Suara.com - Seni mewarnai ternyata dapat menjadi media terapi yang sudah mulai berkembang sejak tahun 1930-an di mancanegara. Dan cara ini ternyata sudah cukup sering digunakan pada penanganan kasus trauma.
Seseorang yang pernah mengalami peristiwa traumatik seringkali merasa terguncang jiwanya bahkan jauh setelah peristiwa buruk berlalu, khususnya pada anak-anak.
Hal inilah yang membuat Rumah Amalia sebagai rumah belajar bagi anak yatim dan duafa, mengadakan kegiatan seni mewarnai untuk anak-anak asuhannya yang berusia 4-10 tahun.
"Pada dasarnya kenapa menggunakan seni mewarnai sebagai terapi, karena anak-anak ini, yang usianya rata-rata masih duduk di bangku TK hingga kelas 4 SD, jarang yang bisa mengungkapkan perasaannya secara verbal. Dengan media mewarnai ini, anak-anak Rumah Amalia yang rata-rata memiliki trauma, seperti ditinggal orangtuanya, karena pergi atau meninggal dunia, bisa mengeksplor apa sih yang mereka rasakan," jelas konselor keluarga dan pemerhati anak, Muhammad Agus Syafii, saat ditemui Suara.com di Rumah Amalia, Ciledug, Tangerang, Minggu (17/2/2019).
Pada kasus trauma, lanjut lelaki yamg juga sebagai pendiri Rumah Amalia ini, mereka yang mengalami trauma seringkali sangat sulit untuk menceritakan rincian pengalaman traumatiknya. Ketika bercerita, misalnya, anak-anak menjadi mengingat kembali pengalamannya, dan merasakan seolah pengalaman itu terulang kembali.
Penghindaran atau rasa ingin cepat-cepat kabur dari sesi terapi sering terjadi karena ketidaksanggupan mereka mengendalikan dirinya. Rasa ngeri, takut, cemas bercampur aduk sehingga menghambat proses terapi.
Saat terapi dengan media seni mewarnai sedang berlangsung, anak-anak diminta untuk menuangkan pikiran, ingatan, emosi, dan apapun yang sedang dirasakannya ke dalam sebuah media, umumnya kertas sebagai alas, cat, pensil warna, krayon sebagai alat gambar.
"Saat mereka mewarnai, mereka berani memilih warna, apalagi saat dilakukan bersama-sama dengan yang lain. Mereka berproses membuat seni mewarnai ini penuh dengan kebebasan berekspresi dan juga bebas dari penilaian bagus atau jeleknya karya itu, maka pada saat itulah ia sedang merefleksikan dirinya," ungkap dia.
Keseruan menggunakan seni mewarnai dalam proses terapi ini, lanjut lelaki yang akrab disapa 'Kak Agus' ini, merupakan senjata ampuh ketika terapis berhadapan dengan anak-anak, namun seiring berjalannya waktu, ternyata bukan hanya anak yang menikmati seni mewarnai sebagai media terapi, tetapi juga orang dewasa.
Baca Juga: Debat Kedua Jokowi vs Prabowo dalam 6 Babak
Karakter terapi seni mewarnai menyediakan wadah ekspresi yang bebas, tanpa penghakiman, dapat melibatkan warna-warna ceria, dan mendorong keaktifan koordinasi mata dan gerak anggota badan lainnya menjadikan proses terapi lebih dinamis dan tidak melulu diisi dengan kegiatan berbincang.
Oleh sebab itulah, terapi berbasis seni visual cenderung lebih disukai, sehingga membantu kelancaran proses terapi secara keseluruhan.
Tentu terdapat pertimbangan ketika memilih terapi seni untuk menangani kasus trauma. Terapi seni mewarnai menyediakan wadah untuk mengekspresikan pikiran, perasaan, pengalaman, tekanan dalam diri, maupun emosi yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Serangan Mematikan Rusia Jelang Gencatan Senjata, 26 Warga Ukraina Tewas
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak