Suara.com - Metode Sunat Ini Diklaim Lebih Praktis dari Sunat Konvensional, Apa Bedanya?
Sunat atau khitan adalah tindakan sirkumsisi (bedah) untuk membuang kulup yang menutupi glans penis. Beragam alasan melakukan sunat mai dari alasan kesehatan tetapi juga alasan agama dan budaya.
Apapun alasannya, sunat memang terbukti baik bagi kesehatan kelamin laki-laki.
Meski demikian, sunat telah lama menjadi momok menakutkan terutama bagi anak laki-laki. Padahal, sudah banyak metode sunat yang lebih praktis dibanding metode sunat zaman dahulu atau sunat konvensional. Salah satunya adalah metode sunat Mahdian Klem yang sudah ada sejak 2015 lalu.
Berbeda dengan sunat konvensional yang memerlukan peralatan seperti pisau maupun jumlah tenaga medis yang lebih banyak, sunat klem diklaim lebih praktis dan luka lebih cepat kering.
"Metode klem sedang diminati dan banyak membantu. Karena proses sunatnya jauh lebih cepat dari biasanya dan tetap aman," ucap Dr. Encep Wahyudian dari Rumah Sunat dr. Mahdian, Rabu (13/11/2019).
Encep bercerita, awalnya alat klem yang digunakan di Indonesia datang dari negara lain seperti Malaysia dan Turki. Namun kini Indonesia telah berhasil menciptakan klem buatan dalam negeri yang dianggap sesuai dengan anatomi penis anak-anak Indonesia.
Kini Mahdian klem telah memiliki izin edar dari Badan POM dan teruji keamanannya. Dengan menggunakan metode ini, kata Encep, anak tetap dapat beraktifitas dan mandi atau terkena air.
Baca Juga: 5 Berita Kesehatan : Perbesar Mr P Pakai Filler dan Mengenal Night Terrors
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- Sunscreen SPF 50 Apa yang Bagus? Ini 5 Pilihan untuk Perlindungan Maksimal
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Harga Adidas Adizero Termurah Tipe Apa Saja? Ini 5 Varian Terbaiknya
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
Pilihan
-
Buntut Polemik Suket Pendidikan Gibran, Subhan Palal Juga Gugat Pimpinan DPR-MPR
-
Tok! Eks Sekretaris MA Nurhadi Divonis 5 Tahun Penjara dan Wajib Bayar Uang Pengganti Rp137 Miliar
-
Aksi Tenang Nenek Beruban Curi TV 30 Inci di Jatinegara Viral, Korban Tak Tega Lapor Polisi
-
Panglima TNI: Tiga Prajurit yang Gugur di Lebanon Terima Santunan Miliaran dan Pangkat Anumerta
-
Swasta Diimbau Ikut WFH, Tak Ada Sanksi Menanti
Terkini
-
Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia
-
Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien
-
Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia
-
Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin
-
Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak
-
Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026
-
Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS
-
Lawan Risiko Penyakit Pascabanjir: Membangun Kembali Harapan Lewat Akses Air dan Nutrisi Sehat
-
Solusi Makan Nasi Lebih Sehat: Cara Kurangi Karbohidrat Tanpa Diet Ekstrem