Suara.com - Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah membuat keputusan akhir apakah kecanduan bermain game diklasifikasikan sebagai gangguan kesehatan atau tidak pada 25 Mei 2019 ini.
Keputusan ini diresmikan pada pertemuan ke-72 Majelis Kesehatan Dunia atau World Health Assembly (WHA) yang diadakan di Jenewa, Swiss, di depan delegasi dari negara-negara anggota.
Melansir Variety.com, WHO menambahkan kecanduan game sebagai gangguan dalam Revisi ke 11 Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD-11) pada Juni 2018.
Perilaku kecanduan bermain game ini didefinisikan sebagai 'pola perilaku bermain game yang ditandai dengan gangguan kontrol atas permainan, meningkatkan prioritas dalam bermain game daripada kegiatan lain sejauh permainan didahulukan dari minat dan kegiatan sehari-hari lainnya, dan kelanjutan atau peningkatan permainan meskipun terjadi konsekuensi negatif'.
Lebih lanjutnya, WHO mengatakan perilaku tersebut cukup parah untuk secara signifikan merusak fungsi pribadi, keluarga, sosial, pendidikan atau pekerjaan seseorang dan terbukti setidaknya 12 bulan.
Tapi ternyata keputusan mengenai Gaming Disorder ini masih menimbulkan pro dan kontra. Terutama bagi negara yang banyak membuat video game ini.
Korea Selatan adalah salah satu negara pertama yang menyuarakan ketidakpuasannya terhadap keputusan WHO tersebut.
Kementerian budaya untuk Korea Selatan menentang mengklasifikasikan gangguan game sebagai penyakit dan bahkan membawa bukti untuk menyatakan bahwa game itu sendiri mungkin bukan masalah.
Kementerian budaya Korea Selatan, bersama Korea Creative Content Agency, mengutip studi lima tahun yang dilakukan di negara itu dan menekankan bahwa kecanduan game disebabkan oleh berbagai faktor, seperti dukungan dari guru, stres dari sekolah, dan bahkan hubungan dengan teman sebaya.
Baca Juga: Sudah Diresmikan WHO, Kecanduan Main Game Diakui sebagai Penyakit
Melansir Dotesports.com, Gaming Disorder ini ditambahkan dalam Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD). Negara yang kontra merasa ini masalah besar mengingat ICD digunakan dokter dan profesional medis lainnya di seluruh dunia untuk membuat daftar penyakit dan gejala serta mendiagnosis pasien.
Ini juga digunakan oleh perusahaan asuransi untuk memutuskan sistem penggantian dan biaya prosedural.
Menurut Badan Konten Kreatif Korea, WHO hanya menyalahkan permainan dan tidak melihat hal lain.
Kecanduan bermain game bisa sangat nyata. Tetapi perbedaan antara penggemar yang berdedikasi dan pemain yang kecanduan terkadang sulit untuk didefinisikan, jadi mungkin sulit untuk mencari tahu di mana garis itu berada.
Tag
Berita Terkait
-
Putus Hubungan dengan WHO, Amerika Serikat Berisiko Kehilangan Jejak Penyebaran Hantavirus
-
Catatan Tertulis Suku Indian Navajo Tunjukkan Hantavirus Sudah Lama Mengintai Umat Manusia
-
Viral! Akun Ini 'Ramal' Kemunculan Hantavirus di 2026 pada Juni 2022, Kok Bisa?
-
Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius Picu Kewaspadaan, 3 Penumpang Dilaporkan Meninggal
-
WHO Tegaskan Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar Bukan Awal Pandemi Baru
Terpopuler
- Dituding jadi Biang Kerok Laga Persija vs Persib Batal di Jakarta, GRIB Jaya Buka Suara
- 7 HP Midrange RAM Besar Baterai 7000 mAh Paling Murah yang Layak Dilirik
- Motor Eropa Siap Sikat CBR150R dan R15, Harganya Cuma Segini
- Promo Alfamart Hari Ini 6 Mei 2026, Serba Gratis hingga Tukar A-Poin dengan Produk Pilihan
- 5 Sepatu Lokal Versatile Mulai Rp100 Ribuan, Empuk Buat Kerja dan Jalan Jauh
Pilihan
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
Terkini
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?
-
Geger Hantavirus Menyebar di Kapal Pesiar, Tiga Orang Dilaporkan Meninggal Dunia
-
Hasil Investigasi KKI: 92% Konsumen Keluhkan Galon Tua, Ternyata Ini Dampak Buruknya bagi Tubuh
-
Tips Memilih Susu Berkualitas, Nutrisionis: Perhatikan Sumber dan Kandungannya