Suara.com - Rasa sakit muncul untuk memberi sinyal ketika tubuh terluka. Dan ternyata, tidak semua orang dapat merasa sakit fisik.
Bagi beberapa orang yang memiliki kondisi congenital analgesia atau congenital insensitivity to pain, mereka sama sekali tidak dapat merasakan sakit fisik.
Congenital insensitivity to pain atau ketidakpekaan bawaan untuk merasa sakit adalah kondisi bawaan yang menghambat kemampuan seseorang untuk merasakan nyeri secara fisik.
Jadi, orang yang mengalami kondisi ini sama sekali tidak dapat merasa sakit di bagian tubuh mana pun tulis Genetic and Rare Diseases Information Center.
Misalnya, ketika seorang penderita congenital analgesia ini mengalami kecelakaan lalu lintas, ia tidak akan merasakan apapun meski anggota tubuh berdarah.
Jika Anda berpikir ini menyenangkan, nyatanya sama sekali tidak. Sebab, seiring waktu kondisi ini dapat menyebabkan akumulasi cedera dan masalah kesehatan yang dapat memengaruhi harapan hidup.
Ketidakpekaan bawaan terhadap rasa sakit disebabkan oleh mutasi gen SCN9A dan, dalam kasus yang jarang terjadi, disebabkan oleh mutasi gen PMRD12.
Kondisi ini dianggap sebagai bentuk neuropati perifer karena memengaruhi sistem saraf perifer. Saraf yang menghubungkan otak serta sumsum tulang belakang ke otot dan sel yang mendeteksi sensasi seperti sentuhan, bau, dan rasa sakit.
Meski begitu, orang dengan kondisi ini masih bisa merasakan perbedaan antara panas dan dingin atau tajam dan tumpul. Tetapi mereka tidak dapat merasakannya.
Baca Juga: Alami Rasa Sakit Setelah Berhubungan Seks? 3 Hal Ini Mungkin Penyebabnya
Biasanya, orang yang mengalami kondisi ini juga kehilangan indera penciuman mereka (anosmia). Dan saat masa kanak-kanak, mereka memiliki luka di mulut atau jari karena gigitan sendiri.
Congenital analgesia anggap sebagai gangguan genetik yang hanya diderita kurang dari satu dalam sejuta orang.
Berita Terkait
-
Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit
-
Bertemu Luhut di Istana, Prabowo Setuju Bikin 'Bank Harta Karun' Hayati, Apa Fungsinya?
-
Bukan Cuma Soal Ras, 7 Negara Ini Punya Campuran DNA Paling 'Gado-gado' di Dunia
-
Studi Genetik Mengungkap Rahasia Umur Panjang dari Wanita 117 Tahun
-
Qory Sandioriva 17 Tahun Lawan Autoimun, 13 Organ Diserang dan Hampir Buta
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi