Suara.com - Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menorehkan prestasi. Tim yang beranggotakan 2 mahasiswa Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) meraih medali emas pada International Science Technology and Engineering Competition (ISTEC) 2020, 13-16 Januari 2020.
Acara yang dihelat di Graha Manggala Siliwangi, Bandung, Jawa Barat ini merupakan kompetisi internasional dalam sains, teknologi dan teknik yang diikuti 338 peserta yang terbagi dalam 174 tim dari 14 negara.
Dalam kompetisi yang diselenggarakan Bandung Creative Society berkolaborasi dengan Indonesian Young Scientist Association ini, tim mahasiswa UGM yang beranggotakan Regita Rahma Maharatri (Ilmu Keperawatan FK-KMKk) dan Ilham Fazri (Elins FMIPA) sukses memeroleh medali emas dari kategori teknologi.
Regita dan Ilham mengajukan inovasi berupa Smart Portable Peripheral Neuropathy Diabeticum Screening Tool atau Spherotec.
Dilansir dari Harian Jogja, Spherotec merupakan perangkat portabel yang terdiri dari berbagai sensor yang terhubung dengan aplikasi smartphone untuk mendeteksi neuropati perifer secara dini pada penderita diabetes melitus.
Selanjutnya, lewat aplikasi tersebut akan diklasifikasikan tingkat risikonya dari 0-3 sesuai dengan data International Diabetes Federation (IDF).
Mereka menjelaskan ide pengembangan perangkat ini berawal dari kegelisahan akan tingginya jumlah penderita diabetes yang terus meningkat setiap tahunnya.
Data IDF mencatat saat ini terdapat 463 juta orang hidup dengan diabetes dan diprediksi jumlahnya akan terus meningkat hingga 51 persen pada tahun 2045.
"Diabetic Peripheral Neuropathy merupakan komplikasi yang paling sering dijumpai pada penderita diabetes. Jika tidak dilakukan pemeriksaan secara dini, neuropati perifer ini akan berkembang menjadi ulkus kaki dan dapat mengarah ke lower extremity amputation," paparnya, seperti dikutip dari laman resmi UGM.
Baca Juga: Haruskah Suntik Insulin pada Penderita Diabetes Tipe-1?
Selain itu, dalam Spherotec juga disematkan fitur edukasi sesuai dengan tingkat risiko yang diperoleh untuk mencegah risiko menjadi semakin lebih tinggi.
"Setelah dilakukan pemeriksaan dan muncul hasilnya pun harapannya dapat diberikan tindak lanjut berupa edukasi. Hal ini dilakukan agar risiko neuropathy peripher tidak terus meningkat. Harapannya inovasi alat ini bisa sampai produksi dan industri," kata Regita.
Dikutip dari WebMD, Diabetic Peripheral Neuropathy adalah kerusakan saraf yang disebabkan oleh gula darah tinggi dan diabetes. Merupakan komplikasi diabetes paling umum yang menyebabkan mati rasa, kehilangan sensasi dan kadang-kadang rasa sakit di kaki, paha atau tangan.
Infeksi yang tidak segera disembuhkan dapat menyebabkan risiko mengembangkan bisul dan dapat menyebabkan amputasi bahkan kematian.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!