Suara.com - Sebuah laporan baru menunjukkan bahwa kesehatan mental para penyintas Covid-19 lebih buruk daripada para penyintas SARS. Laporan tersebut dirilis di sebuah forum di Guangzhou, Provinsi Guangdong China Selatan pada Sabtu (27/6/2020).
Dilansir dari Global Times, laporan tersebut mencakup 50.000 sampel dan dilakukan oleh Akademi Ilmu Pengetahuan dan Rumah Sakit China di Beijing.
Laporan tersebut mengungkapkan bahwa orang yang selamat dari Covid-19 menunjukkan masalah kesehatan mental yang menonjol. 31,6 persen dari mereka yang disurvei menunjukkan gejala kecemasan, 27,9 persen orang mengalami depresi, sementara 29,2 persen, dan stres akut 24,4 persen.
Laporan tersebut juga menunjukkan bahwa staf medis, terutama perawat mengaami kecemasan tertinggi, setidaknya sekitar 46 persen di antara staf medis.
Selain itu, pekerja garis depan dan keluarga mereka, serta orang-orang berpenghasilan rendah di masyarakat juga rentan terhadap masalah kesehatan mental yang mencerminkan bahwa epidemi telah memengaruhi kesehatan mental masyarakat umum.
Perlu dicatat bahwa dibandingkan dengan korban SARS, kesehatan mental pasien Covid-19 tampaknya lebih serius. Investigasi menunjukkan bahwa insiden depresi, kecemasan, insomnia, dan stres akut pada kasus Covid-19 masing-masing mencapai 75 persen, 71 persen, 68 persen, dan 71 persen.
Sementara gangguan stres pascatrauma (PTSD), kecemasan dan depresi di antara pasien SARS yang selamat masing-masing adalah 41,7 persen, 17,5 persen, dan 11,1 persen.
"Korban Covid-19 tidak hanya menderita rasa sakit fisik, tetapi juga menanggung rasa takut akan kematian yang tidak diketahui dan cenderung memiliki perasaan negatif," kata laporan itu.
Peng Kaiping, dekan Fakultas Ilmu Sosial dan direktur Departemen Psikologi di Universitas Tsinghua, mengatakan kepada Global Times pada hari Senin (29/6/2020) bahwa laporan ilmiah telah menunjukkan bahwa rasa sakit fisik yang diderita pasien dapat terus memburuk hingga tiga bulan setelah infeksi.
Baca Juga: Waspada, Kecemasan dan Tekanan Darah Tinggi Saling Berhubungan
"Reaksi stres orang-orang seperti depresi, PTSD, dan kecemasan membutuhkan periode waktu untuk muncul dan yang paling penting bagi mereka adalah memiliki kesadaran dan pengetahuan ketika menghadapi masalah ini," kata Peng.
Dia menyarankan pikiran positif (refleksi diri dan berbicara dengan seseorang), emosi (perasaan syukur) dan motivasi dapat membantu pasien pulih.
Berita Terkait
Terpopuler
- 9 Sepatu Puma yang Diskon di Sports Station, Harga Mulai Rp300 Ribuan
- 9 HP Redmi RAM 8 GB Harga Rp1 Jutaan, Lancar Jaya Dipakai Multitasking
- Semurah Xpander Sekencang Pajero, Huawei-Wuling Rilis SUV Hybrid 'Huajing S'
- 5 Sepatu New Balance yang Diskon 50% di Foot Locker Sambut Akhir Tahun
- 5 Lem Sepatu Kuat Mulai Rp 3 Ribuan: Terbaik untuk Sneakers dan Bahan Kulit
Pilihan
-
Omon-omon Purbaya di BEI: IHSG Sentuh 10.000 Tahun Ini Bukan Mustahil!
-
Wajah Suram Kripto Awal 2026: Bitcoin Terjebak di Bawah $100.000 Akibat Aksi Jual Masif
-
Tahun Baru, Tarif Baru: Tol Bandara Soekarno-Hatta Naik Mulai 5 Januari 2026
-
Kutukan Pelatih Italia di Chelsea: Enzo Maresca Jadi Korban Ketujuh
-
4 HP Memori Jumbo Paling Murah dengan RAM 12 GB untuk Gaming Lancar
Terkini
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya
-
Lebih dari Separuh Anak Terdampak Gempa Poso Alami Kecemasan, Ini Pentingnya Dukungan Psikososial
-
Pakar Ungkap Cara Memilih Popok Bayi yang Sesuai dengan Fase Pertumbuhannya
-
Waspada Super Flu Subclade K, Siapa Kelompok Paling Rentan? Ini Kata Ahli
-
Asam Urat Bisa Datang Diam-Diam, Ini Manfaat Susu Kambing Etawa untuk Pencegahan
-
Kesehatan Gigi Keluarga, Investasi Kecil dengan Dampak Besar
-
Fakta Super Flu, Dipicu Virus Influenza A H3N2 'Meledak' Jangkit Jutaan Orang
-
Gigi Goyang Saat Dewasa? Waspada! Ini Bukan Sekadar Tanda Biasa, Tapi Peringatan Serius dari Tubuh
-
Bali Menguat sebagai Pusat Wellness Asia, Standar Global Kesehatan Kian Jadi Kebutuhan