Suara.com - Kasus virus corona Covid-19 telah meningkat cepat di awal pandemi. Tetapi, virus corona Covid-19 ini mungkin akan semakin melemah seiring berjalannya waktu.
Seorang dokter di Italia mengklaim bahwa virus mematikan itu bisa sangat melemah dibandingkan dengan virus yang menyebar di seluruh dunia ketika awal pandemi.
Dr Alberto Zangrillo, Kepala Rumah Sakit San Raffaele Milan dilansir oleh Express, mengatakan virus ini sekarang jauh lebih mematikan di Italia.
Tapi, pasien yang baru terinfeksi menunjukkan gejala yang jauh lebih ringan dan jumlah virus dalam sistem tubuhnya yang menurun signifikan.
Sebuah teori ilmiah menunjukkan bahwa virus bisa menjadi lemah untuk bertahan hidup, karena virus telah membunuh atau melumpuhkan banyak inang manusia. Sehingga itu akan membatasi kapasitas virus menyebar.
Selama 7 hari terakhir, rata-rata jumlah kasus yang didiagnosis sebanyak 114 ribu di dunia. Bila dibandingkan dengan minggu pertama bulan Mei 2020, rata-rata jumlah kasus yang didiagnosis hanya 86 ribu.
Statistik didorong dengan cepat dengan memburuknya wabah yang terkena dampak di Amerika Selatan, India dan Rusia.
Matteo Bassetti, kepala penyakit menular di rumah sakit San Martino di kota Geneo menegaskan kembali pernyataan Dr Zangrillo. Menurutnya, kekuatan virus pada 2 bulan lalu tidak akan sama seperti sekarang.
Dr Donald Yealy, seorang peneliti di University of Pittsburgh Medical Center juga mengatakan dirinya peraya bahwa virus pasti berubah.
Baca Juga: Cegah Virus Corona, Dokter Justru Sarankan Jangan Pakai Sarung Tangan
Beberapa pola menunjukkan bahwa virus melemah. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah pasien positif virus corona Covid-19 yang berkurang dan tak ada lagi yang memakai ventilator.
"Pada kenyataannya, virus secara klinis tidak ada lagi di Italia. Kita harus kembali menjadi negara normal," kata Dr Zangrillo.
Meski begitu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah membantah bahwa virus corona Covid-19 bisa melemah.
"Dalam hal penularan, potensi virus corona tidak akan berubah. Begitu pula dalam tingkat keparahannya menginfeksi manusia," kata Maria Van Kerkhove, epidemiolog di WHO.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
- 4 AC Hemat Listrik untuk Rumah Daya Listrik 450 VA, Pilihan Terbaik agar Tidak Jeglek
Pilihan
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
Terkini
-
Sering Menatap Layar? Waspadai Miopia dan Mata Silinder yang Kini Banyak Menyerang Usia Produktif
-
El Nino dan Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko DBD, Mengapa Kita Harus Lebih Waspada?
-
Penyakit Jantung Tak Menunggu Tua: Ini Strategi Proteksi di Tengah Lonjakan Biaya Medis
-
WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global
-
Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental
-
Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh