Suara.com - Baik wanita maupun pria dapat mengalami depresi dengan cara yang berbeda. Meski mereka juga akan mengalami tanda serta gejala umum, perlu dipahami bahwa mereka memiliki perbedaan mengalami depresi, kata peneliti.
"Kami telah mengetahui tentang perbedaan depresi berdasarkan jenis kelamin, dan sangat penting untuk mereka memahami penyakitnya," kata Jill Goldstein, direktur penelitian di Connors Center for Women's Health and Gender Biology di Brigham and Women's Hospital, Boston.
Salah satu perbedaan terbesarnya adalah wanita memiliki risiko sekitar dua kali lebih besar dalam mengembangkan depresi daripada pria. Kata Goldstein, ini disebabkan oleh kondisi biologis, seperti hormon dan gen yang terganggu ketika daerah otak berkembang saat wanita dan pria masih janin.
Melansir Live Science, berikut beberapa perbedaan depresi pada wanita dan pria.
1. Wanita cenderung merenung saat tertekan
Memikirkan dan mengulangi perasaan negatif, terjadi lebih sering pada wanita yang mengalami depresi. Perilaku ini mungkin melibatkan self-talk negatif, menangis tanpa alasan yang jelas dan menyalahkan diri sendiri.
Perenungan tidak membantu orang dan pada kenyataannya cenderung membuat mereka merasa lebih buruk, kata Goldstein. Tidak seperti wanita, pria cenderung mengalihkan perhatian ketika merasa down, yang membantu meringankan depresi.
2. Pria yang depresi cenderung menyalahgunakan alkohol dan obat-obatan terlarang
Pria dapat minum alkohol dengan jumlah lebih banyak atau beralih ke obat-obatan terlarang untuk mengobati diri mereka sendiri sebelum timbulnya depresi dan ini utamanya berlaku untuk remaja pria, kata Goldstein. Pada pria dan remaja laki-laki, depresi pun cenderung diekspresikan dengan kemarahan, tambah Goldstein.
Baca Juga: Depresi Ternyata Bisa Menular, Ini Penjelasannya
Sedangkan pada wanita, penyalahgunaan obat-obatan cenderung terjadi setelah timbulnya depresi atau ketika tingkat kecemasan meningkat.
3. Wanita merespons secara berbeda terhadap tekanan
Wanita mungkin lebih cenderung menjadi depresi dalam menanggapi peristiwa stres. Mereka cenderung merespons dengan cara yang memperpanjang perasaan stres mereka lebih daripada pria.
Ini mungkin karena interaksi antara hormon stres, hormon reproduksi wanita dan neurotransmiter pengatur suasana hati.
4. Gejala depresi pria mungkin lebih sulit dikenali oleh orang lain
Dokter dan bahkan anggota keluarga mungkin tidak mengetahui gejala depresi pria, sehingga mereka dapat berakhir dengan depresi berat sebelum terdeteksi.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi