Suara.com - Kontroversial, Studi Ini Sebut Polusi Udara Bikin Orang Gangguan Jiwa
Baru-baru ini sebuah studi mengungkap hal yang mengejutkan, di mana paparan polusi selama 10 tahun pertama kehidupan disebut memainkan peran penting pada kesehatan mental.
Dilasnir Medical News Today, Sabtu (24/8/2019) penelitian ini diterbitkan di jurnal PLOS Biology dengan menggunakan data di Amerika dan Denmark untuk mengulik hubungan antara polusi lingkungan dan gangguan jiwa.
Penelitian mengungkap bahwa gangguan bipolar dan depresi lebih tinggi terjadi kepada mereka yang tinggal di daerah dengan kualitas udara buruk. Disimpulkan juga orang Denmark yang tinggal di lingkungan tercemar selama 10 tahun pertama kehidupan dua kali lipat berisiko mengalami kelainan kepribadian dan skizofrenia.
Melangkah lebih jauh, peneliti kemudian tertarik untuk mencari tahu faktor-faktor apa saja yang membuat mereka menderita kelainan jiwa. Penyebabnya cujup beragam, termasuk riwayat genetik hingga pengalaman hidup, sehingga faktor lingkungan tidak bisa diabaikan.
Studi ini kemudian melihat dari sisi lingkungan tertentu, seperti polusi udara memengaruhi otak dan berpotensi gangguan jiwa. Karenanya untuk mencapai penelitian itu, peneliti menarik dua dataset besar.
Informasi polusi untuk AS berasal pengukur kualitas udara Environmental Protection Agensi (EPA), sedangkan di Denmark peneliti mengamato daftar polusi nasional.
EPA melacak 87 kualitas udara yang berbeda. Meskipun register polusi Denmark memonitor lebih sedikit pengukuran, tetapi mereka miliki resolusi special yang akurat.
Sementara di AS dilakukan dengan mengaksesdatabase asuransi yang mencangkup data bahwa ada 151 yang alami kelainan jiwa sejak 2003 hingga 2013.
Baca Juga: Trump Salahkan Gangguan Jiwa Jadi Penyebab Penembakan Massal di AS
Di Denmark mereka menggunakan data untuk semua penduduk yang mental bermasalh antara 1979 hingga 2002 tinggal di Denmark, dengan melihat jumlah data mereka berdasarkan hari hari ulang tahunnya.
Hanya saja, tidak semua orang menyetujui hasil penelitian ini. Prof John Iannidis, peneliti yang juga menuliskan editorial dalam jurnal tersebut, mengatakan hubungan antara gangguan jiwa dan polusi udara belum menunjukkan sebab-akibat.
"Meski data yang digunakan sangat besar, bukti-bukti yang ditunjukkan memiliki kelemahan dan bias, yang membuat hubungan antara polusi udara dan gangguan jiwa menjadi tidak valid. Butuh penelitian lebih besar, dengan penelitian berbagai vaktor untuk bisa membuktikannya," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Mobil Bekas 60 Jutaan Kapasitas Penumpang di Atas Innova, Keluarga Pasti Suka!
- 5 Sepatu Lokal Senyaman Skechers, Tanpa Tali untuk Jalan Kaki Lansia
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- Cek Fakta: Viral Ferdy Sambo Ditemukan Meninggal di Penjara, Benarkah?
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
Pilihan
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
-
In This Economy: Banyolan Gen Z Hadapi Anomali Biaya Hidup di Sepanjang 2025
-
Ramalan Menkeu Purbaya soal IHSG Tembus 9.000 di Akhir Tahun Gagal Total
-
Tor Monitor! Ini Daftar Saham IPO Paling Gacor di 2025
-
Daftar Saham IPO Paling Boncos di 2025
Terkini
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan
-
Susu Creamy Ala Hokkaido Tanpa Drama Perut: Solusi Nikmat buat yang Intoleransi Laktosa
-
Tak Melambat di Usia Lanjut, Rahasia The Siu Siu yang Tetap Aktif dan Bergerak
-
Rahasia Sendi Kuat di Usia Muda: Ini Nutrisi Wajib yang Perlu Dikonsumsi Sekarang