Suara.com - Sekarang ini kecanggihan gadget atau ponsel seolah sudah membuat penggunannya menjadi kecanduan. Hampir semua orang pasti menyempatkan diri bermain ponsel sebelum tidur di kamar.
Padahal kebiasaan main gadget untuk urusan apapun sebelum tidur di kamar bisa memicu stroke mata. Apalagi jika Anda menggunakannya dalam kondisi ruangan gelap.
Para dokter telah mengungkapkan bahwa menatap perangkat elektronik, termasuk gadget dalam kegelapan, bisa menyebabkan gumpalan mata. Akibatnya, seseorang bisa mengalami kehilangan penglihatan yang parah jika tidak diobati.
Hal ini pun sudah dirasakan oleh seorang pria yang mengalami kebutaan sementara setelah terus-menerus menatap gadgetnya dalam kegelapan.
Dilansir dari The Sun, pria bermana Wang asal China tersebut sejenak kehilangan penglihatannya setelah bermain game di ponselnya dalam kondisi ruangan gelap.
"Saya menggunakan mata kanan saya untuk melihat ponsel saya, tetapi tiba-tiba saya tidak bisa melihat. Saya memang suka main ponsel di malam hari, sedangkan istri saya tidak suka tidur dalam kondisi lampu menyala. Jadi saya bermain ponsel dalam kondisi kamar gelap," kata Wang.
Setelah merasa tak beres dengan penglihatannya, Wang langsung berkunjung ke dokter yang mendiagnosisnya dengan oklusi arteri retina sentral alias stroke mata.
Stroke mata ini disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah yang membawa oksigen ke retina dan mengirimkan sinyal ke otak.
Dokter Lei Tao mengatakan bahwa Wang mengalami kebutaan sementara yang disebabkan oleh penggunaan gadget berlebihan. Itu menyebabkan ketegangan mata atau penglihatan yang berlebihan.
Baca Juga: Makan Secangkir Yogurt Setiap Hari Menurunkan Risiko Kanker Paru-paru!
"Kasus seperti ini selalu meningkat setiap tahunnya dan cenderung dialami oleh anak muda," jelas Lei Tao.
Penyumbatan arteri di retina yang terjadi tiba-tiba dan serius bisa menyebabkan kebutaan. Dalam medis, dokter menyebut kondisi ini sebagai stroke mata.
"Pencegahan sangat penting. Beristirahat dalam pola teratur, hindari begadang di malam hari dan melihat ponsel, televisi dan komputer dalam waktu yang lama," jelasnya.
Dokter Gareth Lema juga berpendapat bahwa kebutaan akibat gadget adalah kehilangan penglihatan sementara yang disebabkan oleh penggunaan ponsel terlalu konstan dalam kondisi cahaya rendah.
Banyaknya kasus kebutaan akibat penggunaan ponsel, tim ahli mata dari Rumah Sakit Mata Moorfields memberikan peringatan untuk membatasi penggunaan gadget.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Mobil Bekas 50 Jutaan Cocok untuk Milenial, Bodi Stylish Tak Repot Perawatan
- 5 Moisturizer dengan Alpha Arbutin untuk Memudarkan Flek Hitam, Cocok Dipakai Usia 40-an
- 5 Rekomendasi Ban Tubeless Motor Matic, Tidak Licin saat Hujan dan Jalan Berpasir
- 7 Mobil Boros Bahan Bakar Punya Tenaga Kuda, Tetapi Banyak Peminatnya
- Kronologi Lengkap Petugas KAI Diduga Dipecat Gara-Gara Tumbler Penumpang Hilang
Pilihan
-
4 HP Snapdragon Paling Murah, Cocok untuk Daily Driver Terbaik Harga mulai Rp 2 Jutaan
-
Dirumorkan Latih Indonesia, Giovanni van Bronckhorst Tak Direstui Orang Tua?
-
Jadi Kebijakan Progresif, Sineas Indonesia Ingatkan Dampak Ekonomi LSF Hapus Kebijakan Sensor Film
-
Daftar Maskapai RI yang Pakai Airbus A320
-
5 Tempat Ngopi Tersembunyi di Palembang yang Bikin Ketagihan Sejak Seduhan Pertama
Terkini
-
VELYS Robotic-Assisted: Rahasia Pemulihan Pasca Operasi Lutut Hanya dalam Hitungan Jam?
-
Waspada! Obesitas Dewasa RI Melonjak, Kenali Bahaya Lemak Perut yang Mengintai Nyawa
-
Kota Paling Bersih dan Sehat di Indonesia? Kemenkes Umumkan Penerimanya Tahun Ini
-
Dari Flu hingga Hidung Tersumbat: Panduan Menenangkan Ibu Baru Saat Bayi Sakit
-
Hasil Penelitian: Nutrisi Tepat Sejak Dini Bisa Pangkas Biaya Rumah Sakit Hingga 4 Kali Lipat
-
Cegah Bau Mulut akibat Celah Gigi Palsu, Ini Penjelasan Studi dan Solusi untuk Pengguna
-
Stop Jilat Bibir! Ini 6 Rahasia Ampuh Atasi Bibir Kering Menurut Dokter
-
Alarm Kesehatan Nasional: 20 Juta Warga RI Hidup dengan Diabetes, Jakarta Bergerak Melawan!
-
Panduan Memilih Yogurt Premium untuk Me-Time Sehat, Nikmat, dan Nggak Bikin Bosan
-
Radang Usus Kronik Meningkat di Indonesia, Mengapa Banyak Pasien Baru Sadar Saat Sudah Parah?