Suara.com - Para ahli menemukan, bahwa orang dengan psikosis bisa meningkatkan risiko infeksi virus corona.
Dilansir dari Insider, psikosis adalah gejala kesehatan mental di mana seseorang menjadi terputus dari kenyataan. Mereka mungkin mengalami kesulitan memahami apa yang nyata dan apa yang merupakan khayalan.
Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Schizophrenia Research.
Menurut penelitian, kolaborasi antara The University of Melbourne, La Trobe University, dan University of Warwick, salah satu efek samping dari psikosis, yang berkaitan dengan stres atau lainnya, dapat membuat orang lebih rentan terhadap infeksi.
Psikosis yang dapat membuat orang merasa terputus dari kenyataan membuat mereka lebih sulit memahami dan mengikuti panduan kesehatan seperti jarak sosial, memakai masker, atau menjaga kebiasaan kebersihan yang konsisten.
"Penelitian ini menunjukkan bahwa pemikiran mereka tentang kontaminasi dan pemahaman mereka tentang konsep-konsep seperti jarak fisik mungkin berbeda dari populasi yang lebih luas," kata Dr. Ellie Brown, peneliti di pusat kesehatan mental pemuda Orygen di Universitas of Melbourne.
Penelitian itu bisa berarti benar terutama ketika psikosis disertai dengan faktor risiko lain, seperti tunawisma atau kurangnya akses ke perawatan kesehatan medis atau mental.
Sebagai hasilnya, penelitian yang diterbitkan 6 Mei itu menyimpulkan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian untuk memahami cara terbaik dalam mendukung orang dengan psikosis dan mencegah mereka terinfeksi Covid-19.
Tingkat psikosis sendiri meningkat selama wabah virus. Studi sebelumnya tentang wabah SARS dan MERS menemukan bahwa pasien yang terkena penyakit tersebut memiliki gejala psikologis, termasuk halusinasi dan tanda-tanda psikosis lainnya.
Baca Juga: Pandemi Covid-19, Penjualan Mobil Listrik di Eropa Meningkat
Ini menunjukkan bahwa tekanan fisik dan psikologis dari infeksi virus atau ketakutan akan virus itu sendiri juga dapat meningkatkan risiko psikosis.
"Covid-19 adalah pengalaman yang sangat menegangkan bagi semua orang, terutama mereka yang memiliki kebutuhan kesehatan mental yang kompleks," kata Brown.
"Kita tahu bahwa psikosis, umumnya dipicu oleh tekanan psiko-sosial yang substansial. Dalam konteks Covid-19, ini bisa termasuk stres yang berkaitan dengan isolasi," tambahnya.
Para peneliti telah melihat kasus-kasus baru psikosis yang terkait dengan virus corona.
Brown dan rekan-rekannya meninjau studi observasional baru-baru ini dari Tiongkok yang menemukan, sejak pandemi Covid-19 pecah, insiden psikosis naik 25 persen dibandingkan dengan data tahun sebelumnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?