Suara.com - Studi: Tinggal Jauh dari Kantor Bikin Pekerja Kurang Tidur dan Olahraga
Siapa dari Anda yang memiliki rumah di Bogor, Depok, Tangerang, atau Bekasi namun bekerja di Jakarta? Waspada, bisa jadi Anda mengalami masalah tidur lho!
Dilansir VOA Indonesia, sebuah studi dari Swedia menunjukkan orang-orang yang bekerja penuh waktu dan harus menempuh jarak jauh untuk bekerja, cenderung memiliki masalah tidur dan gaya hidup yang monoton dibanding rekan-rekan yang berkantor lebih dekat ke rumah.
Berdasarkan kajian tersebut, kalangan pekerja yang memiliki jam kerja lebih dari 40 jam seminggu dan setiap hari menempuh perjalanan lebih dari 30 menit untuk ke kantor, berisiko memiliki gaya hidup tidak aktif sebanyak 25 persen lebih tinggi. Selain itu mereka juga memiliki risiko masalah tidur sebanyak 16 persen lebih tinggi.
"Masalah tidur mungkin timbul dari kurangnya waktu untuk kegiatan pelepasan stres dan relaksasi," kata Jaana Halonen, ketua penulis studi dari Universitas Stockholm dan Institut Kesehatan dan Kesejahteraan Finlandia di Helsinki.
"Orang juga mungkin terlalu lelah untuk aktif secara fisik setelah hari kerja yang panjang dan bepergian," kata Halonen melalui email.
Halonen dan rekannya mencatat dalam Occupational & Environmental Medicine, jadwal harian kebanyakan orang dewasa ditentukan oleh rutinitas kerja mereka, termasuk berapa banyak waktu yang mereka habiskan untuk bekerja.
Meski jam kerja yang panjang telah dikaitkan dengan perilaku tidak sehat, seperti kurang aktif bergerak, merokok, dan kebiasaan makan yang buruk, tak banyak diketahui gabungan efek dari kerja berlebihan dan melakukan perjalanan jauh untuk bekerja dalam waktu lama.
Dalam melakukan studi tersebut, para peneliti melakukan survey terhadap lebih dari 22 ribu orang dewasa setidaknya dua kali antara 2008 dan 2018. Para peneliti menanyakan kepada responden tentang pekerjaan dan waktu tempuh perjalanan ke kantor, seberapa banyak mereka minum, merokok, berolahraga dan tidur. Mereka juga ditanya tentang tinggi dan berat peserta untuk menentukan indeks massa tubuh (BMI).
Baca Juga: Kelelahan akibat Kurang Tidur? Atasi dengan Banyak Minum Air Putih
Meski banyak pekerja memiliki rute yang konsisten untuk bekerja selama penelitian tersebut dilakukan, sebanyak 14 persen responden telah mengubah waktu perjalanan sekali selama penelitian. Sekitar 5 persen mengubah perjalanan setidaknya dua kali.
Kata studi tersebut, di antara orang-orang yang biasanya bekerja kurang dari 40 jam seminggu, waktu perjalanan tampaknya tidak mempengaruhi perilaku kesehatan, seperti minum, merokok atau berolahraga.
Orang dengan jam kerja lebih lama dan perjalanan panjang tampaknya lebih cenderung memiliki kelebihan berat badan dibandingkan mereka yang bekerja atau bepergian lebih sedikit. Namun, hal ini bisa jadi hanya karena kebetulan.
Para peneliti tidak memiliki data tentang bagaimana orang bepergian, sehingga tidak jelas apakah mereka memiliki mode transit yang tidak aktif seperti mengemudi atau jika mereka berolahraga dengan berjalan kaki atau bersepeda.
"Kami tahu berjalan kaki dan bersepeda untuk bepergian cenderung dikaitkan dengan kesehatan yang lebih baik," kata Oliver Mytton, seorang peneliti di University of Cambridge di Inggris yang tidak terlibat dalam penelitian ini. [VOA Indonesia]
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Cerita Eks Real Madrid Masuk Islam di Ramadan 2026, Langsung Bersimpuh ke Baitullah
- Sosok Arya Iwantoro Suami Dwi Sasetyaningtyas, Alumni LPDP Diduga Langgar Aturan Pengabdian
- Menkop Ferry Minta Alfamart dan Indomaret Stop Ekspansi Karena Mengancam Koperasi Merah Putih
Pilihan
-
SBY Sentil Doktrin Perang RI: Kalau Serangan Udara Hancurkan Jakarta, Bagaimana Hayo?
-
Kasus Pembakaran Tenda Polda DIY: Perdana Arie Divonis 5 Bulan, Hakim Perintahkan Bebas
-
Bikin APBD Loyo! Anak Buah Purbaya Minta Pemerintah Daerah Stop Kenaikan TPP ASN
-
22 Tanya Jawab Penjelasan Pemerintah soal Deal Dagang RI-AS: Tarif, Baju Bekas, hingga Miras
-
Zinedine Zidane Comeback! Sepakat Latih Timnas Prancis Usai Piala Dunia 2026
Terkini
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi
-
Anak Sekolah Jadi Kelompok Rentan, Pemantauan Aktif Vaksinasi Dengue Diperluas di Palembang
-
Cuma Pakai Dua Jari, Dokter Ungkap Cara Deteksi Sakit Jantung dari Raba Nadi