Suara.com - Wabah Hepatitis A di Depok, Kemenkes Imbau Jakarta hingga Bekasi Waspada
Setelah Depok menyandang status kejadian luar biasa (KLB) karena wabah Hepatitis A, kini Kementerian Kesehatan RI memperingati kota-kota tetangganya seperti Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi untuk waspada karena virus berpotensi menyebar.
"Warga Jakarta dan Bekasi juga harus berhati-hati karena area ini berpotensi terjangkit," ujar Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kemenkes RI dr. Anung Sugihantono, M.Kes saat konferensi pers di Kemenkes RI, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (4/12/2019).
Adapun pencegahannya yakni dengan menerapkan pola hidup besih, seperti mencuci sayur dan buah menggunakan air bersih untuk membasmi kuman E-Colli yang bisa memicu penularan virus ini. Oleh karena itu, Anung menghimbau dinas kota terkait untuk memberikan penyuluhan hidup sehat.
"Antisipasi bagi masyarakat, saya minta dinas masyarakat berikan penyuluhan perilaku hidup sehat ini. Misalnya sekalipun di sebelah saya hepatitis, tapi ketika melakukan perilaku yang bersih dan hidup sehat nggak akan menular, sendok yang dipakai dicuci yang benar nggak akan menular, kalau benar-benar melakukan itu," papar Anung.
Sedangkan arahan untuk tenaga kesehatan, Anung mengingatkan untuk tidak pernah menaati sistem kewaspaan dini terhadap yang sudah dibentuk. Misalnya, ada kejadian penyakit yang tidak biasa untuk segera dilaporkan dalam waktu 1x24 jam.
"Menaati apa yang ada dalam sistem kewaspadaan dini dan respon dalam bentuk melaporkan kejadian dalam waktu 1x24 jam, sering kali karena tadi saya katakan kejadian (hepatitis) ini sudah banyak," papar Anung.
Anung juga bercerita kasus hepatitis A kali ini sempat kecolongan, karena informasi yang diterima Kemenkes cukup terlambat. Kejadian ditemukan pada 12 November, seharusnya selambat-lambatnya pada 14 November Kemenkes sudah mendapat laporan. Sayangnya, laporan baru diterima pada 21 November 2019.
Baca Juga: KLB Parsial, Sebanyak 51 Siswa SMPN 20 Depok Positif Hepatitis A
"Itu kan harusnya paling lambat ya tanggal 14 sudah sampai kesini, 12 November harusnya 1x 24 jam di kabupaten, dari kabupaten ke provinsi ke kita, jadi satu kesatuan besar," tuturnya.
"Tapi kalau ini penyakit tertentu harus 24 jam sampai ke tempat kita, ini juga diminta bapak menteri untuk sistem kewaspadaan ini kemudian muncul dalam satu kesatuan," sambungnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sampo Penghitam Rambut di Indomaret, Hempas Uban Cocok untuk Lansia
- 5 Mobil Kecil Bekas yang Nyaman untuk Lansia, Legroom Lega dan Irit BBM
- 7 Mobil Bekas untuk Grab, Mulai Rp50 Jutaan: Nyaman, Irit dan Tahan Lama!
- 5 Mobil Suzuki dengan Pajak Paling Ringan, Aman buat Kantong Pekerja
- 5 Mobil Bekas Rekomendasi di Bawah 100 Juta: Multiguna dan Irit Bensin, Cocok Buat Anak Muda
Pilihan
-
5 HP Xiaomi RAM 8GB Paling Murah Januari 2026, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terkapar di Level Rp16.819: Kepercayaan Konsumen Lesu, Fundamental Ekonomi Jadi Beban
-
Kala Semangkok Indomie Jadi Simbol Rakyat Miskin, Mengapa Itu Bisa Terjadi?
-
Emiten Ini Masuk Sektor Tambang, Caplok Aset Mongolia Lewat Rights Issue
-
Purbaya Merasa "Tertampar" Usai Kena Sindir Prabowo
Terkini
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli