- Korban banjir Sumatra hadapi ancaman wabah penyakit menular di pengungsian.
- Kemenkes mendesak penguatan surveilans dan layanan imunisasi darurat untuk pengungsi.
- Kondisi darurat ciptakan risiko tinggi penyebaran campak, pertusis, dan ISPA.
Suara.com - Saat lumpur sisa banjir bandang dan longsor masih pekat di jalanan, dan puing-puing rumah roboh menjadi saksi bisu, sebuah kekhawatiran baru yang tak kasat mata mulai muncul. Di tenda-tenda pengungsian yang sesak di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, ancaman wabah penyakit menular kini mengintai.
MENTERI Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), Pratikno, baru saja mengumumkan bahwa sejumlah daerah terdampak mulai beralih dari status tanggap darurat ke masa pemulihan. Namun, di tengah optimisme itu, kondisi darurat lain sebenarnya tengah mengintai.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah membunyikan alarm peringatan. Kondisi layanan kesehatan yang lumpuh dan ribuan warga yang terpaksa tinggal berdesakan di pengungsian menciptakan risiko penyebaran penyakit yang sangat tinggi, terutama penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) seperti campak dan pertusis.
Tanda-tanda ancaman itu telah terlihat sejak pekan pertama bencana. Data Kemenkes pada 3 Desember lalu melukiskan gambaran suram di Sumatra Barat: 376 kasus demam, 201 kasus nyeri otot (myalgia), 120 kasus gatal-gatal, dan 116 kasus ISPA.
Pola serupa terjadi di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, dengan 277 kasus demam dan 150 kasus gatal-gatal. Sementara di Aceh, keluhan tertinggi adalah luka-luka dan ISPA.
Panggilan Waspada di Tengah Krisis
Hampir empat minggu setelah bencana melanda, Kemenkes akhirnya mengeluarkan Surat Edaran Nomor HK.02.02/C/5745/2025 sebagai strategi pertahanan. Dalam surat tersebut, Kemenkes menginstruksikan pemerintah daerah untuk:
1. Memperkuat pengawasan penyakit menular secara intensif, termasuk penemuan kasus aktif dan penelusuran kontak di posko-posko pengungsian.
2. Melanjutkan layanan imunisasi rutin dan imunisasi kejar, termasuk membuka pos imunisasi darurat jika puskesmas rusak.
3. Menggencarkan promosi kesehatan, mulai dari etika batuk, penggunaan masker, hingga edukasi agar warga segera melapor jika mengalami gejala.
'Bom Waktu' di Tenda Pengungsian
Baca Juga: KSAD Minta Media Ekspos Kerja Pemerintah Tangani Bencana Sumatra
Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, drg. Murti Utami, menyebut lokasi pengungsian sebagai 'bom waktu' penyebaran penyakit. Kerumunan orang di ruang terbatas, sanitasi yang buruk, serta terganggunya layanan kesehatan rutin menciptakan kondisi ideal bagi virus dan bakteri untuk berkembang biak.
Murti menekankan bahwa kondisi darurat ini harus diantisipasi dengan langkah cepat, terukur, dan terkoordinasi.
Di tengah fokus pada evakuasi dan bantuan logistik, Kemenkes menegaskan bahwa imunisasi adalah perisai paling efektif untuk mencegah Kejadian Luar Biasa (KLB). Melanjutkan imunisasi rutin dalam kondisi darurat bukanlah sekadar strategi jangka panjang, melainkan langkah pencegahan segera terhadap wabah yang bisa menjadi bencana kedua yang lebih senyap namun tak kalah mematikan.
“Pelayanan imunisasi harus tetap diupayakan, termasuk melalui pembukaan pos imunisasi darurat apabila fasilitas kesehatan mengalami kerusakan,” pesan Murti.
Tentu saja, keberhasilan pencegahan ini tidak hanya bergantung pada pemerintah. Peran aktif masyarakat di lokasi bencana—dengan menerapkan etika batuk, mencuci tangan, dan segera melapor saat sakit—menjadi kunci untuk memutus rantai penularan.
Banjir dan longsor di Sumatra tidak hanya menghancurkan infrastruktur. Kini, ancaman wabah penyakit menular menjadi ujian baru bagi ketangguhan sistem kesehatan dan respons darurat bangsa ini.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Selamat Tinggal Jay Idzes? Sassuolo Boyong Amunisi Pertahanan Baru dari Juventus Jelang Deadline
- Kakek Penjual Es Gabus Dinilai Makin 'Ngelunjak' Setelah Viral, Minta Mobil Saat Dikasih Motor
- 4 Calon Pemain Naturalisasi Baru Era John Herdman, Kapan Diperkenalkan?
- 26 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 31 Januari 2026: Buru Gullit 117 OVR dan Voucher Draft Gratis
- Muncul Isu Liar Soal Rully Anggi Akbar Setelah Digugat Cerai Boiyen
Pilihan
-
IHSG 'Kebakaran' di Awal Februari, Menkeu Purbaya: Ada Faktor Ketidakpastian!
-
Pupuk Indonesia Pugar Pabrik Tua, Mentan Amran Bilang Begini
-
Setiap Hari Taruhkan Nyawa, Pelajar di Lampung Timur Menyeberang Sungai Pakai Getek
-
Mundur Berjamaah, Petinggi OJK dan BEI Kalah dengan Saham Gorengan?
-
Kisah Pilu Randu Alas Tuksongo, 'Raksasa yang Harus Tumbang' 250 Tahun Menjadi Saksi
Terkini
-
Kasus Dugaan Penghinaan Suku Toraja Naik Penyidikan, Status Hukum Pandji Tunggu Gelar Perkara
-
Semeru Erupsi Dini Hari, Kolom Abu Capai 700 Meter di Atas Puncak
-
Keluarga Habib Bahar Balik Lapor, Istri Anggota Banser Korban Penganiayaan Dituding Sebar Hoaks
-
Prabowo Minta Kepala Daerah Tertibkan Spanduk Semrawut: Mengganggu Keindahan!
-
Prakiraan BMKG: Awan Tebal dan Guyuran Hujan di Langit Jakarta Hari Ini
-
Apresiasi KLH, Shanty PDIP Ingatkan Pentingnya Investigasi Objektif dan Pemulihan Trauma Warga
-
Dari MBG Sampai ASRI, Presiden Prabowo Menggugah 4 Ribu Lebih Peserta Rakornas Kemendagri 2026
-
Eksekusi Brutal di Bali: Dua WNA Australia Dituntut 18 Tahun Penjara Kasus Pembunuhan Berencana
-
Eks Pejabat Kemendikbud Akui Terima Rp701 Juta dari Pemenang Tender Chromebook
-
Skandal Suap Jalur Kereta Api, KPK Cecar Direktur Kemenhub Jumardi Soal Aliran Dana dan Tender