Suara.com - Berbicara bayi tabung, memang tidak sedikit masyarakat Indonesia yang masih memandangnya sebagai hal yang tabu, karena berhubungan dengan area pribadi. Tapi teknologi ini sudah diizinkan di Indonesia, termasuk penyimpanan sel telur dan sperma untuk digunakan nanti.
"Kita baru mulai (penyimpanan sel telur dan sperma). Seperti bayi tabung dulu, egg banking sekarang masih tabu," ujar Prof. drh. Arief Boediono, PhD, seorang ahli embrio, ketika ditemui di Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (8/10/2019)
Tapi yang jadi masalah, khusus untuk perempuan, saat proses pengambilan sel telur akan merusak selaput dara, alias merusak virginitas. Padahal, usia produktif yang belum menikah atau belum ingin punya anak disarankan menyimpan sel telur karena kualitasnya masih bagus.
"Wanita karier sebelum menikah, kan virginitas masih diutamakan. Sementara untuk pembekuan sel telur, diambilnya harus melalui intra vagina. Itu masih menjadi masalah," jelas Prof. Arief.
Terlepas dari orang muda yang masih sehat dan produktif, siapa saja sebenarnya yang bisa mendapat manfaat besar dari menyimpan sel telur atau sperma beku ini?
1. Pasien kanker
Pengobatan kanker atau kemoterapi bisa jadi akan merusak sel telur maupun sperma. Itu sebabnya, pada penderita sel kanker, disarankan jika memang ada kemungkinan sembuh dan ingin punya anak, segeralah menyimpan sel telur dan spermanya lebih dahulu dengan cara dibekukan.
"Jadi sebenarnya banyak pasien kanker baik lelaki maupun perempuan, setelah kemoterapi ternyata sel telur dan spermanya rusak sampai nol. Kalau rusak, nol, ketika menikah ingin punya anak, sudah tidak ada harapan lagi," ungkap Prof. Arief.
Nah, pada fase ini, membekukan sel telur atau sel sperma sangat disarankan. Sehingga nanti setelah sembuh, menikah, dan ingin memiliki anak, sel telur dan sperma yang sudah dibekukan tersebut bisa digunakan kembali melalui proses bayi tabung.
2. Pasangan LDR
Hubungan jarak jauh atau LDR (long distance relationship) bukan hanya melanda sepasang kekasih, tapi juga suami istri. Nah, hal ini biasanya akan menyulitkan pasangan yang sedang menjalani program kehamilan atau memiliki anak. Karena bisa saja ketika suami pulang, ternyata sang istri tidak sedang berada di masa subur.
Baca Juga: Ilmuwan Usulkan Bank Sperma di Ruang Angkasa
"Pada keluarga yang suaminya pelaut, atau tentara, saat melakukan program (hamil), yang punya siklus (kesuburan) kan perempuan. Pas program lagi bagus, tapi suaminya nggak ada. Nah, ini bisa digunakan, caranya sperma dibekukan. Jadi pas lagi bagus, bisa dilakukan fertilisasi atau pembuahan, atau penyatuan sel telur dan sperma melalui bayi tabung," tutup Prof. Arief.
Berita Terkait
Terpopuler
- Lirik Lagu 'MBG Mas Bahlil Ganteng' yang Viral, Lengkap Asal Usulnya
- 7 HP Midrange Serasa Flagship 2026: Spesifikasi Premium dan Performa Juara
- 5 HP Realme RAM 12 GB dan Kamera Jernih Paling Murah Mulai Rp2 Jutaan
- 3 HP Android dengan Kualitas Kamera Selevel iPhone 17 Pro Max, Cocok untuk Bikin Konten
- 4 Sepatu Nike Tanpa Tali Serbaguna: Nyaman untuk Olahraga, Praktis buat Jalan Santai
Pilihan
-
Bos Nvidia Serobot Antrean Jagung Bakar dengan Traktir Semua Pembeli, Egois atau Dermawan?
-
BREAKING NEWS! Persija Resmi Tidak Perpanjang Kontrak Mauricio Souza
-
Eks Wamenaker Noel Ebenezer: Hukum Mati Saja Saya!
-
Staf Ahli Gubernur Kaltim Bawa-Bawa Status 'Cucu Nabi' demi Redam Demo Massa
-
Cara Buka Tabungan Pesirah Bank Sumsel Babel dari HP, Tak Perlu Antre di Bank
Terkini
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien
-
Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia
-
Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif
-
Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19
-
Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?