Suara.com - Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menjamin program penurunan angka stunting pada anak tetap berjalan meski tengah digempur isy pandemi Covid-19.
Dikutip dari Antara, Kepala Dinas Kesehatan Sumsel Lesty Nuraini di Palembang, Senin (22/6) mengatakan pemprov tetap menargetkan penurunan angka stunting pada anak sebesar 14 persen pada 2023 meski anggaran di Dinkes telah direalokasi dan direfocussing untuk penanganan Covid-19.
"Saat ini angka stunting di Sumsel masih tinggi yakni 31 persen, atau di atas angka rata-rata nasional. Oleh karena itu kami tetap fokus untuk menurunkannya," kata Lesty saat Webinar Lindungi Anak Indonesia dari Stunting.
Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) Arif Hidayat, menambahkan penyebab stunting salah satunya adalah kurangnya pengetahuan terkait konsumsi atau asupan gizi bagi balita.
"Contohnya kebiasaan memberikan susu kental manis (SKM) pada balita padahal kandungan gula di SKM itu bisa sampai 50 persen, sangat tinggi dan ini bisa berdampak negatif pada gizi mereka," kata dia.
Bahkan, dia mengemukakan, pihaknya telah melakukan survei di tiga provinsi, yakni Aceh, Kalimantan Tengah dan Sulawesi Utara terkait kebiasaan konsumsi SKM bagi balita.
Di mana dari 2.700 responden ibu dan balita yang terlibat survei tersebut, hasilnya menunjukkan sebanyak 37 persen responden masih SKM atau krimel kental manis merupakan susu.
"Dengan kata lain 1 dari 3 ibu di provinsi itu beranggapan kental manis adalah minuman susu yang menyehatkan. Padahal produk itu adalah gula yang beraroma susu," kata dia.
Sementara itu Anggota Komisi IX DPR RI Intan Fauzi, mengatakan penurunan stunting dan penanggulangan gizi buruk tidak mencapai target secara nasional.
Baca Juga: Angka Stunting di Kabupaten Sigi Masih Tinggi
"Dampak refocussing anggaran Covid-19 sehingga dapat membuat berkurangnya dana untuk penanganan stunting," katanya.
Menurut dia, Komisi IX telah menyetujui alokasi anggaran senilai Rp360 miliar untuk penguatan intervensi paket gizi, serta alokasi dana transfer daerah untuk penanganan stunting yang mencapai Rp92,5 miliar.
Adapun alokasi anggaran untuk penanganan kesehatan tahun ini tercatat sebanyak Rp132,2 triliun. Angka itu naik dari alokasi anggaran tahun lalu yang senilai Rp123,1 triliun.
Berita Terkait
Terpopuler
- DPR akan Panggil Kajari Batam Buntut Tuntutan Mati ABK Pembawa 2 Ton Sabu, Ada Apa?
- Mahasiswi Tergeletak Bersimbah Darah Dibacok Mahasiswa di UIN Suska Riau
- 6 Fakta Mencekam Pembacokan di UIN Suska Riau: Pelaku Sempat Sandera Korban di Ruang Seminar
- Viral Bocah Beragama Kristen Ikut Salat Tarawih 3 Hari Berurut-turut, Celetukannya Bikin Ngakak
- Habiburokhman Ngamuk di DPR, Perwakilan Pengembang Klaster Vasana Diusir Paksa Saat Rapat di Senayan
Pilihan
-
Update Kuota PINTAR BI Wilayah Jawa dan Luar Jawa untuk Penukaran Uang
-
Jenazah Alex Noerdin Disalatkan di Masjid Agung Palembang, Ini Suasana Lengkapnya
-
John Tobing Sang Maestro 'Darah Juang' Berpulang, Ini Kisah di Balik Himne Reformasi
-
Pencipta Lagu 'Darah Juang' John Tobing Meninggal Dunia di RSA UGM
-
Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Terkini
-
Lonjakan Kasus Kanker Global, Pencegahan dengan Bahan Alami Kian Dilirik
-
Cara Memilih dan Memakaikan Popok Dewasa untuk Cegah Iritasi pada Lansia
-
5 Fakta Keracunan MBG Cimahi: Pengelola Minta Maaf, Menu Ini Diduga Jadi Penyebab
-
4 Penjelasan Sains Puasa Membantu Tubuh Lebih Sehat: Autofagi, Insulin dan Kecerdasan
-
Mendampingi Anak Gamer: Antara Batasan, Keamanan, dan Literasi Digital
-
Selamat Tinggal Ruam! Rahasia Si Kecil Bebas Bergerak dan Mengeksplorasi Tanpa Batasan Kenyamanan
-
Tantangan Penanganan Kanker di Indonesia: Edukasi, Akses, dan Deteksi Dini
-
Virus Nipah Mengintai: Mengapa Kita Harus Waspada Meski Belum Ada Kasus di Indonesia?
-
Transformasi Layanan Kesehatan Bawa Semarang jadi Kota Paling Berkelanjutan Ketiga se-Indonesia
-
Membangun Kebiasaan Sehat: Pentingnya Periksa Gigi Rutin bagi Seluruh Anggota Keluarga