Suara.com - Aksi kekerasan terhadap perempuan masih sering menjadi kabar buruk di Indonesia.
Menurut catatan tahunan Komnas Perempuan tahun 2020, dalam kurun waktu 12 tahun, kekerasan terhadap perempuan meningkat sebanyak 792 persen. Artinya, kekerasan terhadap perempuan di Indonesia selama 12 tahun meningkat hampir 8 kali lipat.
Dilansir dari lamar resmi Komnas Perempuan, sepanjang tahun 2019 saja tercatat 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan.
Samuel D. Smithyman, psikolog klinis di South Carolina meneliti tentang pria yang melakukan kekerasan seksual pada perempauan.
Dilansir dari New York Times, Dr. Smithyman telah menyelesaikan 50 wawancara yang menjadi landasan tesisnya yang berjudul: Pemerkosa yang Tidak Terdeteksi.
Menurutnya, laki-laki yang malakukan kekerasan seksual tampak normal dan betapa beragamnya latar belakang mereka.
Tetapi penelitian yang lebih baru menunjukkan bahwa ada beberapa kesamaan pada pria pelaku kekerasan seksual.
Kesamaan yang paling menonjol tidak ada hubungannya dengan kategori demografis tradisional, seperti ras, kelas dan status perkawinan.
Para pria pelaku kekerasan seksual ini biasanya melakukan aksinya sejak masih muda. Mereka biasanya menyangkal bahwa mereka telah memperkosa wanita bahkan ketika mereka mengakui melakukan hubungan seks nonkonsensual.
Baca Juga: Membuat Kue Bisa Jadi Terapi Mengatasi Kecemasan
"Jika Anda tidak benar-benar memahami pelaku, Anda tidak akan pernah memahami kekerasan seksual," kata Sherry Hamby, editor jurnal Psychology of Violence.
Ini mungkin sebagian terkait dengan kecenderungan untuk menganggap kekerasan seksual sebagai masalah perempuan padahal laki-laki juga bisa menjadi korban. Dalam konteks ini, laki-laki menjadi akar masalah.
"Studi awal sangat bergantung pada pemerkosa yang dihukum. Ini memiringkan data," kata Neil Malamuth, seorang psikolog di University of California, Los Angeles, yang telah mempelajari agresi seksual selama beberapa dekade.
Sebab pria yang melakukan pelecehan seksual dan tidak dipenjara karena lolos begitu saja, sering kali adalah mereka yang merupakan spesialis pelaku kekerasan seksual.
Studi yang lebih baru cenderung mengandalkan survei anonim mahasiswa. Para peneliti mengajukan mereka mengajukan pertanyaan yang sangat spesifik kepada subyek tentang tindakan dan taktik mereka.
Fokus dari sebagian besar penelitian agresi seksual adalah perilaku seksual nonkonsensual. Dalam kuesioner dan wawancara lanjutan, subjek secara mengejutkan terbuka bahwa mereka mengabaikan persetujuan pasangan atau korban untuk melakukan tindakan seksual nonkonsensual.
Berita Terkait
Terpopuler
- Nikmati Belanja Hemat F&B dan Home Living, Potongan Harga s/d Rp1,3 Juta Rayakan HUT ke-130 BRI
- 7 Mobil Bekas Keluarga 3 Baris Rp50 Jutaan Paling Dicari, Terbaik Sepanjang Masa
- JK Kritik Keras Hilirisasi Nikel: Keuntungan Dibawa Keluar, Lingkungan Rusak!
- 5 Sepatu Running Lokal Selevel Asics Original, Kualitas Juara Harga Aman di Dompet
- 7 HP Samsung Seri A Turun Harga hingga Rp 1 Jutaan, Mana yang Paling Worth It?
Pilihan
-
5 HP RAM 6 GB Paling Murah untuk Multitasking Lancar bagi Pengguna Umum
-
Viral Atlet Indonesia Lagi Hamil 4 Bulan Tetap Bertanding di SEA Games 2025, Eh Dapat Emas
-
6 HP Snapdragon RAM 8 GB Termurah: Terbaik untuk Daily Driver Gaming dan Multitasking
-
Analisis: Taktik Jitu Andoni Iraola Obrak Abrik Jantung Pertahanan Manchester United
-
29 Unit Usaha Syariah Mau Spin Off, Ini Bocorannya
Terkini
-
Pertama di Indonesia, Operasi Ligamen Artifisial untuk Pasien Cedera Lutut
-
Inovasi Terapi Kanker Kian Maju, Deteksi Dini dan Pengobatan Personal Jadi Kunci
-
Gaya Bermain Neymar Jr Jadi Inspirasi Sepatu Bola Generasi Baru
-
Menopause dan Risiko Demensia: Perubahan Hormon yang Tak Bisa Diabaikan
-
Penelitian Ungkap Mikroplastik Memperparah Penyempitan Pembuluh Darah: Kok Bisa?
-
Lari Sambil Menjelajah Kota, JEKATE Running Series 2025 Resmi Digelar
-
Di Balik Duka Banjir Sumatera: Mengapa Popok Bayi Jadi Kebutuhan Mendesak di Pengungsian?
-
Jangan Anggap Remeh! Diare dan Nyeri Perut Bisa Jadi Tanda Awal Penyakit Kronis yang Mengancam Jiwa
-
Obat Autoimun Berbasis Plasma Tersedia di Indonesia, Hasil Kerjasama dengan Korsel
-
Produksi Makanan Siap Santap, Solusi Pangan Bernutrisi saat Darurat Bencana