Suara.com - Dampak pandemi covid-19 di sektor kesehatan bukan hanya pada angka pasien dan jumlah kematian. Sejumlah laporan juga menyebut adanya risiko kurang gizi, terutama pada balita karena pandemi.
Mencari tahu seberapa besar dampak pandemi pada pertumbuhan bayi dan balita, Kemenkes RI akan melakukan riset terhadap pertumbuhan gizi balita dilihat dengan status gizi yang mereka alami.
"Litbangkes Kemenkes tahun 2019, akan melakukan studi status gizi balita pada masa pandemi Covid-19, untuk mempelajari perilaku pemberian ASI, MPASI, pola makan pada rumah tangga, penyakit infeski dan akses pelayanan kesehatan," ujar Kepala Puslitbang Pusat Upaya Kesehatan Masyarakat Kemenkes Doddy Iswardi, MA dalam diskusi di Webinar AJI Indonesia, Selasa (30/6/2020).
Langkah ini perlu dilakukan, agar ke depan saat pandemi atau setelah usai, pemerintah memiliki gambaran tindakan atau intervensi yang perlu dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan anak-anak.
"Supaya kita mengetahui baseline data supaya dengan intervensi yang tepat kapan berakhirnya pandemi," jelasnya.
Berdasarkan kerangka konsep yang diberikan, Kemenkes bakal melakukan metode antropometri berdasarkan berat badan, tinggi badan, dan LiLA (pengukur gizi tubuh). Nantinya bisa terlihat apakah anak masuk kategori stunting, berat badan kurang atau gizi buruk.
Kemenkes juga bakal melihat adakah pola perilaku pemberian ASI, MPASI, dan pola makan yang berubah yang didapatkan anak selama pandemi.
Tidak hanya itu, faktor akses pendidikan, status ekonomi keluarga, sanitasi akses air bersih, dan perumahan juga akan dilihat.
Ditambah dengan sulit tidaknya masyarakat mengakses fasilitas kesehatan di puskesmas untuk mendapatkan imunisasi, pemantauan tumbuh kembang anak, hingga mendapat konseling gizi. Seluruhnya ditargetkan usai pada Februari 2021 mendatang.
Baca Juga: Cegah Anak dan Ibu Hamil Kurang Gizi Saat Pandemi, Ini Rekomendasi PBB
"Februari mudah-mudahan bisa dilakukan dengan izin-izin dari lintas semua kepentingan, program ini sampai ke puskesmas ataupun di rumah tangga," tutupnya.
Tag
Berita Terkait
-
Trauma Mengintai Korban Bencana Sumatra, Menkes Kerahkan Psikolog Klinis
-
Kemenkes Minta Rp500 Miliar untuk Perbaikan Fasyankes dan Alat Medis Rusak Akibat Banjir Sumatra
-
Waspada Gejala Superflu di Indonesia, Benarkah Lebih Berbahaya dari COVID-19?
-
Gigitan Ular Jadi Ancaman Nyata di Baduy, Kemenkes Akui Antibisa Masih Terbatas
-
Ancaman Bencana Kedua Sumatra: Saat Wabah Penyakit Mengintai di Tenda Pengungsian
Terpopuler
- 4 HP RAM 8 GB Harga di Bawah Rp1,5 Juta: Kamera Bagus, Performa Juara
- 28 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 10 Januari 2026, Ada 15.000 Gems dan Pemain 111-115
- Link Gratis Baca Buku Broken Strings, Memoar Pilu Aurelie Moeremans yang Viral
- 4 Mobil Bekas Rp50 Jutaan yang Ideal untuk Harian: Irit, Gesit Pas di Gang Sempit
- 5 Cat Rambut untuk Menutupi Uban: Hasil Natural, Penampilan Lebih Muda
Pilihan
-
Klaim "Anti Banjir" PIK2 Jebol, Saham PANI Milik Aguan Langsung Anjlok Hampir 6 Persen
-
Profil Beckham Putra, King Etam Perobek Gawang Persija di Stadion GBLA
-
4 HP Snapdragon RAM 8 GB Paling Murah untuk Gaming, Harga Mulai Rp2 Jutaan
-
Rupiah Terancam Tembus Rp17.000
-
QRIS Jadi 'Alat Bantu' Judi Online: Mengapa Sistem Pembayaran BI Ini Rentan Disalahgunakan?
Terkini
-
Apa Beda Super Flu dengan Flu Biasa? Penyakitnya Sudah Ada di Indonesia
-
5 Obat Sakit Lutut Terbaik untuk Usia di Atas 50 Tahun, Harga Mulai Rp 13 Ribu
-
Kalimantan Utara Mulai Vaksinasi Dengue Massal, Kenapa Anak Jadi Sasaran Utama?
-
Kesehatan Anak Dimulai Sejak Dini: Gizi, Anemia, dan Masalah Pencernaan Tak Boleh Diabaikan
-
Krisis Senyap Pascabencana: Ribuan Pasien Diabetes di Aceh dan Sumut Terancam Kehilangan Insulin
-
Fakta Super Flu Ditemukan di Indonesia, Apa Bedanya dengan Flu Biasa?
-
Soroti Isu Perempuan hingga Diskriminasi, IHDC buat Kajian Soroti Partisipasi Kesehatan Indonesia
-
Mengapa Layanan Wellness dan Preventif Jadi Kunci Hidup Sehat di 2026
-
Ancaman Kuman dari Botol Susu dan Peralatan Makan Bayi yang Sering Diabaikan
-
Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya