Suara.com - Pernahkah Anda melihat atau mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak nyata? Atau berpikir ada sesuatu yang sedang terjadi dan tidak disadari orang lain?
Hal-hal seperti ini termasuk dalam pengalaman psikosis.
Pengalaman atau episode psikosis merupakan kondisi ketika seseorang merasakan atau menafsirkan realitas secara berbeda dengan orang-orang di sekitarnya. Diperkirakan sekitar 5% hingga 10% orang akan memiliki pengalaman psikotik dalam hidupnya.
Walaupun berbeda untuk setiap orang, pengalaman psikosis sering kali termasuk halusinasi (melihat atau mendengar hal-hal yang tidak nyata) atau delusi (percaya bahwa sesuatu sedang terjadi padahal tidak nyata, atau yang orang lain tidak dapat mengerti).
Perlu dicatat, memiliki pengalaman psikosis tidak berarti Anda memiliki gangguan mental. Banyak orang mengalami pengalaman ini tanpa pernah mengembangkan masalah kesehatan mental, lapor Live Science.
Walaupun halusinasi dan delusi adalah karakteristik dari skizofrenia dan beberapa kondisi kesehatan mental lainnya, kedua pengalaman ini hanya akan dianggap gejala penyakit mental apabila orang tersebut juga mengalami gejala lain yang berefek negatif pada kehidupannya.
Misalnya, gejala skizofrenia lainnya termasuk merasa kurang termotivasi, menemukan hobi yang kurang menarik atau menyenangkan, dan kesulitan berkonsentrasi.
Meski pengalaman psikosis adalah gejala kunci skizofrenia, penyebab terjadinya kondisi ini bisa saja tidak berkaitan dengan skizofrenia atau gangguan mental lain.
Berdasarkan hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal JAMA Psychiatry, ada kemungkinan faktor lingkungan memiliki pengaruh lebih besar terhadap genetika dalam menyebabkan pengalaman psikosis (pada orang tanpa skizofrenia).
Baca Juga: "Aku Tertawa di Pemakaman Nenek," Kisah Nyata Pengidap PBA Seperti Joker
Contohnya, menggunakan ganja dan memiliki pengalaman traumatis, seperti kehilangan orang tua saat masa kanak-kanak, dapat meningkatkan kemungkinan memiliki pengalaman psikosis.
Temuan paling penting lain dari penelitian ini adalah banyak gen yang dikaitkan dengan pengalaman psikotik dan juga dikaitkan dengan gangguan mental lainnya.
Berita Terkait
-
Ulasan Film Kamu Harus Mati: Batas Tipis Antara Halusinasi dan Realitas!
-
Fenomena Melihat Hantu: Antara Halusinasi atau Cuan yang Harus Dieksekusi?
-
RSJ Grhasia DIY Tangani Mayoritas Pasien Skizofrenia Usia Produktif
-
Hubungan Kepemilikan Kucing dengan Kesehatan Mental, Benarkah Bisa Picu Gangguan Skizofrenia?
-
Ulasan Novel Eternal Memories: Perang Sepi antara Nyata dan Terasa Nyata
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?