Suara.com - Pandemi virus corona Covid-19 juga meningkatkan kasus kekerasan selama semua orang diminta tetap bertahan di rumah aja. Kondisi ini tentunya bisa meningkatkan risiko banyak orang mengalami PTSD (gangguan stres pasca-trauma).
Salah satunya, Ariel, seorang warga Amerika Serikat keturunan China yang berhasil lolos dari kekerasan rumah tangga selama pandemi virus corona Covid-19.
Tingkat rasisme terhadap warga sipil China di tengah pandemi virus ini telah meningkatkan kasus kekerasan dalam rumah tangga, seperti yang dialami Ariel.
Ariel sudah didiagnosis menderita PTSD sejak 3 tahun lalu. Tetapi, Ariel berhasil bangkit dari kondisinya itu dengan berinteraksi sosial untuk mengatasi kecemasannya.
"Sekarang kita harus tetap di dalam rumah dan karantina mandiri, jadi cara biasanya saya melawan trauma sudah hilang. Saya menjadi takut keluar rumah karena takut diserang orang di sekitar," ujar Ariel dikutip dari Health.
Sama halnya dengan Ariel, semua orang yang sebelumnya tidak memiliki PTSD bisa mengalaminya selama pandemi virus corona Covid-19 sekarang ini.
Semua orang rentang mengalami masalah kesehatan mental PTSD dalam jangka panjang akibat jarak sosial, trauma terhadap peristiwa global yang belum pernah terjadi, ancaman virus, dampak pandemi pada ekonomi hingga beban hidup yang dirasakan selama pandemi.
Meskipun gangguan mental PTSD pada setiap orang berbeda, ada tanda-tanda tertentu yang perlu diwaspadai.
Annie Miller, seorang psikoterapis di Washington DC mengatakan PTSD adalah serangakan gejala yang diakibatkan oleh trauma dan bisa sangat menyulitkan. Gejala PTSD termasuk kecemasan, sulit tidur, mimpi buruk, kurang konsentrasi, pikiran negatif dan mudah kaget.
Baca Juga: Cara Ini Bisa Lindungi Bayi dan Balita dari Virus dan Bakteri Jahat
"Orang dengan PTSD sering merasa gelisah dan waspada berlebihan yang menyebabkan lekas marah, ketidakmampuan bersantai dan masalah tidur," kata Miller.
Allie, seorang pekerja sosial di klinik dialisis rawat jalan di New York City percaya bahwa PTSD bisa ditangani dengan baik oleh seorang terapis. Tetapi, ia mengetahui bahwa PTSD selama pandemi virus corona Covid-19 adalah jenis trauma yang berbeda.
Apalagi pandemi virus corona Covid-19 menghadapkan semua orang pada ketidakpastian hidup sekarang, serangan rasis, kekurangan alat medis untuk penanganan hingga banyaknya orang meninggal.
Meskipun petugas medis memiliki risiko lebih tinggi mengalami PTSD, tapi orang yang berada di rumah aja juga rentan terhadap efek trauma ketika mengalami perubahan pada rutinitas normal, kehilangan pekerjaan hingga ketakutan bila tertular virus.
"Kekhawatiran berlebih pada kondisi kesehatan orang yang dicintainya, paparan informasi terus-menerus juga merupakan pemicu seseorang mengembangkan gejala pasca-trauma," kata Miller.
Berita Terkait
Terpopuler
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Roy Suryo Ditangkap di Bintaro Terkait Kasus Ijazah Palsu Jokowi, Sempat Diancam Borgol
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Perawatan Gigi Anak yang Nyaman, Bantu Si Kecil Tumbuh dengan Senyum Sehat dan Percaya Diri
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance