Suara.com - Tidur setelah makan adalah hal berisiko. Pada umumnya, para pakar merekomendasikan untuk menunggu selama 2 hingga 3 jam sebelum benar-benar pergi tidur.
Hal ini berkaitan dengan proses pencernaan dan isi perut berpindah ke usus kecil Anda. Dengan begitu, Anda akan terhindar dari masalah perut seperti GERD.
Melansir verywellhealth, berbaring dapat menyebabkan isi lambung naik ke kerongkongan yang menyebabkan GERD.
GERD atau Gastroesophageal reflux disease merupakan gangguan pencernaan yang mempengaruhi sfingter esofagus bagian bawah (LES), yakni cincin otot antara kerongkongan dan lambung.
Gangguan pencernaan ini membuat isi lambung naik kembali ke kerongkongan.
Dalam pencernaan normal, sfingter esofagus bagian bawah (LES) terbuka untuk memungkinkan makanan masuk ke perut dan menutup untuk mencegah makanan dan cairan asam lambung mengalir kembali ke kerongkongan.
Tetapi saat mengalami GERD, sfingter esofagus bagian bawah dalam keadaan lemah sehingga memungkinkan isi lambung mengalir ke kerongkongan.
Selain GERD, ada beberapa dampak kesehatan lain apabila Anda segera tidur setelah makan, seperti yang dilansir dari Livestrong.
1. Mulas
Baca Juga: Penderita Asam Lambung Juga Harus Pilih-pilih Minuman, Apa Saja?
Berbaring telentang segera setelah makan besar mungkin terasa nyaman pada awalnya. Namun saat tubuh Anda beristirahat, sistem pencernaan jadi bekerja keras.
Mulas disebabkan oleh kelebihan asam lambung sehingga menghasilkan sensasi terbakar yang menyebar dari perut ke dada dan kadang-kadang naik ke tenggorokan Anda. Ini bisa juga disertai dengan sendawa dan membuat Anda sulit untuk tidur nyenyak.
2. Stroke
Menurut sebuah penelitian yang dilakukan di Fakultas Kedokteran Universitas Ioannina di Yunani, tidur setelah makan meningkatkan risiko terserang stroke.
Ada teori berbeda tentang alasan ini. Para peneliti memasukkan gagasan bahwa refluks asam lebih mungkin menyebabkan sleep apnea yang berkaitan dengan stroke.
Teori lainnya berkaitan dengan tindakan pencernaan dan pengaruhnya terhadap tekanan darah. Kadar gula darah dan jumlah kolesterol dapat memengaruhi kemungkinan Anda terkena stroke.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Motor Listrik Paling Kuat di Tanjakan 2026, Anti Ngeden dan Tetap Bertenaga
- Geger! Saiful Mujani Serukan "Gulingkan Prabowo": Dinasihati Nggak Bisa, Bisanya Hanya Dijatuhkan
- 7 Bedak Anti Luntur Kena Keringat saat Cuaca Panas, Makeup Tetap On Seharian
- Therese Halasa, Perempuan Palestina yang Tembak Benjamin Netanyahu
- 4 HP Tahan Air yang Bisa Digunakan saat Berenang, Anti Rusak dan Anti Rewel
Pilihan
-
Efek Konflik Global: Plastik Langka, Pedagang Siomay hingga Penjual Jus Tercekik Biaya Produksi
-
Serangan Brutal di Istanbul, 3 Orang Tewas di Dekat Konsulat Israel
-
Piala AFF 2026: Kalahkan Malaysia, Timnas Futsal Indonesia Lolos ke Semifinal
-
Memo Rahasia: Ayatollah Mojtaba Khamenei Kritis, Koma, Dirawat di Qom
-
FTSE Segera Umumkan Klasifikasi, IHSG Ditutup Terkoreksi
Terkini
-
Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan
-
Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD
-
17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi
-
Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran
-
Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit
-
Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya