Berikut adalah ranking dari WSJ melalui akun instagramnya:
1. Korea Selatan: 6.148 tes dalam 1 juta orang
2. Australia: 4.473,4 tes dalam 1 juta orang
3. Italia: 3.498,7 tes dalam 1 juta orang
4. Inggris: 959,7 tes dalam 1 juta orang
5. Finlandia: 537,6 tes dalam 1 juta orang
6. Amerika Serikat (AS): 313,6 tes dalam 1 juta orang
7. Vietnam: 159 tes dalam 1 juta orang
8. Jepang: 117,8 tes dalam 1 juta orang
9. Afrika Selatan: 109,6 tes dalam 1 juta orang
10. Kolombia: 81,7 tes dalam 1 juta orang
11. Filipina: 11,6 tes dalam 1 juta orang
12. India: 10,5 tes dalam 1 juta orang
13. Pakistan: 9,5 tes dalam 1 juta orang
14. Indonesia: 7,4 tes dalam 1 juta orang
Kurangnya tes juga terbukti pada kasus pemakanan berprotap di Jakarta yang jumlahnya dua kali lipat dari pada kematian terkonfirmasi.
"Sejauh ini, pemerintah hanya memfokuskan pemeriksaan pada orang yang memiliki gejala seperti demam (lebih dari 38 derajat Celcius), pilek, batuk, sakit tenggorokan atau sesak napas setelah kontak fisik dengan pasien positif atau bepergian ke wilayah terjangkit dalam 14 hari terakhir," tulis Henry.
Pada hasil penelitian pemodelan matematika oleh Timothy W Russell dan tim peneliti dari London School of Hygiene and Tropical Medicine Inggris menyatalan, bahwa sekitar 4,5% dari total kasus bergejala yang diperkirakan ada di masyarakat.
2. Banyaknya Orang Terinfeksi Tidak Bergejala atau Ringan
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan 80 persen orang terinfeksi corona biasanya mengalami gejala ringan.
Melansir dari South China Morning Post (SCMP), sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti di Singapura dan diterbitkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS memperkirakan sekitar 10 persen infeksi Covid-19 dipicu oleh orang yang tidak mengalami gejala signifikan.
Penelitian tersebut baru diterbitkan pada Rabu (1/4/2020).
Baca Juga: UNY Beri Mahasiswa Paket Data, Kaum Provider Ini Disuruh Rektor Ganti Kartu
Sayangnya tes yang dilakukan di Indonesia hanya untuk orang dengan gejala signifikan.
"Hal ini mengakibatkan kemungkinan besar orang yang mengalami gejala ringan akan mengobati diri sendiri sampai sembuh, sehingga tidak terdeteksi oleh sistem kesehatan," tulis Henry.
"Temuan ini mengindikasikan bahwa jumlah kasus Covid-19 yang dilaporkan hingga saat ini masih sangat jauh dari jumlah kasus yang sebenarnya terjadi di masyarakat, termasuk di Indonesia," tambahnya.
3. Tingginya Penderita Penyakit Kronis
WHO menyatakan, bahwa setidaknya enam dari 10 penyebab kematian di dunia adalah karena penyakit kronis.
Tingginya penderita penyakit kronis di Indonesia juga bepeluang memperbesar risiko kematian akibat Covid-19.
"Tingginya angka kesakitan penyakit kronis di Indonesia seperti penyakit jantung koroner 1,5% dari total populasi pada 2018 atau 4 juta orang, diabetes melitus (1,5% atau 4 juta), dan hipertensi (34% atau 60 juta dari grup populasi berusia 18 tahun ke atas) dapat meningkatkan risiko kematian pada kasus COVID-19," tulis Henry yang juga merupakan seorang epidemologis.
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Perawatan Gigi Anak yang Nyaman, Bantu Si Kecil Tumbuh dengan Senyum Sehat dan Percaya Diri
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance