Suara.com - Suka hangout di kafe dan restoran bareng taman-teman atau sering hadir di acara jamuan makan memang membuat perut dilema.
Selera makan sudah pasti naik level, tapi takut merasa bersalah juga muncul pada saat yang bersamaan.
Bagaimana ya caranya agar bisa makan pada saat acara jamuan makan dan kumpul bersama teman-teman, tanpa tidak merasa bersalah? Paling tidak bisa kontrol diri atau bijak dalam memilh menu makanan yang masuk ke perut.
Astri Kurniati, Head of Nutrifood Research Center mengatakan, hadirnya tren makanan minuman kekinian tentunya tidak bisa kita hindari, apalagi untuk makan di luar rumah. Tapi makanan yang disajikan umumnya tinggi gula, garam, dan lemak sehingga meningkatkan risiko obesitas dan diabetes.
Data dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas 2018) Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa obesitas pada orang dewasa makin naik tiap tahunnya, yaitu 10,5% (2007), 14,8% (2013) dan 21,8% (2018). Sementara itu, prevalensi penyandang diabetes telah naik menjadi 8,5% (Riskesdas 2018) dari 6,9% (Riskesdas 2013).
Menurut data terbaru dari International Diabetes Federation (IDF) Atlas tahun 2017, sebanyak 10,3 juta jiwa masyarakat Indonesia merupakan diabetesi, membuat Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia dengan jumlah diabetes terbesar.
Sebagai langkah bijak memilih makanan saat jamuan makan atau ketika berkumpul bareng teman-teman, Astri Kurniati berbagi kiat agar bisa makan yang baik di tengah situasi yang tidak memungkinkan.
"Udah banyak tipsnya, tapi yang pasti adalah hindari gorengan, jadi mungkin lebih pilih makanan yang berkuah-kuah. Pilih makanan yang ditumis jadi minyaknya nggak banyak," ujar Astri saat ditemui Suara.com belum lama ini di Jakarta.
Baca Juga: Nenek Reino Barack Jadi Sorotan, Simak 5 Tips Sehat Orang Jepang
Ia menambahkan, kalau mau makan pasta pilih yang sausnya tomat bukan yang krim. Karena yang krim lemaknya lebih banyak. Kemudian kalau ingin makan yang berkuah seperti sup, bisa dibuat lebih cair lagi kuahnya dengan menambahkan air untuk mengurangi garam atau kuahnya jangan dihabiskan.
"Sedangkan untuk minuman high sugar, kita bisa ganti gulanya dengan yang rendah kalori atau minta takaran gulanya dikurangi. Bahkan untuk gula pengganti sudah ada beberapa kafe yang menyediakan, tapi kalau tidak ada bisa bawa dari rumah," tambahnya.
Untuk minuman yang gulanya diganti dengan madu, maka perlu diketahui kalau madu, kandungan glukosanya tinggi yang dapat dengan cepat meningkatkan kadar gula dalam darah. Makanya ada madu pengganti yang sudah diformulasikan khusus bebas glukosa.
"Jadi, coba pertimbangkan beberapa solusi alternatif yang tadi sudah disebutkan supaya tetap bisa hangout dan makan enak tanpa perlu merasa bersalah," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi