Suara.com - Pengembangan obat Covid-19 terus dilakukan. Dilaporkan baru-baru ini, para peneliti meningkatkan produksi obat yang menjanjikan yang telah terbukti efektif dalam melenyapkan SARS-CoV dalam kultur seluler.
Tim berharap bahwa obat itu mungkin juga efektif dalam perang melawan sepupu genetik dekat SARS, virus corona baru (Covid-19).
Dilansir dari Science Daily, penelitian ini dipimpin oleh Northwestern University dan ShanghaiTech University. Tim tersebut telah menghasilkan molekul yang menjanjikan, yang disebut valinomycin, dalam sistem bebas sel.
Dengan pendekatan ini, mereka meningkatkan hasil produksi lebih dari 5.000 kali hanya dalam beberapa siklus desain cepat, mencapai konsentrasi molekul yang lebih tinggi daripada yang dicapai sebelumnya dalam sel.
"Karena kami menggunakan sistem bebas sel, kami dapat mengoptimalkan produksi lebih cepat daripada dalam sel untuk lebih meningkatkan hasil," kata Michael Jewett dari Northwestern, yang memimpin penelitian ini.
"Misalnya, siklus optimisasi jalur memakan waktu berhari-hari daripada berminggu-minggu atau berbulan-bulan, dan kecepatan ini bisa sangat penting ketika berhadapan dengan pandemi seperti wabah corona Covid-19," jelasnya.
Penelitian ini dipublikasikan online baru-baru ini di jurnal Metabolic Engineering dan akan muncul dalam edisi cetak Juli 2020.
Jewett memimpin beberapa proyek yang menggunakan bioteknologi bebas sel untuk mempercepat terapi Covid-19.
Kelompoknya mengeluarkan mesin molekuler dari sel dan kemudian menggunakan mesin itu untuk membuat suatu produk, seperti terapi, dengan cara yang aman, murah dan cepat.
Baca Juga: Bermasalah, Studi Klorokuin untuk Covid-19 Dihentikan Lebih Awal di Brasil
Idenya mirip dengan membuka kap mobil dan melepas mesin, yang memungkinkan peneliti untuk menggunakan mesin untuk tujuan yang berbeda, bebas dari kendala mobil.
Peptida yang terjadi secara alami, valinomycin baru-baru ini muncul sebagai antivirus potensial untuk mengobati SARS. Jewett membayangkan menggunakan biologi sintetis bebas sel untuk menemukan molekul yang sama atau memodifikasi valinomycin agar lebih aman dan lebih kuat.
Jewett adalah anggota Institut Proses Proses Kimia Northwestern dan Pusat Kanker Komprehensif Robert H. Lurie dari Universitas Northwestern.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
- 5 Kipas Angin Sedingin AC Lebih Murah dan Irit Listrik
- Ramalan 12 Shio Bulan di Juli 2026: Peruntungan Karier, Keuangan, Asmara, dan Kesehatan
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah
-
Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress
-
Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama
-
Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia
-
Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak
-
Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini
-
Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes
-
Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol
-
Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu
-
Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat