Suara.com - Minta Maaf Terlalu Sering Jadi Tanda Kurangnya Kepercayaan Diri.
Meminta maaf memang tindakan yang positif. Namun, meminta maaf terlalu sering, apalagi untuk sebuah kesalahan yang tidak Anda lakukan, ini justru bisa berbahaya bagi hubungan Anda dengan orang lain.
Sebuah penelitian mengungkap, rata-rata orang mengatakan maaf sekitar delapan kali sehari. Bahkan, satu dari delapan orang meminta maaf hampir 20 kali sehari untuk hal-hal yang bukan kesalahannya.
Para ahli percaya bahwa kebiasaan meminta maaf yang berlebihan ini sebenarnya bisa lebih berbahaya daripada kebaikan. Orang yang mengatakan maaf terlalu sering menghadapi risiko tidak ditanggapi dengan serius, baik di tempat kerja maupun di rumah.
Sosiolog, profesor, dan penulis, Maja Jovanovic mengatakan, jika mengatakan maaf telah menjadi kebiasaan, orang-orang harus menghentikannya. Jika digunakan dengan tepat, permintaan maaf dapat menyembuhkan luka dan memperkuat hubungan.
Tetapi sebaliknya, pada saat yang sama, meminta maaf berlebihan bisa menjadi tanda kurangnya kepercayaan diri.
"Jika Anda memulai dan mengakhiri setiap kalimat dengan, 'Maaf' seperti 'Maaf, bisakah saya masuk?' 'Maaf, bisakah saya berbicara?', dan lainnya, jangan kaget jika tidak ada kepercayaan diri yang tersisa pada Anda, karena Anda telah memberikannya pada setiap permintaan maaf yang tidak berguna," kata Jovanovic.
Jadi, apa cara terbaik untuk menghentikan kebiasaan meminta maaf yang berlebihan ini?
Pertama, Anda perlu mencari tahu hal-hal yang paling sering membuat Anda meminta maaf. Jadi, sebelum Anda mulai mengubah kebiasaan ini, tuliskan sepuluh hal yang membuat Anda mengatakan maaf lebih dari sekali sehari.
Baca Juga: Bule Minta Maaf usai Lecehkan Air Suci Bali, Niluh Djelantik: Pembohong!
Apakah Anda sebagian besar meminta maaf kepada kolega Anda? Atau, Anda cenderung melakukan itu lebih banyak di depan keluarga Anda? Setelah Anda mengetahuinya, fokuslah untuk menghilangkan daftar panjang maaf Anda secara perlahan.
Anda akan terkejut melihat bagaimana Anda dapat mengganti 'maaf' dengan 'terima kasih' dan 'permisi'. Misalnya, jika Anda merasa tak enak mengganggu seorang teman dengan cerita masalah Anda, Anda bisa mengagakan "Terima kasih karena telah mau mendengarkan cerita saya."
Demikian pula, ketika Anda bertemu dengan seseorang dan alih-alih mengatakan 'maaf' yang terburu-buru, Anda bisa mengatakan 'permisi'.
Jangan berharap diri Anda menyingkirkan kebiasaan ini dalam semalam. Awalnya, mungkin akan merasa sulit untuk menghilangkan kebiasaan yang sebelumnya tidak Anda sadari.
Mungkin Anda membutuhkan waktu berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun untuk mencapai tahap di mana Anda akan mengatakan 'maaf' hanya saat diminta.
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
Terkini
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan
-
Susu Creamy Ala Hokkaido Tanpa Drama Perut: Solusi Nikmat buat yang Intoleransi Laktosa