Suara.com - Virus corona Covid-19 dapat hidup berhari-hari di kulit binatang. Hal tersebut dinyatakan oleh para peneliti dari laboratorium bioweapons militer AS terbesar di Fort Detrick, Maryland
Dilansir dari South China Morning Post (SCMP), studi tersebut telah diterbitkan dalam situs pracetak medRxiv.org pada hari Jumat (3/7/2020).
Mereka menemukan bahwa dari sampel, virus dapat bertahan paling lama di suhu kamar ada pada kulit babi, yakni hingga empat hari. Selain itu, virus tetap stabil pada kulit dalam suhu dingin selama percobaan dua minggu.
Para peneliti dari Institut Penelitian Penyakit Menular Angkatan Darat Amerika Serikat mengatakan mereka khawatir daging dapat membantu penyebaran virus corona.
"Tanpa pengujian ekstensif dan program pelacakan kontrak, transmisi di sekitar pabrik pengemasan daging kemungkinan akan terus menjadi masalah," kata tim yang dipimpin oleh David Harbourt dari divisi keamanan hayati di pangkalan itu.
Studi AS mengikuti wabah mengejutkan virus corona di Beijing bulan lalu. Sebagian besar dari 300 lebih kasus Covid-19, terkait dengan pasar makanan yang menjual produk daging dan sayuran dari dalam dan luar negeri.
Harbourt dan rekan-rekannya meletakkan Sars-CoV-2 (virus corona penyabab Covid-19) pada kulit babi dan menyimpan sampel pada 4 derajat Celcius (39,2 derajat Fahrenheit), suhu daging babi biasanya disimpan dalam pengepakan daging dan pabrik pengolahan.
Strain virus memiliki rata-rata paruh waktu hampir 47 jam untuk mematikan setengah dari patogen. Strain yang layak tetap dapat dideteksi selama dua minggu dalam kondisi dingin.
"Sangat mungkin bahwa pelepasan virus dari pekerja (pengolah daging) baik yang bergejala atau tidak bergejala tanpa alat pelindung diri yang sesuai akan menular di permukaan produk daging atau permukaan lainnya," kata para peneliti.
Baca Juga: Waduh! Pedagang Pasar Sumur Batu Pada 'Kabur' Mau Dites Virus Corona Massal
"Bahkan dengan pembersihan yang ekstensif, penularan masih dapat terjadi dengan adanya pekerja tanpa gejala dan tidak terdiagnosis karena peningkatan stabilitas virus dan viral load yang tinggi," imbuhannya.
Tim Fort Detrick menemukan bahwa virus itu mati lebih cepat ketika suhu naik. Sampel kulit babi tetap positif selama empat hari pada suhu kamar (22 derajat Celcius) dan hanya delapan jam di musim panas (37 derajat Celcius).
"Kulit babi menyerupai kulit manusia dan efek pada keduanya kemungkinan akan serupa," catat para peneliti.
Berita Terkait
Terpopuler
- Pompa Air Paling Bagus dan Awet Merk Apa? Ini 4 Pilihan Terbaik Versi Review Pengguna
- Ciri-Ciri Sepatu Berbahan Kulit Babi, Kenali sebelum Membeli
- Istana Diminta Istirahatkan Qodari atau Demo Mahasiswa Bisa Makin Besar
- 5 HP Murah Terbaru Penyimpanan Lega Juni 2026: Memori 256 GB, Baterai 8.100 mAh
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
Pilihan
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
Terkini
-
Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens
-
Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?
-
Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak
-
Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh
-
Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi
-
Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat
-
Tren Sport Nutrition, Ini Peran Asupan Energi dalam Olahraga Endurance
-
Notarace 2026 Siap Digelar, Ajang Lari yang Padukan Olahraga dan Wawasan Hukum
-
Rekomendasi Dokter Richard, Ini Solusi Praktis Redakan Wasir dengan Cara Alami
-
Kolesterol Tinggi Sering Tanpa Gejala, Dokter Ingatkan Pentingnya Deteksi Dini sejak Usia 20 Tahun