Suara.com - Idol Kpop HyunA pernah didiganosis depresi dan gangguan panik pada 2016 silam. Saat itu, HyunA sempat tidak percaya memiliki masalaha kesehatan mental karena merasa baik-baik saja.
Gangguan panik adalah jenis gangguan kecemasan yang ditandai oleh serangan panik berulang-ulang. Sayangnya, banyak orang sering salah paham mengenai serangan panik yang merupakan gejala utama gangguan panik.
Sejumlah orang memercayai serangan panik hanya reaksi berlebihan terhadap peristiwa yang ditakuti atau ketidakmampuan untuk mengendalikan reaksi seseorang terhadap stres.
Melansir dari verywellhealth.com, banyak orang kurang memahami fakta-fakta mengenai serangan panik yang merupakan gejala dari gangguan panik.
1. Serangan panik bisa terjadi saat tidur
Serangan panik karena gangguan panik bisa saja terjadi ketika penderita sedang tidur. Jika gejala serangan panik di siang hari berupa gemetar, keringat berlebihan, dan nyeri dada, serangan panik di malam hari bisa membuat penderita mengalami sesak napas atau terengah-engah ketika bangun.
Serangan panik nokturnal juga ditandai dengan ketakutan yang intens dan perasaan takut. Tidak jarang orang tersebut merasa seolah-olah kehilangan kendali atas dirinya sendiri atau mengalami keadaan darurat medis.
2. Serangan panik hanya terjadi jika orang menderita gangguan panik
Serangan panik memang gejala utama gangguan panik. Tetapi, serangan panik juga bisa terjadi karena gangguan kesehatan mental lainnya.
Baca Juga: Belajar dari Sinkop Vasovagal HyunA, Begini Cara Menolongnya saat Pingsan
Menurut Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental, serangan panik bisa terjadi karena berbagai kondisi. Serangan panik sering dikaitkan dengan gangguan mood dan kecemasan lainnya, termasuk agorafobia, fobia spesifik, gangguan stres pasca-trauma ( PTSD ), gangguan obsesif-kompulsif ( OCD ), depresi dan gangguan bipolar.
3. Diet dan olahraga bisa berdampak kuat pada serangan panik
Olahraga teratur dan nutrisi yang tepat memang memiliki manfaat bagi kesehatan tubuh. Penelitian juga telah menemukan olahraga teratur bisa mengurangi perasaan stres, ketegangan terkait kecemasan dan sesak di seluruh tubuh.
Cara ini juga bisa mengurangi frekuensi serangan panik. Selain itu, peneliti juga telah mengungkapkan bahwa makanan dan zat tertentu bisa memicu kecemasan dan gejala serangan panik lainnya.
4. Menghindari fobia dapat meningkatkan ketakutan
Banyak penderita serangan panik mengembangkan perilaku menghindari situasi yang mereka yakini menyebabkan serangan panik. Misalnya, seseorang dengan gangguan panik mungkin menghindari berada di pusat perbelanjaan yang sibuk karena takut orang lain akan menyaksikannya mengalami serangan panik.
Begitu pula orang dengan fobia situasi atau objek tertentu. Pada awalnya, perilaku menghindar mungkin tampak logis. Tetapi, cara tersebut membuat Anda tidak memiliki pengalaman berbeda dalam hidup.
Selain itu, perilaku tersebut juga bisa menambah ketakutan dan kecemasan Anda.
Berita Terkait
Terpopuler
- Apa yang Terjadi Jika Gunung Anak Krakatau Meletus?
- 3 Pimpinan BGN Dilaporkan ke Ombudsman, Diduga Rangkap Jabatan di BUMN
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Lari Reebok yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 8 Pilihan Parfum di Alfamart yang Semakin Berkeringat Semakin Wangi
Pilihan
-
Dokumen Kunker Menteri PU ke New York Bocor, Ajak Istri dan Anak Jelang Final Piala Dunia?
-
PHK 1.250 Karyawan Tokopedia Berujung Aksi Buruh ke Kantor TikTok
-
Mengapa Kursi Komisaris Layak Untuk Sang Loyalis?
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
Terkini
-
Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu