Suara.com - Sebuah studi baru menyatakan, bahwa orang yang tidak mau mengikuti pedoman kebersihan selama pandemi mungkin memiliki sifat psikopati. Hal tersebut dilaporkan dalam studi pra-cetak peer-review yang akan diterbitkan dalam the journal Social Psychology and Personality Science.
Dilansir dari Insider, studi ini meneliti sekitar 502 orang untuk menjawab pertanyaan tentang seberapa sering mereka mengikuti pedoman kesehatan pandemi virus corona.
Pertanyaan survei termasuk apakah mereka berencana untuk mengikuti pedoman yang akan datang dan apa yang akan mereka lakukan jika mereka didiagnosis dengan Covid-19.
Para peneliti juga mengajukan pertanyaan terkait kepribadian untuk mengukur hati nurani, kerja sama, neuroticism, kecenderungan untuk mengambil risiko, kekejaman, dan kurangnya pengekangan.
Jika peserta menjawab pertanyaan dengan menunjukkan bahwa mereka menunjukkan rendahnya tingkat neurotisme, kecenderungan untuk mengambil risiko, kekejaman, dan kurangnya pengendalian diri, mereka lebih cenderung mengikuti pedoman jarak sosial.
Tetapi jika mereka mendapat nilai tinggi dalam sifat-sifat ini, mereka cenderung tidak mengikuti pedoman.
Penulis studi tersebut, Pavel Blagov mengatakan sifat-sifat ini juga merupakan sifat umum para psikopat.
"Saya tahu bahwa sifat-sifat dari apa yang disebut Triad Kegelapan (narsisme, Machiavellianisme, dan psikopati), terkait dengan perilaku berisiko kesehatan dan masalah kesehatan, saya kira mereka terlibat dalam perilaku kesehatan selama pandemi," kata Blagov.
Penelitiannya memang menunjukkan korelasi kecil antara sifat-sifat psikopat dan mengabaikan kebijakan kesehatan masyarakat selama pandemi . Nanum, kebanyakan orang-orang dalam surveinya mengaku mengabaikan pedoman kesehatan melakukannya pelanggaran dengan sengaja.
Baca Juga: Maskapai Boleh Angkut Penumpang 70 Persen, Bos Garuda: Kenapa Heboh
Blagov mengatakan mayoritas peserta survei mengatakan mereka mengikuti pedoman kesehatan pandemi. Tetapi tak jarang dari mereka juga tidak mengikuti pedoman dan menyarankan untuk melakukan pelanggaran secara sengaja.
"Salah satu implikasi potensial dari penelitian ini adalah bahwa mungkin ada minoritas orang dengan gaya kepribadian tertentu (pada spektrum narsisme dan psikopati) yang memiliki dampak yang tidak proporsional pada pandemi dengan gagal melindungi diri sendiri dan orang lain," kata Blagov.
"Tentu saja, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan," kata Blagov.
Sampel penelitian hanya berisi orang dewasa AS, sehingga temuan ini tidak mewakili kepercayaan seluruh populasi dan psikologi yang mendasari tentang praktik keselamatan pandemi secara global.
Selain itu, Blagov mengatakan studinya hanya menunjukkan korelasi kecil antara sifat-sifat kepribadian dan perilaku terkait pandemi. Ia juga menegaskan, orang-orang yang tidak memiliki kepribadian psikopati juga kemungkinan mengabaikan pedoman kesehatan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gerbang Polda DIY Dirobohkan Massa Protes Kekerasan Aparat, Demonstran Corat-coret Tembok Markas
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- Setahun Andi Sudirman-Fatmawati Pimpin Sulsel, Pengamat: Kinerja Positif dan Tata Kelola Membaik
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
Pilihan
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
-
Hujan Gol, Timnas Indonesia Futsal Putri Ditahan Malaysia 4-4 di Piala AFF Futsal 2026
Terkini
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga
-
Susu Kambing Etawa Indonesia Tembus Pameran Internasional: Etawanesia Unjuk Gigi di Expo Taiwan
-
Penanganan Penyintas Kanker Lansia Kini Fokus pada Kualitas Hidup, Bukan Sekadar Usia Panjang
-
Ini Rahasia Tubuh Tetap Bugar dan Kuat Menjalani Ramadan Optimal Tanpa Keluhan Tulang dan Sendi