Suara.com - Gawat! Pandemi Covid-19 Disebut Mengancam Upaya Pengentasan TBC
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), setiap tahun ada 10 juta orang di dunia mengidap Tuberkulosis (TBC). Penyebaran penyakit ditengarai bisa meluas di tengah pandemi Covid-19.
Sebuah kajian yang dipublikasikan 6 Mei 2020 menegaskan bahwa pandemi virus corona ini akan mengancam hasil upaya memerangi TBC yang dicapai dalam 5-8 tahun terakhir.
Berdasarkan pemodelan yang dilakukan oleh Stop TB Partnership (global) bersama Imperial College, Avenir Health dan Universitas John Hopkins dengan dukungan USAID mengindikasikan jumlah orang dengan TBC pada 2025 akan bertambah 6.3 juta dan kematian akibat TBC bertambah 1.4 juta di dunia.
Situasi pandemi mengakibatkan deteksi kasus TBC di berbagai negara menurun dan tentunya muncul tantangan baru dalam pengawasan pasien TBC yang harus minum obat secara teratur.
Kementerian Kesehatan telah mengeluarkan Protokol Pelayanan TBC di Masa Pandemi Covid-19 untuk memastikan bahwa layanan TBC tetap berjalan. Sehingga, pasien TBC dapat membawa obat anti TBC (OAT) untuk durasi lebih panjang.
Beberapa tantangan juga dialami oleh pasien TBC setelah diterapkannya PSBB di beberapa daerah.
Seperti misalnya sekitar 25 persen puskesmas tak lagi melakukan diagnosis TBC melalui pemeriksaan dahak. Ini menyebabkan pasien, terutama yang memiliki resistensi obat, kesulitan karena perlu melakukan suntik atau kontrol dahak ulang serta konsultasi klinis ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Penasihat Senior Program TBC Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama, Dr. Esty Febriani, yang terlibat sebagai Dewan Penasihat STPI dan anggota WHO Civil Society Task Force juga berpendapat soal hal ini.
Baca Juga: DBD dan TBC, Penyakit Menular yang Memperburuk Kematian Pasien Covid-19
"Kader dan pendamping pasien TBC menyampaikan tantangan terbesar pasien adalah transportasi karena tidak semua rumah tangga pasien TBC memiliki kendaraan pribadi. Sebelumnya beberapa pasien menggunakan ojek untuk ke Rumah Sakit atau Puskesmas," ungkapnya dalam rilis yang diterima Suara.com, Kamis (7/5/2020).
Presiden RI Joko Widodo sebelumnya menyampaikan bahwa TBC di Indonesia merupakan tertinggi ketiga di dunia. Setiap hari 2.300 orang jatuh sakit akibat TBC di Indonesia.
Oleh karena itu, Stop TB Partnership Indonesia ingin menekankan kembali bahwa Pemerintah bersama organisasi masyarakat, tenaga profesi kesehatan, akademisi dan peneliti, serta media perlu menyiapkan strategi untuk kembali mengejar upaya eliminasi TBC 2030.
Pemulihan hasil capaian program yang telah diperoleh selama beberapa tahun terakhir akan membutuhkan investasi untuk sistem kesehatan nasional dan daerah yang mencakup peningkatan penemuan kasus secara aktif, keterlibatan masyarakat yang intensif dan pelacakan kontak.
Hal ini tidak dapat bersifat business as usual tetapi inovatif dan kreatif memanfaatkan teknologi digital baik untuk diagnosis maupun upaya pencegahan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
-
Link Live Streaming Portugal vs Kongo: Panggung Sesungguhnya CR7?
Terkini
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut