Suara.com - Sekelompok penggiat pemerhati anak menduga ada eksploitasi terhadap ribuan anak-anak Indonesia yang mengikuti proses audisi beasiswa bulutangkis yang diselenggarakan oleh salah satu perusahaan rokok Tanah Air.
"Selama sepuluh tahun berlangsung, ada 23 ribu peserta anak yang ikut, sementara yang mendapat beasiswa hanya 0,01 persen atau sekitar 245 anak. Ini beasiswa atau promosi?" kata Ketua Yayasan Lentera Anak, Lisda Sundari, di hadapan wartawan, Kamis (14/2/2019).
Kata Lisda, anak-anak yang ikut audisi diharuskan menggunakan kaos bertuliskan nama brand dengan font dan warna yang sama persis dengan merek rokok nasional.
"Kami melihat ini sebagai suatu masalah. Ada ratusan anak-anak mengenakan tulisan kaos dengan tulisan yang sama persis fontnya dengan merek rokok. Menurut kami ini brand image," tambah Lisda.
Tindakan tersebut, kata Lisda, merupakan bentuk eksploitasi di mana anak-anak tidak menyadari bahwa tubuh mereka digunakan sebagai medium iklan perusahaan rokok.
"Ini tidak adil dan merupakan bentuk ekploitasi. Kami meminta penyelenggara audisi menghentikan ekploitasi tubuh anak yang biasa berlangsung," lanjutnya.
Topeng Eksploitasi yang Terselubung
Berawal pada 2006 lalu, perusahaan rokok berbasis di kota Kudus, PT Djarum Tbk menggelar audisi beasiswa bagi anak-anak Kudus untuk mendapatkan pelatihan bulutangkis.
Seiring berjalannya waktu, gelaran bertajuk 'Djarum Badminton' tersebut telah diselenggarakan di banyak kota di Indonesia dan menggaet sekitar 23.683 peserta anak usia 6 sampai 15 tahun.
Baca Juga: YouTuber No.1 di Asia Tenggara, Intip 6 Sumber Kekayaan Atta Halilintar
Ditemui di waktu yang sama, Komisioner Bidang Kesehatan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Siti Hikmawatty, mengatakan bahwa kegiatan CSR industri rokok merupakan 'topeng eksploitasi yang terselubung'.
"200 ribu orang meninggal karena rokok. Kalau satu kasus kematian anak bisa mengguncang Indonesia, kenapa kematian 200 ribu lebih orang karena rokok tidak bisa menggucang Indonesia? Kita tidak melawan industri (rokok), tapi kita melawan ekploitasi," kata Siti.
Untuk itu, KPAI akan menunggu respon pihak perusahaan rokok untuk memperbaiki penyelenggaraan audisi beasiswa dan mencoba melakukan penyadaran kepada masyarakat mengenai bentuk eksploitasi seperti ini.
Berita Terkait
Terpopuler
- Profil Ahmad Bahar, Penulis 'Gibran The Next President' yang Rumahnya Digeruduk GRIB Jaya
- 4 HP RAM 12 GB Memori Besar Harga Rp2 Jutaan, Gaming dan Edit Video Lancar Jaya
- Bawa Energi Positif, Ini 7 Warna Cat Tembok yang Mendatangkan Hoki Menurut Feng Shui
- 5 HP Snapdragon untuk Budget Rp2 Juta, Multitasking Stabil dan Hemat Baterai
- 3 Bedak yang Mengandung Niacinamide, Bantu Cerahkan Wajah dan Kontrol Sebum
Pilihan
-
Modus Oknum Ustad di Lubuk Linggau Ajak Santri ke Kebun Sawit, Berujung Kasus Pencabulan
-
Bawa Bukti ke Istana, Purbaya 'Bongkar' 10 Perusahaan Sawit Manipulasi Harga Ekspor
-
Beredar Salinan Dokumen Danantara Sumberdaya Indonesia Perusahaan Swasta Bukan BUMN
-
Bertambah Dua, 7 WNI Kini Ditangkap Israel dalam Misi Kemanusiaan Flotilla Gaza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer Dituntut 5 Tahun Penjara!
Terkini
-
Diskon BRI untuk Paket MCU dan Perawatan Ortopedi di Primaya Hospital, Cek di Sini
-
IDAI Ingatkan Risiko Susu Formula di MBG: ASI Tak Bisa Digantikan Produk Pabrik
-
Jangan Asal Cari di Internet! Dokter Ingatkan Bahaya Self-Diagnosis saat Nyeri Dada
-
Hati-hati Memilih ART, Ini Alasan Rekrutmen Tradisional Justru Ancam Keamanan Keluarga
-
Cara Kerja Lensa HALT pada Kacamata Anak dengan Miopia, Cegah Mata Minus Makin Parah
-
Bukan Sekadar Estetik, Air Treatment Norium by AZKO Bantu Jaga Kesehatan Bayi di Rumah
-
WHO Tetapkan Wabah Ebola di Kongo Darurat Internasional, Risiko Kematian 32,5 Persen
-
Tak Cuma Gizi, Anak Juga Butuh Stimulasi Belajar agar Tumbuh Cerdas dan Tangguh
-
Viral Obat Keras Dijual Bebas di Minimarket Tanpa Konsultasi Apoteker Layaknya Apotek
-
Anak Sering Main Gadget? Periksa Mata Rutin Jadi Kunci Cegah Gangguan Penglihatan sejak Dini