentu. Tentu saja tak sedikit di antara Anda yang bingung menyimpulkan berapa skala yang mewakili rasa nyeri Anda.
Namun tak usah khawatir karena baru-baru ini peneliti menemukan sebuah perangkat yang dapat mengukur tingkat nyeri hanya dengan memeriksa bagian mata Anda.
Dr. Francis Collins, Direktur National Institutes of Health di Amerika Serikat, mengatakan bahwa pihaknya sedang menguji sebuah alat bernama pain o meter untuk mengukur skala nyeri yang dialami pasien. Selain itu alat ini juga dapat menentukan jenis obat apa yang paling efektif untuk meredakan rasa nyeri tersebut.
"Ini adalah penelitian tahap awal, dan belum dapat dipastikan hingga kapan alat ini bisa digunakan untuk umum," ujar dia, dilansir NY Post.
NIH memperkirakan 25 juta orang di AS mengalami rasa nyeri setiap hari. Sarah Taylor adalah salah satunya. Ia menderita arthritis sendi yang membuatnya migrain dan nyeri di bagian tulang belakang. Sarah juga dilibatkan dalam proses pengujian alat pain o meter ini.
Ia diminta untuk membuka salah satu matanya lebar-lebar selama 10 detik. Kemudian peneliti akan mendekatkan ponsel yang telah memiliki aplikasi pain o meter untuk menangkap bola mata Sarah dengan menggunakan kilatan cahaya atau flash light.
"Akan ada kilatan cahaya selama 10 detik. Yang harus kamu lakukan adalah berusaha untuk tidak berkedip," kata peneliti Kevin Jackson kepada Sarah.
Lalu bagaimana cara kerja alat ini? Finkel, pemimpin penelitian nyeri di Institut Sheikh Zayed untuk Bedah Anak Pediatrik mengatakan mata digunakan untuk media pengukuran rasa nyeri karena dapat menghantarkan rangsangan ke pusat nyeri di otak.
Baca Juga: Diundang ke Istana, Jokowi Buat Agnez Monica Syok
Ketika kilatan cahaya ponsel mengenai nata maka otot pupil akan bereaksi terhadap rangsangan.
"Perangkat ini akan melacak reaksi pupil terhadap cahaya tanpa rasa nyeri dari serabut saraf tertentu, yang bertujuan untuk menghubungkannya dengan intensitas dan jenis nyeri yang berbeda," kata dia.
Penelitian lain juga telah menemukan adanya perubahan dalam aktivitas otak yang menandakan jenis rasa nyeri tertentu. Namun, penelitian itu menggunakan elektroda di kulit kepala untuk mengukur rasa nyeri melalui gelombang otak.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
- 5 Moisturizer Mengandung SPF untuk Pagi Hari, Melembapkan dan Mencerahkan Kulit
Pilihan
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
-
Skandal! Jaksa AS Selidiki FIFA, Penjualan Tiket Piala Dunia 2026 Diduga Bermasalah
Terkini
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?