- Kemenkes berencana masif memasang alat kesehatan modern di 514 kabupaten/kota hingga akhir 2027.
- Pemerintah mengoptimalkan Program Pendidikan Dokter Spesialis berbasis rumah sakit untuk pemerataan tenaga medis.
- Rekrutmen PPDS diprioritaskan bagi putra daerah yang dibutuhkan rumah sakit sesuai kebutuhan layanan spesialis.
Suara.com - Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan Indonesia masih kekurangan puluhan ribu dokter spesialis, terutama di daerah yang jauh dari kota besar. Untuk mengatasi ketimpangan layanan kesehatan tersebut, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyiapkan langkah besar dengan memasang alat kesehatan modern secara masif di seluruh Indonesia.
Mulai tahun ini, Kemenkes akan secara agresif memasang berbagai alat kesehatan modern di seluruh kabupaten/kota, baik di Pulau Jawa maupun luar Jawa, baik yang dekat maupun jauh dari pusat kota.
Budi menargetkan hingga akhir 2027, ratusan alat kesehatan seperti CT Scan, mammografi, cath lab, cytotoxic drug cabinet untuk fasilitas kemoterapi, hingga immunohistochemistry lab untuk patologi anatomi akan terpasang di 514 kabupaten/kota.
Selain itu, pemerintah juga akan memasang puluhan MRI, LINAC, SPECT-CT, brachytherapy, dan PET Scan di seluruh provinsi di Indonesia.
Tak hanya itu, Kemenkes juga memutuskan untuk memasang alat endoskopi laparoskopi di seluruh kabupaten/kota. Dengan alat tersebut, dokter bedah dapat melakukan operasi seperti hernia, usus buntu, maupun pengangkatan empedu tanpa operasi terbuka.
“Kita ingin semua dokter bedah bisa melakukan bedah yang paling banyak dilakukan, seperti hernia, usus buntu, atau empedu. Tidak usah bedah terbuka, cukup dengan laparoskopi,” kata Budi saat sambutan dalam acara pelepasan mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Kantor Kemenkes, Jakarta, Rabu (25/2/2026).
Namun, menurut Budi, persoalan utama bukan hanya alat, melainkan jumlah dan distribusi dokter spesialis.
“Kekurangannya cuma satu, adalah jumlah dokter dan terutama distribusi,” tegasnya.
Karena itu, Kemenkes mengoptimalkan PPDS berbasis rumah sakit atau hospital-based sebagai solusi pemerataan tenaga medis.
Baca Juga: Menkes Budi: Iuran BPJS Naik 2026 Tidak Lebih Mahal dari Beli Rokok, Warga Miskin Aman
Berbeda dari sistem sebelumnya, rekrutmen dalam program ini dilakukan berdasarkan kebutuhan daerah. Dokter yang dipilih adalah mereka yang bekerja di rumah sakit dengan kebutuhan layanan spesialistik tinggi, serta merupakan putra-putri asli daerah.
“Yang direkrut bukan yang mampu, bukan yang orang tuanya terkenal, bukan dari golongan tertentu. Tapi dokter yang berasal dari rumah sakit yang memang banyak pasiennya membutuhkan layanan spesialistik tersebut,” jelas Budi.
Ia menegaskan, siapa pun latar belakang suku, agama, maupun status sosialnya, selama merupakan putra-putri daerah dan dibutuhkan rumah sakit setempat, akan diprioritaskan dalam program tersebut.
Skema ini diharapkan menjadi cara paling efektif untuk memastikan dokter spesialis yang dididik benar-benar kembali dan mengabdi di daerah yang membutuhkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pemerintah Tutup Ruang Pembentukan Provinsi Luwu Raya, Kemendagri: Ikuti Moratorium!
- Warga Sambeng Borobudur Pasang 200 Spanduk, Menolak Penambangan Tanah Urug
- Arya Iwantoro Anak Siapa? Ternyata Ayahnya Eks Sekjen Kementan yang Pernah Diperiksa KPK!
- Usut Kematian Nizam Syafei yang Disiksa Ibu Tiri, Video di Ponsel Korban akan Diperiksa
- 7 Skema Suami Dwi Sasetyaningtyas Kembalikan Dana Beasiswa LPDP
Pilihan
-
Sadis! Pria di Bantul Tewas Ditebas Parang di Depan Anak Istri Saat Tertidur
-
Minta Restu Jokowi, Mantan Bupati Indramayu Nina Agustina Bachtiar Gabung PSI
-
Sumsel Berduka, Mantan Gubernur Alex Noerdin Meninggal Dunia
-
Debut Berujung Duka, Pemain Senegal Meninggal Dunia Usai Kolaps di Lapangan
-
Di Tengah Jalan Raya, Massa Polda DIY Gelar Salat Gaib Massal untuk Korban Represi Aparat
Terkini
-
Kasus Korupsi Eks Dirjen Kominfo Semuel Abrijani: Apa Alasan Jaksa Menunda Pembacaan Tuntutan?
-
Sadis! Pria di Bantul Tewas Ditebas Parang di Depan Anak Istri Saat Tertidur
-
Mahfud MD Geram Pernyataan Dwi Sasetyaningtyas Soal Anak WNA, Setuju Sanksi Cabut Beasiswa
-
Jaksa Tetap Tuntut Marcella Santoso 17 Tahun Penjara Terkait Kasus Suap Minyak Goreng
-
Menkes Akui Pendidikan Dokter Spesialis di Indonesia Super Mahal, Sebut di Luar Negeri Justru Digaji
-
Kerusuhan Meksiko Disorot, Pemerintah Diminta Lindungi WNI dan Waspadai Ancaman Narkoba ke Indonesia
-
BEM se-DIY Gelar Aksi Damai di Malioboro, 400 Personel Polisi Siaga Humanis
-
DPR Sebut Tragedi di Kawasan IMIP Alarm Nasional, Desak Evaluasi Total Tata Kelola Lingkungan
-
Desakan Tarik Brimob dari Pengamanan Sipil Menguat, Polri: Ini Ulah Individu, Bukan Struktural
-
Karier Alex Noerdin: Dari Anak Tentara Hingga Gubernur Sumsel