Suara.com - Tes Corona Covid-19 dengan Rapid Tes Bisa Keliru, Ternyata Ini Penyebabnya
Salah satu pengujian Covid-19 bisa dilakukan dengan rapid tes atau tes cepat. Dengan tes tersebut, orang bisa mengetahui apakah di dalam tubuhnya terdapat virus corona Covid-19 melalui pemeriksaan darah.
Meski demikian, penggunaan rapid tes bisa jadi keliru dan mengeluarkan hasil yang tidak akurat. Hal ini bisa disebabkan beberapa faktor.
Ketua Tim pakar Gugus Tugas Covid-19 Prof. Drh Wiku Adisasmito menjelaskan, rapid tes yang paling umum digunakan dengan pengukuran antibodi dalam tubuh melalui darah.
Salah satu ciri antibodi dalam tubuh telah terbentuk dengan munculnya gejala sakit.
"Jadi kalau sudah ada gejala itu sebenarnya reaksi tubuh melawan virus. Melawannya itu dengan antibodi. Antibodi itu yang kita ukur dengan tes cepat," papar Wiku dalam siaran langsung melalui kanal YouTube BNPB Indonesia, Rabu (15/4/2020).
Ia menambahkan bahwa antibodi baru akan muncul sempurna setelah tujuh hari pasca pertama kali paparan virus. Namun jika orang yang telah terpapar namun tidak menunjukan gejala apa pun hingga lewat dari tujuh hari, itulah yang disebut orang tanpa gejala atau OTG.
Sehingga Wiku mengatakan bahwa pengujian menggunakan rapid tes harus dilakukan pada waktu yang tepat.
"Kalau diuji melalui rapid tes hasilnya bisa negatif karena belum ada gejala atau baru saja ada gejala tapi antibodi belum cukup untuk bisa dideteksi oleh rapid tes," jelasnya.
Baca Juga: Ahli Uji Obat Colchicine untuk Pasien Virus Corona Covid-19!
Kualitas alat tes juga bisa mempengaruhi hasil pengujian virus corona dalam tubuh.
Wiku menegaskan, penggunaan rapid tes harus dilakukan oleh petugas kesehatan. Karena akan risiko jika dilakukan oleh orang awam.
"Risiko pada saat mengambil darah, itu bahaya kalau diambil oleh orang yang tidak profesional. Caranya harus benar," ucapnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
-
Israel Bombardir Lebanon, 74 Warga Jadi Korban Satu Keluarga Tewas Saat Kabur
-
AS-Iran Kembali Sepakati Gencatan Senjata, Harga Minyak Stabil di USD 90
Terkini
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI
-
Mengapa Lupus Lebih Banyak Menyerang Wanita?