Suara.com - Apakah Anda sering buang air kecil di malam hari? Jika iya, sepertinya Anda harus mulai berhati-hati dengan kebiasaan kencing di malam hari.
Para peneliti menemukan pria dan wanita yang sering buang air kecil sekali hingga 2 kali pada malam hari lebih berisiko tinggi meninggal dunia.
Peningkatkan risiko kematian terlihat pada semua kelompok dari usia 20 tahun hingga 90 tahun. Dalam hal ini, pria dan wanita muda justru lebih berisiko tinggi meninggal.
"Nocturia (buang air kecil di malam hari) adalah prediktor kematian. Lebih mengejutkannya, pria dan wanita muda justru lebih berisiko daripada orang tua," kata Varant Kupelia, ilmuwan di New England Research Institute di Watertown, Mass dikutip dari webmd.com.
Pria dan wanita muda lebih berisiko daripada orang dewasa karena kebiasaan buang air kecil di malam hari bisa jadi gejala penyakit kronis.
Berbeda dengan orang yang lebih tua, kebiasaan kencing di malam hari meningkatkan risiko kematian karena sangat rentan jatuh dan patah tulang.
Peneliti Kupelia bersama rekannya pun telah meneliti fakta ini dengan meriset sebanyak 15 ribu pria dan wanita yang berusia 20 tahun hingga paling tua.
Para peneliti pun akhirnya menemukan hasilnya selama periode sembilan tahun:
1. Pria usia 20-40 tahun bangun dua kali hingga lebih setiap malam untuk kencing berisiko 2,56 kali lipat meninggal dunia.
Baca Juga: Jangan Disepelekan, Nyeri Sendi Bisa Picu Depresi Hingga Kematian
2. Wanita usia 20-29 tahun yang sering kencing malam hari meningkatkan risiko kematian hingga 10 persen.
3. Pria usia 50-64 tahun yang sering kencing di malam hari berisiko 60 persen lebih tinggi meninggal dunia.
4. Wanita usia 50-64 tahun dengan kebiasaan kencing malam hari berisiko meninggal 94 persen lebih tinggi.
5. Pria usia 65-90 tahun berisiko meninggal 49 persen lebih tinggi jika sering kencing malam hari.
6. Wanita usia 65-90 persen dengan kebiasaan sering kencing malam hari meningkatakn risiko kematian hingga 32 persen.
Analisis ini juga memperhitungkan faktor lain yang mungkin memengaruhi kematian, termasuk usia, kondisi medis, status perkawinan dan indeks massa tubuh.
Berita Terkait
-
Novel Ziarah, Sebuah Perenungan tentang Hidup dan Kematian
-
4 Rekomendasi Moisturizer Viva untuk Malam Hari, Wajah Cerah Anti Kusam
-
Australia Panas, Ratusan Warga Ngamuk Buntut Kematian Kumanjayi Little Baby, Siapa Dia?
-
Orang Kencing Sembarangan Makin Tak Terkendali, Walkot New York Mau Bangun Toilet Rp62 Miliar
-
Misteri Kematian WNA di Imigrasi Depok, Ditemukan Tewas di Toilet: Ini 7 Faktanya
Terpopuler
- 7 Bedak Tabur Terbaik untuk Kerutan dan Garis Halus Usia 50 Tahun ke Atas
- Pengakuan Lengkap Santriwati Korban Pencabulan Kiai Ashari di Lingkungan Pesantren Pati
- Xiaomi 17 Jadi Senjata Baru Konten Kreator, Laura Basuki Tunjukkan Hasil Foto Leica
- 7 Sepatu Lari Lokal untuk Jalan Jauh dan Daily Run Mulai Rp100 Ribuan, Tak Kalah dari Hoka
- 5 HP Terbaru 2026 untuk Budget di Bawah Rp3 Juta, Ada yang Support 5G dan NFC
Pilihan
-
Review If Wishes Could Kill: Serial Horor Korea yang Bikin Kamu Mikir Sebelum Buat Permintaan!
-
Suporter Persipura Rusuh, Momen Menegangkan Pemain Adhyaksa FC Dilempari Botol
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
Terkini
-
Dokter Penyakit Dalam Ingatkan Wabah Seperti Hantavirus Rentan pada Diabetes: Makanannya Gula!
-
Anak Aktif Rentan Lecet? Ini Tips Perlindungan Luka agar Cepat Pulih dan Tetap Nyaman
-
Bukan Sekadar Liburan: Mengapa Medical Vacation Kini Jadi Tren Baru Masyarakat Urban?
-
Heboh Wabah Hantavirus di Kapal Pesiar, Bagaimana Perubahan Iklim Bisa Perparah Risiko?
-
Ratusan Ribu Kasus Stroke Terjadi Tiap Tahun, Penanganan Cepat Dinilai Sangat Krusial
-
Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan di Tengah Krisis Iklim dan Bencana, Bagaimana Solusinya?
-
Jangan Anggap Sepele Ruam dan Gangguan Cerna, Ini Pentingnya Deteksi Dini Alergi pada Anak
-
Pekan Imunisasi Dunia Jadi Pengingat, DBD Kini Mengancam Anak hingga Dewasa
-
Riset Harvard Ungkap Bermain Bersama Orang Tua Bantu Bangun Koneksi Otak Anak
-
Krisis Iklim Berdampak ke Kesehatan, Seberapa Siap Layanan Primer Indonesia?