Suara.com - China Diprediksi Akan Alami Gelombang Kedua Covid-19, Ini Sebabnya
China diprediksi masih akan menghadapi tantangan besar dari potensi gelombang kedua Covid-19. Otoritas kesehatan China telah memperingatkan bahwa kurangnya kekebalan tubuh masyarakat harus menjadi perhatian serius meski pengembangan vaksin virus corona terus dilakukan.
Meski jumlah kasus Covid-19 sempat mereda sejak maret 2020, Penasihat medis senior pemerintah Cina Zhong Nanshan mengatakan, sebaiknya pemerintah China jangan dulu berpuas diri.
Sebab masih ada bahaya gelombang kedua infeksi virus corona yang besar. Menurut Zhong, kelompok-kelompok baru kasus virus corona telah muncul di seluruh wilayah China dalam beberapa pekan terakhir, baik di Wuhan serta provinsi timur laut Heilongjiang dan Jilin .
"Mayoritas orang China saat ini masih rentan terhadap infeksi Covid-19, karena kurangnya kekebalan. Kami menghadapi tantangan besar, itu tidak lebih baik daripada negara-negara asing yang saya pikir saat ini," kata zhong dikutip dari CNN.
Zhong dikenal sebagai "pahlawan SARS" di China karena memerangi epidemi sindrom pernapasan akut yang parah pada tahun 2003. Kali ini, ia tengah memimpin penanganan kasus virus corona di negara itu.
Zhong sempat mengunjungi Wuhan pada 18 Januari untuk melakukan penyelidikan tentang virus corona.
Setelah kedatangannya, dia menerima banyak telepon dari dokter dan mantan mahasiswanya dan memperingatkan bahwa situasi yang terjadi saat itu jauh lebih buruk daripada yang dilaporan pihak pemerintah.
"Pemerintah setempat, mereka tidak suka mengatakan yang sebenarnya pada waktu itu. Pada awalnya mereka diam dan kemudian saya berkata mungkin kita memiliki (lebih banyak) orang yang terinfeksi," kata Zhong.
Baca Juga: Isu Daging Oplosan, Ini Cara Bedakan Daging Sapi dan Babi Agar Tak Tertipu
Namun setelah pemerintah pusat mengambil kendali atas penanganan virus corona pada akhir Januari, Zhong menolak tuduhan kalau statistik resmi China tidak dapat diandalkan.
Pernyataan Zhong membantah tuduhan Presiden AS Donald Trump yang mempertanyakan akurasi angka kematian China yang hanya berkisar 4.633 orang. Sementara angka kematian di AS akibat virus korona telah melampaui 87.000 orang.
Zhong mengatakan bahwa pemerintah China telah belajar dari epidemi SARS 17 tahun yang lalu. Kali ini, katanya, pemerintah pusat yelah memerintahkan agar semua pimpinan daerah dan departemen pemerintah harus melaporkan jumlah akurat penyakit penyakit Covid-19.
"Jika Anda tidak melakukan itu, Anda akan dihukum. Jadi sejak 23 Januari, saya pikir semua data akan benar," katanya.
Lantaran ribuan kasus virus corona masih dilaporkan dari seluruh dunia setiap harinya, para peneliti berusaha keras untuk mengembangkan vaksin.
Tiga perusahaan AS sudah menguji vaksin mereka pada manusia, menurut Organisasi Kesehatan Dunia. Mereka masih dalam uji coba fase 1 atau fase 2 yang biasanya melibatkan pemberian vaksin kepada puluhan atau ratusan subjek penelitian.
Zhong mengatakan tiga vaksin Cina sedang dalam uji klinis di negara itu. Namun kemungkinan akan masih membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa sempurna digunakan kepada manusia.
"Kita harus menguji lagi dan lagi dengan menggunakan berbagai jenis vaksin. Masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan apa pun jenis vaksin yang tersedia untuk virus corona. Itu sebabnya saya menyarankan agar persetujuan akhir dari vaksin (akan) memakan waktu lebih lama," ucap Zhong.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP dengan Baterai 7000 mAh Terbaik 2026, Anti Lowbat Seharian Cocok untuk Ojol
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- Sering Mati Listrik? Ini 4 Genset Mini 1000 Watt yang Irit dan Tidak Berisik
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
World Allergy Week 2026: Saatnya Ubah Sudut Pandang Soal Alergi Susu Sapi pada Anak
-
Festival Keluarga Kimomby 2026 Resmi Diluncurkan, Jawab Kebutuhan Orang Tua Modern
-
Dokter Ungkap Bahaya Mata Juling yang Kerap Tak Disadari Orang Tua
-
Jangan Terlalu Melarang! Psikolog Ungkap Pentingnya Anak Bermain Bebas Saat Liburan
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!