Suara.com - Benarkah Virus Corona Covid-19 di Surabaya Berbeda dengan Jakarta?
Kasus infeksi Covid-19 di Jawa Timur melonjak drastis. Per Senin (1/6) kemarin, angka kasus Covid-19 di Jawa Timur tercatat 4.922 kasus, tertinggi kedua setelah DKI Jakarta yang memiliki 7.485 kasus.
Ada asumsi virus corona penyebab sakit Covid-19 yang menyebar di Jawa Timur khususnya Surabaya berbeda dengan virus yang ada di DKI Jakarta. Tapi apakah benar demikian?
Ketua Laboratorium Mikrobiologi FKUI Prof. Pratiwi Sudarmono tidak bisa memastikan asumsi hal tersebut. Kata Pratiwi, ini terjadi karena penelitian strain virus belum banyak dilakukan di Indonesia.
"Sayangnya kita memang tidak cukup banyak atau belum cukup banyak untuk melakukan squencing dari banyak sekali strain yang ada di Indonesia," ujar Prof. Pratiwi di Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa (2/6/2020).
Prof. Pratiwi sendiri membenarkan jika virus SARS CoV 2 yang menyebabkan sakit Covid-19 ini memang berjenis virus RNA yang artinya bisa cepat berubah. Hal yang membedakan adalah squencing atau variasi strain (susunan DNA atau RNA virus), meski nama virusnya tetap sama yaitu SARS Cov 2.
Pratiwi juga mempertanyakan apakah virus yang ada di Jakarta adalah virus yang langsung datang dari Wuhan, China atau lebih dulu transit di satu tempat kemudian strainnya berubah, baru kemudian sampai ke Indonesia.
"Kita bisa mengetahui ke mana saja virus itu sudah pergi, misalnya apakah virus itu datang dari Wuhan langsung ke Indonesia, misalnya dan tanggal berapa dia sampai, misalnya yang pertama datang kan ada lah kira-kira di pertengahan Januari itu malah sudah masuk ke Indonesia," paparnya,
Begitu juga yang terjadi di Jawa Timur atau Surabaya, apakah memiliki squencing yang berbeda dengan yang beredar di Jakarta atau tidak.
Baca Juga: Ambang Batas Parlemen dalam UU Pemilu Tak Perlu Dinaikkan
"Dikatakan ada di daerah Jawa Timur, jadi berbeda dari strain yang ada di Jakarta dan di Jawa Timur dan itu menarik. Semakin banyak virus yang nanti kita lakukan disquencing, maka kita akan semakin tahu dari mana saja virus yang ada itu datang," jelasnya.
"Misalnya yang datang ke Indonesia Timur Apakah sama dengan yang datang ke Indonesia Barat," lanjutnya lagi.
Lewat squencing ini juga, kata dia, peneliti bisa melihat berbagai perbedaan strain virus yang berbeda. Apakah virus semakin kuat saat menginfeksi, ataukah justru virus semakin lemah untuk menginfeksi manusia.
"Kemudian nanti kita klopkan dengan berbagai karakter seperti kemungkinan dia lebih virulen, mungkin nanti ya lebih ringan dan seterusnya itu bisa dipelajari," tutupnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- Prabowo Disebut Habiskan Rp5,8 Miliar untuk Hotel di Paris, Sandhy Sondoro: Asoy Geboy Gemoy
- Budget Rp2 Juta Dapat HP Samsung Apa? Ini 3 Pilihan dengan RAM 8 GB, Kamera OIS, Layar AMOLED
- Terpopuler: Lipstik Tahan Lama untuk Bibir Hitam, Sepatu New Balance Tanpa Tali untuk Jalan Jauh
- Pandji Pragiwaksono Soroti 'Pengakuan Terbuka' Prabowo Soal Keterlibatan Partai dalam Tender Negara
Pilihan
-
Jay Idzes Tercoret! Ini Daftar Pemain Timnas Indonesia Hadapi FIFA Matchday
-
Evaluasi Besar-besaran: 8.182 SPPG Pernah Ditangguhkan, 2.213 Masih Berstatus Suspend
-
Kabar Duka, Eks Menhan Jenderal Ryamizard Ryacudu Meninggal Dunia di RSPAD
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
Terkini
-
Waspada! Ini Tanda Kelebihan Vitamin B6, dari Kesemutan hingga Kerusakan Saraf
-
Fakta Kanker Payudara yang Jarang Dibahas: Harapan Baru dan Pentingnya Skrining
-
Perempuan Hadapi Dampak Lebih Besar dari Gelombang Panas Ekstrem
-
Cara Memilih Susu Formula, Ini 5 Kriteria yang Perlu Diperhatikan Orang Tua
-
Bikin Khawatir, Biaya Kesehatan Makin Mahal: Apa yang Harus Kita Lakukan?
-
Ribuan Bayi Lahir dengan Talasemia Tiap Tahun, Skrining Dini Semakin Mendesak
-
Ritme Sirkadian dan Usus Saling Terhubung, Begadang Bisa Ganggu Pencernaan
-
Teknologi PET-CT hingga CAR T-Cell Therapy Ubah Lanskap Pengobatan Kanker Modern
-
Tren Kesehatan Preventif Meningkat, Jaminan Keamanan Pasien dari Risiko Tak Terduga Jadi Perhatian
-
Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI