Suara.com - Meski memliki penyakit yang sama, kondisi setiap pasien berbeda-beda. Itu sebabnya, pengobatan terhadap penyakitnya pun tidak bisa disamakan. Hal ini juga berlaku pada kanker.
Dalam beberapa tahun terakhir, personalized medicine atau pengobatan personal menjadi tren dalam tata laksana kanker. Disampaikan Caroline Riady, selaku CEO Siloam Hospitals Group, pada pengobatan personal ini, jenis tata laksana yang akan diterima pasien akan diuji terlebih dahulu lewat laboratorium. Harapannya, pasien akan mendapat upaya pengobatan terbaik yang lebih efektif.
"Opsi untuk pengobatan kanker kan ada beberapa, bisa operasi, kemoterapi, radioterapi. Nah, mana yang terbaik untuk pasien A? Apakah harus coba semuanya dulu baru tahu, kan tidak. Jadi memang ada pengujian terlebih dulu untuk menentukan metode apa yang terbaik untuk pasien tersebut dan mutasi sel kankernya seperti apa," ujar dia di sela-sela aksi Hair for Hope di Jakarta, Sabtu (2/2/2019).
Caroline menambahkan, di pusat layanan Kanker Siloam, yakni MRCCC Siloam Hospitals Semanggi, terdapat layanan Molecular Diagnostic. Lewat pemeriksaan ini, bisa diketahui jenis mutasi sel kanker yang diderita pasien dan menentukan jenis pengobatan yang paling efektif untuk jenis kanker tersebut.
"Pengobatan personal ini tidak sama semuanya. Ada pasien yang dikemoterapi berhasil, ada juga yang tidak berhasil. Dengan pemeriksaan Molecular Diagnostic, bisa ditentukan pengobatan yang lebih tajam dan efektif disesuaikan dengan tipe sel kankernya, jenis kelamin, dan usianya," imbuh dia.
Dalam kesempatan yang sama, dr. Harijanto Solaeman, MM, dari Siloam Hospitals TB Simatupang mengatakan bahwa tak semua kanker menunjukkan gejala pada stadium dini. Umumnya jenis kanker yang baru bergejala ketika stadium lanjut adalah kanker paru dan pankreas. Untuk itu, pemeriksaan ataupun deteksi dini merupakan cara terbaik untuk pencegahan dan juga menemukan penyakit lebih awal.
"Penyebab kanker itu dari gen dan lingkungan. Sekarang makanan banyak yang dibakar atau yang mengandung karbon, minuman manis juga banyak. Itu pemicu dari lingkungan. Jadi memang edukasi pencegahan kanker itu bagaimana kita bisa melakukan pola hidup sehat mulai dari sekarang," tandas dia.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
- 5 Rekomendasi Lipstik Anti Luntur Saat Dipakai Makan Gorengan
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?
-
Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai
-
Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien