Suara.com - Virus corona yang muncul lebih dari empat bulan lalu di Wuhan, China, telah bermutasi dan jenis baru yang dominan menyebar di Amerika Serikat tampaknya lebih menular, menurut sebuah studi baru.
Studi yang terbit pada Kamis (30/4/2020) di BioRxiv ini juga mengatakan jika virus corona tidak mereda di musim panas seperti flu musiman, dapat bermutasi lebih lanjut dan berpotensi membatasi efektivitas vaksin Covid-19 yang sedang dikembangkan para ilmuwan.
Beberapa vaksin telah menggunakan urutan genetik virus yang diisolasi oleh otoritas kesehatan di awal wabah.
"Ini adalah berita sulit," kata Bette Korber, ahli biologi komputasi di Los Almos dan penulis utama studi ini.
"Tetapi, tim kami di LABK mampu mendokumentasikan mutasi ini dan dampaknya pada penularan hanya karena upaya global yang besar dari orang-orang klinis dan kelompok eksperimen, yang membuat urutan baru dari virus (SARS-CoV-2) di komunitas lokal mereka tersedia secepat yang mereka bisa," lanjutnya, dikutip dari CNBC.
Studi ini belum peer-review, tetapi para peneliti mencatat bahwa kabar mutasi ini dangat mendesak, mengingat lebih dari 100 vaksin dalam proses pengembangan.
Pada awal Maret, para peneliti di China mengatakan mereka menemukan bahwa dua strain virus corona lain dapat menyebabkan infeksi di seluruh dunia.
Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada tanggal 3 Maret, para ilmuwan di Peking University’s School of Life Sciences dan Institut Pasteur of Shanghai menemukan jenis yang lebih agresif dari virus corona baru telah menyumbang sekitar 70% dari strain yang dianalisis, sementara 30% telah dikaitkan dengan tipe kurang agresif.
Jenis yang lebih agresif dan mematikan ditemukan lazim pada tahap awal wabah di Wuhan.
Baca Juga: Jumlah Ibu Hamil Makin Banyak Selama WFH karena Pandemi Corona di Sukoharjo
Para peneliti Los Alamos, dengan bantua para ilmuwan di Duke University dan University of Sheffield di Inggris, mampu menganalisis ribuan rangkaian virus corona yang dkimpulkan oleh Global Initiative for Sharing All Influenza, sebuah organisasi yang mempromosikan pembagian data secara cepat dari semua virus influenza dan virus corona.
Hingga saat ini, para peneliti telah mengidentifikasi 14 mutasi.
Mutasi berdampak pada protein lonjakan, mekanisme multifungsi yang memungkinkan virus masuk ke inang.
Penelitian ini didukung oleh dana dari Medical Research Council, National Institute of Health Research dan Genome Research Limited.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Rekomendasi HP Memori 256 GB Paling Murah, Kapasitas Lega, Anti Lag Harga Mulai Rp1 Jutaan
- Jalan Putri Hijau/Yos Sudarso Medan Ditutup 31 Januari hingga 6 Februari, Arus Lalin Dialihkan
- 5 Bedak Wardah High Coverage untuk Flek Hitam Membandel Usia 55 Tahun
- Reshuffle Kabinet: Sugiono Jadi Menko PMK Gantikan 'Orang Jokowi', Keponakan Prabowo Jadi Menlu?
- 3 Pilihan HP Infinix 5G dengan Performa Tinggi dan Layar AMOLED
Pilihan
-
Siapa yang Meminta Iman Rachman Mundur dari Dirut BEI?
-
Skandal Sepak Bola China: Eks Everton dan 72 Pemain Dijatuhi Sanksi Seumur Hidup
-
Iman Rachman Mundur, Penggantinya Sedang Dalam Proses Persetujuan OJK
-
Purbaya: Mundurnya Dirut BEI Sentimen Positif, Saatnya Investor 'Serok' Saham
-
5 Fakta Menarik Cheveyo Balentien: Pemain Jawa-Kalimantan yang Cetak Gol untuk AC Milan
Terkini
-
Dehidrasi Ringan Bisa Berakibat Serius, Kenali Tanda dan Solusinya
-
Indonesia Masih Kekurangan Ahli Gizi, Anemia hingga Obesitas Masih Jadi PR Besar
-
Cedera Tendon Achilles: Jangan Abaikan Nyeri di Belakang Tumit
-
Super Flu: Ancaman Baru yang Perlu Diwaspadai
-
3D Echocardiography: Teknologi Kunci untuk Diagnosis dan Penanganan Penyakit Jantung Bawaan
-
Diam-Diam Menggerogoti Penglihatan: Saat Penyakit Mata Datang Tanpa Gejala di Era Layar Digital
-
Virus Nipah Sudah Menyebar di Sejumlah Negara Asia, Belum Ada Obatnya
-
Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Punya Layanan Bedah Robotik Bertaraf Internasional
-
Hari Gizi Nasional: Mengingat Kembali Fondasi Kecil untuk Masa Depan Anak
-
Cara Kerja Gas Tawa (Nitrous Oxide) yang Ada Pada Whip Pink