Suara.com - Kanker paru-paru termasuk jenis kanker mematikan yang telah membunuh sekitar 1,3 juta orang di dunia setiap tahunnya.
Penyakit ini salah satu penyebab utama kanker pada pria dan kanker paling umum kedua yang menyerang wanita.
Kanker paru-paru ini pula yang telah merenggut nyawa Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data dan Informasi Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang meninggal hari ini, Minggu (7/7/2019) di Guangzhou, China.
Kabar meninggalnya Sutopo lantas membuat publik mencari tahu seputar kanker paru-paru. Salah satu yang perlu Anda ketahui adalah mitos seputar kanker paru-paru seperti yang dilansir dari Rafles Medical Grup berikut ini:
Mitos 1: Kanker paru-paru hanya mengancam perokok aktif
Faktanya, kanker paru-paru bisa menyerang siapa pun meski bukan perokok aktif. Kanker paru-paru pada orang tidak merokok biasanya disebabkan oleh gas radon, asap rokok, polusi udara, mutasi gen dan faktor genetik.
Meski begitu, perokok aktif memang lebih berisiko 15-25 kali menderita kanker paru-paru daripada orang yang tidak merokok.
Mitos 2: Hanya orang tua yang berisiko kanker paru-paru
Faktanya, kanker paru-paru bisa menyerang orang lebih muda, terutama jenis kanker paru-paru non sel kecil. Meskipun kanker paru-paru ini lebih sering menyerang orang yang lebih tua sekitar usia 65 tahun.
Baca Juga: Sutopo Meninggal Dunia, Kenali Jenis dan Tahapan Kanker Paru-paru
Mitos 3: Berhenti merokok tidak menurunkan risiko kanker paru-paru
Faktanya, meskipun Anda seorang perokok aktif selama bertahun-tahun. Keputusan berhenti merokok perlahan akan menurunkan risiko kanker paru-paru Anda.
Jika Anda memulai hidup sehat dan berhenti merokok selama 10 tahun, setidaknya sudah menurunkan risiko kanker paru-paru sebesar 50 persen.
Mitos 4: Rokok rendah tar lebih aman dari rokok biasa
Faktanya dilansir dari hellosehat.com, rokok rendah tar dan rokok biasa sama-sama berisiko menyebabkan kanker paru-paru. Sejumlah penelitian telah menunjukkan rokok rendah tar (rokok menthol) justru lebih berbahaya dan membuat orang lebih sulit berhenti.
Mitos 5: Olahraga tidak memengaruhi risiko kanker paru-paru
Berita Terkait
-
Di Balik Novel Marioriawa: Mitos yang Hidup dan Menghantui Realitas
-
Film The Bell: Panggilan untuk Mati, Angkat Mitos Lonceng Keramat di Belitung
-
Mitos Lereng Ciremai dan Wajah Metropolitan dalam Buku Monyet Bercerita
-
Realitas dan Mitos: Menyusuri Narasi Jawa dalam Novel Kereta Semar Lembu
-
Minum Air Putih Saat Menstruasi, Bukan Sekadar Mitos dan Bisa Redakan Nyeri Haid
Terpopuler
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Kecil tapi Lega: Hatchback Bermesin Avanza Kini Cuma 50 Jutaan, Makin Layak Dilirik?
- Promo JCO Mei 2026, Paket Hemat Donat dan Kopi yang Sayang Dilewatkan
- Work to Run: 5 Sepatu Lari Hitam Polos yang Tetap Rapi di Kantor dan Nyaman Dipakai Lari
- 5 HP Redmi RAM 8 GB Memori 256 GB Termurah di Bawah Rp1,5 Juta, Spek Juara
Pilihan
-
Bejatnya Kiai Cabul Ashari di Pati: Ngaku Keturunan Nabi hingga Istri Orang Bebas Dicium
-
Mengungkap Jejak Pelarian Kiai Cabul Pati: Terendus Ritual di Kudus, Kini Raib Bak Ditelan Bumi
-
Diterpa Kontroversi dan Dilaporkan ke Bareskrim Terkait Ceramah JK, Ade Armando Mundur dari PSI
-
Lolos Blokade AS! Kapal Tanker Iran Rp 3,8 T Menuju Riau, Kemlu RI: Tak Langgar Hukum
-
Kapal Perang AS Dihantam 2 Rudal karena Coba Masuk Selat Hormuz, Klaim Iran
Terkini
-
Diet Vegan Kurangi Emisi Gas Rumah Kaca Hingga 55 Persen, Apa Buktinya?
-
Lebih dari Sekadar Nutrisi, Protein Jadi Kunci Hidup Aktif dan Sehat
-
Kisah Dera Bantu Suami Melawan Penyakit GERD Melalui Pendekatan Holistik
-
Dari Antre Panjang ke Serba Cepat, Smart Hospital Ubah Cara Rumah Sakit Layani Pasien
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak