Suara.com - Studi WHO: Jaga Jarak 2 Meter Turunkan Risiko Penularan 80 Persen
Sebuah penelitian baru yang didanai Organisasi kesehatan Dunia (WHO) nampaknya akan menambah tuntutan jaga jarak alias physical distancing sejauh 2 meter harus kembali ditegakkan.
Para ilmuwan menemukan bahwa infeksi penularan Covid-19 bisa terjadi sebesar 2,6 persen, apabila jarak fisik dilakukan 1 meter dari orang yang terinfeksi Covid-19.
Ini artinya penyakit ini bisa menular kurang dari ke tiga dari 100 orang. Sementara itu 13 dari 100 orang akan terinfeksi virus jika tidak ada aturan jaga jarak sama sekali.
Penelitian ini juga mengungkap bagaimana berdiri terpisah sejauh 2 meter lebih efektif mencegah penularan, karena risiko terinfeksi hanya sebesar 1,3 persen. Langkah yang cukup efektif, meski tidak bisa melindungi penularan yang seutuhnya.
Melihat penelitian ini, akhirnya memicu para politisi dan pengusaha membuat risiko penularan menjadi kecil, sehingga bisa melonggarkan pembatasan dengan tetap menjaga jarak sejauh 2 meter akan sebanding dengan mengaktifkan kembali sektor ekonomi, seperti diwartakan Dailymail, Selasa (2/6/2020).
Di sisi lain, WHO hanya merekomendasikan menjaga jarak sejauh 1 meter. Di Prancis dan Italia misalnya yang disarankan jaga jarak hanya 1 meter, sementara itu di Jerman dan Australia telah menerapkan aturan sejauh 1,5 meter.
Penelitian ini dipublikasi di laman Lancet yang dilakukan sesuai dengan pedoman WHO, dengan meninjau data dari 172 penelitian terkait penyebaran Covid-19, SARS dan MERS.
Sehingga kesimpulannya adalah, menjaga jarak lebih dari 1 meter dengan orang lain terkait dengan risiko penularan jauh lebih rendah dibanding dengan jaga jarak kurang dari 1 meter.
Baca Juga: Pemberian Tanda Jaga Jarak di Gereja Kartasura
Penelitian ini juga menambah bukti bahwa masker harus dikenakan ditransportasi umum dan di kawasan sibuk. Ini karena dari hasil penemuan risiko tertular virus saat memakai masker hanya 3 persen, jauh lebih rendah dibanding tidak memakai masker berisiko 17 persen tertular.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Terima Ditahan KPK, Titin Rita Lestari Bongkar Peran Atasan di Kasus Suap BPK Muara Enim
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Indonesia Sudah Capek! Mahasiswa UI Serukan Demo di Bundaran HI, Tuntut Prabowo Akui Kesalahan
- 5 Lipstik Rekomendasi Fuji yang Tahan Lama, Tidak Kering dan Anti Pecah-Pecah
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun
-
Dokter Bantah Mitos Obat Kolesterol dan Diabetes Rusak Ginjal, Ini Penjelasannya
-
Anak Sering Ruam atau Diare Setelah Minum Susu? Bisa Jadi Tanda Alergi Susu Sapi
-
Metoo Hadirkan Senyum di Tengah Mobilitas Jakarta lewat Aktivasi Interaktif di CSW
-
Dorong Pola Makan Seimbang, Konsumsi Buah dan Sayur Masih Jadi Tantangan di Indonesia
-
Saat Lambung Mulai Sensitif, Ini Pilihan Makanan yang Lebih Ramah di Perut
-
Quinn Salman Selalu Sempatkan Waktu Bermain Bersama Keluarga, Ternyata Manfaatnya Bagus Banget?
-
Mobilitas Tinggi Bikin Kulit Lebih Rentan Terpapar Kuman, Kapan Perlu Antiseptik?
-
Ancaman Tak Terlihat bagi Lingkungan Perairan: Residu Antidepresan Meningkat di Sungai
-
Layanan Ortopedi Dalam Negeri Kian Dekat dengan Standar Internasional