Suara.com - Sejauh ini, orang memahami wabah virus corona Covid-19 terjadi akibat penularan dari kelelawar ke manusia. Tapi, virus corona Covid-19 dari kelelawar ini diduga bisa menular lewat hewan lain.
Sebuah studi baru dilansir oleh The Sun menemukan bahwa anjing liar bisa menularkan virus corona Covid-19 dari kelelawar ke manusia.
Para peneliti menduga virus corona Covid-19 mungkin telah bermutasi di usus anjing sebelum menular ke manusia. Lalu, virus mematikan ini menginfeksi hampir 2 juta orang di dunia.
Studi awal menunjukkan virus corona jenis baru ini memang berasal dari kelelawar. Tapi, para ilmuwan telah berusaha menemukan hewan mana yang memindahkan virus dari kelelawar ke manusia.
Mereka mengatakan sangat penting untuk mengetahui cara kerja infeksi virus corona Covid-19. Sehingga para ahli bisa menemukan vaksin dan perawatan yang tepat untuk menghentikan penyebaran virus corona Covid-19.
Sejauh ini, penelitian telah menghubungan trenggiling dan ular sebagai penyebar virus corona Covid-19 dari kelelawar. Tapi, tim peneliti di Kanada justru menemukan anjing sebagai hewan lain yang menularkan virus kelelawar ke manusia.
Menurut peneliti, penyebaran virus corona Covid-19 ini terjadi akibat anjing liar yang mengonsumsi daging kelelawar. Lalu, anjing menularkan virus dari daging kelelawar yang dikonsumsinya ke manusia.
Meski begitu, Prof James Wood, kepala Kedokteran Hewan di University of Cambridge mengatakan para pemilik anjing tak perlu khawatir dengan adanya temuan baru ini.
"Saya tidak melihat adanya dukungan kuat dari penelitian ini. Saya justru khawatir makalah penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal," jelas James Wood.
Baca Juga: Lakukan 5 Hal Ini untuk Bakar Banyak Kalori saat di Rumah Aja
James Wood mengkritik penelitian ini karena mengandalkan terlalu banyak inferensi dan terlalu sedikit datanya.
Sedangkan Prof Xia, ahli biologi di Universitas Ottawa mengatakan hipotesis baru mereka menunjukkan bahwa virus corona Covid-19 yang ditularkan dari kelelawar telah menginfeksi usus anjing.
"Ini kemungkinan besar menghasilkan evolusi virus yang cepat dan lompatannya ke manusia. Temuan ini juga menunjukkan pentingnya pemantauan virus corona Covid-19 pada anjing liar," jelasnya.
Sementara itu, peneliti melihat hal berbeda pada trenggiling dan ular yang sempat dicurigai bisa menularkan virus corona Covid-19 dari kelelawar ke manusia.
Peneliti justru melihat virus yang ditemukan pada trenggiling dan ular terlalu berbeda dari virus corona Covid-19. Jadi, kurang tepat bila menetapkan hewan-hewan itu sebagai biang keroknya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 43 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 7 Maret 2026: Klaim 10 Ribu Gems dan Kartu Legenda
- 6 HP Terbaik di Bawah Rp1,5 Juta, Performa Awet untuk Jangka Panjang
- 8 Rekomendasi Moisturizer Terbaik untuk Mencerahkan Wajah Jelang Lebaran
- Langkah Progresif NTT: Program Baru Berhasil Hentikan Perdagangan Daging Anjing di Kupang
- Siapa Istri Zendhy Kusuma? Ini Profil Evi Santi Rahayu yang Polisikan Owner Bibi Kelinci
Pilihan
-
Patuhi Perintah Trump, Australia Kasih Suaka ke 5 Pemain Timnas Putri Iran
-
Trump Umumkan Perang Lawan Iran Selesai Usai Diskusi dengan Vladimir Putin
-
BREAKING NEWS: Mantan Pj Gubernur Sulsel Tersangka Korupsi Bibit Nanas
-
Trump Cetak Sejarah di AS: Presiden Pertama yang Berperang Tanpa Didukung Warganya
-
IHSG Keok 3,27 Persen Terimbas Konflik Iran-AS, Bos BEI: Kita Sudah Kuat!
Terkini
-
Vaksin Campak Apakah Gratis? Ini Ketentuannya
-
Tak Hanya Puasa, Kemenkes RI Sarankan Kurangi Garam, Gula, dan Lemak saat Ramadan
-
Gaya Hidup Sehat dan Aktif Makin Jadi Pilihan Masyarakat Modern Indonesia
-
Empati Sejak Dini, Ramadan Jadi Momen Orang Tua Tanamkan Nilai Kebaikan pada Anak
-
Stop Target Besar! Rahasia Konsisten Hidup Sehat Ternyata Cuma Dimulai dari Kebiasaan Kecil
-
Bibir Sumbing pada Bayi: Penyebab, Waktu Operasi, dan Cara Perawatannya
-
5 Rekomendasi Susu Kambing Etawa untuk Jaga Kesehatan Tulang dan Peradangan pada Sendi
-
Mencetak Ahli Gizi Adaptif: Kunci Menghadapi Tantangan Malnutrisi di Era Digital
-
Tips Memilih Klinik Tulang Terpercaya untuk Terapi Skoliosis Non-Operasi
-
Presisi dan Personalisasi: Arah Baru Perawatan Kanker di Asia Tenggara