Suara.com - Sejak awal tahun 1990, tren penyebab kematian di Indonesia meliputi kecelakaan, penyakit menular dan penyakit tidak menular. Adapun penyakit tidak menular (PTM), termasuk stroke, jantung iskemik, kanker dan diabetes melitus.
Saat itu penyebab kematian akibat PTM masih tergolong kecil, yakni 37 persen. Tetapi seiring berjalannya waktu, kasus kematian akibat PTM meningkat hingga 57 persen di tahun 2000, melebihi kasus penyakit menular.
Berdasarkan data Riskesdas tahun 2007 dan 2013, tingginya kematian akibat PTM di Indonesia ini disebabkan oleh gaya hidup masyarakat yang kurang aktivitas fisik, yakni sekitar 26,1 persen.
Sedangkan, penyebab lainnya meliputi pola makan kurang sehat dan kebiasaan merokok yang meningkat. Menurut data, sekitar 36 persen pria sudah mulai merokok usia 15 tahun dan 1,9 persen wanita usia 10 tahun mulai merokok.
Ketua PERHOMPEDIN Cabang Yogyakarta sekaligus Kepala Divisi Hematologi-Onkologi Medik, Departemen Penyakit Dalam, FKKMK UGM dr. Johan Kurnianda, pun mengatakan salah satu PTM yang menyebabkan kematian tertinggi adalah kanker.
Di Indonesia, kanker yang paling rentan menyerang wanita seperti kanker payudara, leher rahim, paru-paru dan usus. Sedangkan, pria lebih rentan menderita kanker paru-paru, usus dan lambung.
Dalam hal ini, angka kejadian kanker paru-paru pada pria hampir sama dengan tingkat kematiannya. Johan Kurnianda mengatakan kasus kanker di Indonesia ini sangat berbeda dengan negara di Eropa.
"Saya mengambil contohnya kanker usus. Di Eropa, kanker itu penyakitnya para pensiunan. Tapi di Indonesia, kanker itu penyakitnya orang produktif di bawah usia 50 tahun. Kanker kita juga memiliki faktor risiko yang berbeda dengan di sana," jelas dr. Johan Kurnianda, Jumat (14/2/2020).
Johan Kurnianda juga mengatakan banyak pasien kanker di Indonesia baru datang ke rumah sakit setelah stadium 3 atau 4. Padahal kanker stadium 3 hingga 4 sudah tergolong sulit disembuhkan.
Baca Juga: Top 5 Olahraga: Pahlawan Bulutangkis RI Wafat, Imbas Virus Corona
Selain itu, Johan Kurnianda juga menyoroti penyebab kanker akibat kebiasaan kurang aktivitas fisik. Hal ini tidak hanya berguna untuk orang yang belum terkena kanker, tetapi juga pasien dan mantan penderita kanker.
"Salah satunya yang menyebabkan kanker itu malas bergerak. Padahal aktivitas fisik ringan yang dilakukan terus-menerus itu sudah cukup mengurangi risiko kanker," jelasnya.
Pakar Physical Activity Dr. Shaunna Burke dari School of Biomedical Science, University of Leeds, mengatakan aktivitas fisik sangat berperan penting dalam pencegahan, terapi maupun kesintasan pasien kanker.
"Sudah ada penelitian yang membuktikan kalau aktivitas fisik bisa mengurangi risiko beberapa jenis kanker. Salah satunya, berkurangannya risiko kanker payudara dan kanker kolorektal hingga 40 persen," kata Dr. Shaunna Burke.
Selain itu, aktivitas fisik juga membantu menurunkan efek samping pasien kanker secara fisik dan psikologis. Dalam hal ini, aktivitas fisik bisa menurunkan depresi, kecemasan dan tingkat stres pasien kanker.
Dr. Shaunna Burke juga mengatakan aktivitas fisik bisa membantu meningkatkan kualitas hidup para penyintas kanker.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- Promo Indomaret Hari Ini 1 Mei 2026, Dapatkan Produk Hemat 30 Persen
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
Berat Badan Tak Kunjung Naik? Susu Flyon Jadi Salah Satu Solusi yang Dilirik
-
Lebih Banyak Belum Tentu Lebih Baik: Fakta Mengejutkan di Balik Kebiasaan Konsumsi Suplemen Anda
-
Nyeri Lutut pada Perempuan Tak Boleh Dianggap Sepele, Mesti Waspada Hal Ini
-
Olahraga Bukan Hanya Soal Kompetisi bagi Anak: Bisa Jadi Cara Seru Membangun Gaya Hidup Aktif
-
Studi Ungkap Mikroplastik Ditemukan di Dalam Tubuh Manusia, Bisa Picu Gangguan Pencernaan
-
Kebutuhannya Berbeda dengan Dewasa, Ini 5 Alasan Si Kecil Perlu ke Dokter Gigi Anak
-
Cuma 30 Menit, Ini Rahasia Bonding Berkualitas di Tengah Kesibukan Orang Tua
-
Cacar Api Mengintai Diam-Diam: Kelompok Rentan Bisa Alami Komplikasi Lebih Berat
-
Kata 'Capek' Sering Dianggap Sepele Mahasiswa, Padahal Sinyal Distress Mental?
-
Cara Ibu Modern Menghadirkan Kenyamanan di Rumah: Perhatian Tulus hingga Kelembutan Plenty